Sabtu, 01 Desember 2012

Yohanes Surya: IPA SD Dihapus = Pembodohan Nasional

Yohanes Surya

JAKARTA, KOMPAS.com  Perombakan kurikulum menimbulkan perubahan besar-besaran terhadap kurikulum tingkat sekolah dasar (SD). Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bakal dihapus dan materinya akan diintegrasikan dengan mata pelajaran pokok, seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Penghapusan mata pelajaran IPA mendapat tentangan keras dari pendiri Surya Institute, Yohanes Surya. Menurut Yohanes Surya, IPA harus sudah diajarkan sejak SD sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri.
“IPA itu harus diajarkan sejak SD dan dipisahkan sebagai mata pelajaran, jangan digabung dengan Bahasa Indonesia. Kala digabung, indikatornya juga jadi indikator bahasa kan? Misalnya, belajar listrik. Karena indikatornya bahasa kan maka jadinya membikin puisi listrik. Enggak nyambung,” tuturnya kepada Kompas.com, Rabu (28/11/2012).
Yohanes Surya menyesal karena penghapusan mata pelajaran IPA justru dilakukan di tengah upaya memopulerkan sains kepada para siswa di seantero Indonesia. Rencana pemerintah ini dinilai hanya akan membuat pendidikan Indonesia makin terpuruk.
“Kita lihat masalah utamanya adalah IPA diintegrasikan sama Bahasa Indonesia, lalu ketika diintegrasikan, ada sekitar 60-70 persen materi IPA yang dipangkas. Ini yang bahaya. Sekarang kita mau gencar-gencarnya promosi sains, pemerintah malah memangkas sains. Sistem pendidikan kita sekarang berada di paling bawah, lalu IPA dipotong 70 persen, makin kacau kan. Bayangkan, Indonesia akan jadi apa kalau 70 persen materi IPA akan dipangkas. Kita mau jadi apa?” ungkapnya.
Walau demikian, Yohanes Surya tak menampik bahwa memang memang ada masalah dalam penyampaian IPA dari guru siswa sehingga mata pelajaran ini dianggap memberatkan anak-anak usia SD. IPA dianggap sebagai momok bagi anak-anak karena tidak diajarkan dengan menarik.
Menurut Yohanes Surya, jika IPA diajarkan dengan asyik dan menyenangkan, IPA tentu tidak akan menjadi beban bagi anak-anak. Oleh karena itu, solusi yang ditemukan bukanlah penghapusan mata pelajaran ini.
“Saya menentang habis-habisan pengintegrasian ini. Saya akan terus menentang sampai pemerintah bosan juga mendengarnya,” katanya.
“Kan sayang kalau Indonesia terjadi pembodohan secara nasional,” tandasnya kemudian.
Editor :
Caroline Damanik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar