Kamis, 15 November 2012

Obama Menang, 20 Negara Bagian AS Tuntut Merdeka


Oleh Srie
Ternyata, bukan hanya terjadi di Indonesia. Kecewa karena calon pimpinannya kalah dalam pemilihan, para pendukungnya menuntut pemisahan diri.  Ini benar-benar terjadi di negeri yang mengkalim diri sebagai jawara demokrasi, bernama Amerika Serikat!
Belum genap seminggu kemenangan Barack Obama sebagai presiden AS untuk kedua kalinya dalam Pilpres 7 Nopember lalu, kini ribuan warga di 20 negara bagian di AS mengajukan petisi untuk memisahkan diri alias menuntut merdeka.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Selasa (13/11), puluhan ribu warga Amerika telah mencantumkan namanya dalam sebuah surat permohonan yang diajukan melalui situs resmi pemerintah We The People yang dikelola oleh Gedung Putih.
Sementara itu, BBC melaporkan, hingga kemarin, sudah  lebih dari 100 ribu warga AS  mengirim petisi ke Gedung Putih. Mereka meminta negara bagian tempat tinggalnya saat ini untuk memisahkan diri atau merdeka dari AS.
Tercatat, telah ada 20 petisi yang berasal dari 20 negara bagian, yakni Texas, Alabama, Arkansas, Colorado, Florida, Indiana, Kentucky, Louisiana, Michigan, Mississippi, Missouri, Montana, New Jersey, New York, North Carolina, North Dakota, Oregon, South Carolina, Tennessee, dan Georgia.
Dari 20 negara bagian itu, Texas tercatat sebagai penyumbang terbanyak dalam jumlah tandatangan, yaitu sekitar 25.000 warga. Total tandatangan diperkirakan telah melampaui batas minimal untuk ditindaklanjuti dan memperoleh tanggapan serius dari pihak Gedung Putih. Hingga saat ini (13/11), belum ada pernyataan resmi dari Obama atau staf  kepresidenan.
Konstitusi AS memang menjamin hak warga negara untuk mengajukan petisi yang terdapat dalam amandemen pertama konstitusi. Syarat yang harus dipenuhi petisi adalah sekurang-kurangnya ditandatangani oleh 25.000 orang.
Meski begitu, Konstitusi AS  tidak mengatur mengenai ketentuan negara bagian untuk memisahkan diri. Para penandatangan petisi mengutip bagian pembukaan (preambule) dari proklamasi kemerdekaan AS (dari Inggris) yang dijadikan dasar pula untuk “menghentikan hubungan politik” atau membentuk negara baru.
Sejumlah alasan yang melatarmelakangi petisi disebutkan oleh warga, antara lain telah terjadinya pelanggaran secara terang-terangan atas hak-hak warga AS, seperti terjadi di negara bagian Texas. Warga di negara bagian lain menyebutkan, adanya perlakuan otoritas kemanan transportasi yang dianggap tidak menyenangkan, dimana para pegawainya melakukan pemeriksaan di bandara-bandara yang dirasakan telah mengganggu warga.
Meski demikian, pemicu utamanya diduga terkait dengan kekalahan Capres asal Partai Republik yang memiliki basis dukungan di negara-negara bagian tersebut. Pada pemilihan presiden AS pekan lalu, Mit Romney kalah dari Barack Obama dengan perbandingan suara elektoral 332 : 206 suara elektoral.
Sebagian besar dari mereka yang mengajukan petisi adalah warga yang memilih Capres dari Partai Republik itu. Dari 20 negara bagian yang mengajukan petisi, tercatat 18 negara bagian penyokong utama suara Republik, sedangkan sisanya pendukung Demokrat. Hasil pemilihan di negara bagian Texas mencatat keunggulan Romney atas Obama sebanyak 15 persen.
Dalam sejarah AS, upaya pemisahan diri sejumlah negara bagian pernah dilakukan pada tahun 1800-an yang memicu perang saudara dan menelan banyak korban jiwa. Nah, apakah pengajuan petisi kali ini akan mengulang kembali sejarah perang saudara di sana?
Selama ini AS sering terlibat dalam pergolakan negara-negara lain (termasuk Indonesia) hingga menimbulkan perpecahan, perang saudara, hingga ada yang memunculkan negara-negara baru. Kini, kita akan menyaksikan bagaimana negara adidaya itu mengatasi pergolakan dalam negerinya sendiri yang menuntut kemerdekaan. Salam persahabatan. *** [By Srie]







1 komentar:

  1. Makin habis sudah stock ikon dan figur kebaikan yang unik-unik yang diberi kesempatan mengelola kekuasaan, ternyata mereka tidak gunakan dengan baik, seperti yang dikhayalkan orang tentangnya.
    Figur fenomenal kuliat hitam Obama, dengan semua prestasi yang dibayangkan banyak orang terhadapnya, kayak jauh panggang dari api.
    Tidak sadar kita sudah selesai dari masa kesempatannya yang pertama tanpa menyuguhkan prestasi yang sudah terlanjur dikhayalkan warga sejagat.
    Saya kira itu yang membuat banyak dari warga Amerika Serikat sudah berpikir lain dari pada terus berharap pada kesempatan Obama untuk yang ke dua kali, yang tidak jelas seperti apa ke depan. Apalagi sudah tidak memiliki target, berbuat karena motivasi untuk kesempatan berkuasa yang ketiga kali.
    Demikianlah yang terjadi di kita. Terlalu berharap dari sosok dan figur yang baik, kelihatan baik,dan berharap semoga dia dalam keadaan yang baik-baik, membaik-baiki kita.
    Benarnya yang kita butuhkan adalah pemilihan sistem, mau milih sistem yang buruk atau yang baik.
    Kalu sistem yang baik kita pilih, kita tidak perlu harap-harap cemas begini dengan siapa yang bakal tepilih dalam setiap pilcaleg/pilcaleks. Bila orang yang buruk terpilih, dia akan dikendalikan menjadi baik oleh sistem yang baik tadi. Kalau orang baik yang terpilih, maka kita berharap dia akan mempertangguh sistem yang sudah baik itu untuk menghadapi calon berikutnya sepeninggal dia nanti.
    Nah, bagaimana kalau kita ternyata cuma memilih sistem yang buruk? Moga itu tidak kejadian.
    Karena dalam kondisi dan sifat yang memburuk, ternyata orang-orang kita masih berharap hanya cara dan orang yang baik yang mereka pilih untuk memperbaiki mereka.
    Contohnya? Lihat tuh pimpinan KPK yang mereka (DPR) pilih, orang yang terbaik kan, biar pun setelah itu mereka juga yang bakal nanti di'perbaiki' dari kesempatanya yang buruk (korup)

    BalasHapus