Minggu, 23 Desember 2012

Akhirnya, Mapel IPA-IPS SD Tidak Dilebur?


Srie, - Kekhawatiran sebagian guru dan masyarakat mengenai kemungkinan peleburan mata pelajaran (mapel) IPA dan IPS di tingkat SD agak bisa ditahan. 
Pasalnya, Mendikbud, Mohammad Nuh, kini agak condong pada alternatif masih di adakannya kedua mapel tersebut berdiri sendiri.
Mendikbud mengatakan, hingga saat ini masih terdapat dua alternatif mengenai hal tersebut.
Keduanya menyangkut usulan mengenai pemisahan mapel IPA dan IPS. Perbedaannya terletak pada kapan dimulainya kedua mapel itu diajarkan di sekolah.
Usulan pertama, mapel IPA dan IPS diajarkan mulai kelas IV sampai dengan kelas VI SD. Sementara usulan kedua, kedua mapel ini diterapkan mulai kelas V sampai dengan kelas VI.
"Kelas I-III tidak ada IPA dan IPS, tetapi substansinya tetap diajarkan. Modelnya tematik integratif," jelas Mendikbud, Jum’at (21/12), sebagaimana dikutip di sini.
Sebelumnya, Mendikbud sempat dikesankan terlalu ngotot untuk menghapus mapel IPA dan IPS SD. Alternatifnya, substansi dari kedua mapel ini akan diintegrasikan ke dalam mapel lainnya, seperti mapel Bahasa Indonesia dan PPKN dengan pendekatan tematik integratif.
"Peleburan mata pelajaran IPA-IPS tidak akan mengurangi subtansi pengetahuan karena tetap diajarkan yang diintegrasikan dengan tema-tema," kata Mohammad Nuh. [Baca: Mendikbud: Peleburan IPA-IPS Tidak KurangiSubstansi Pengetahuan]. 
Namun, gagasan peleburan IPA dan IPS ini ternyata banyak ditentang oleh banyak pihak, baik dari kalangan guru sendiri, dosen atau kalangan masyarakat lainnya. Peleburan IPA dan IPS dianggap sebagai bikin masalah baru yang bisa jadi lebih ruwet. [Baca: MapelIPA-IPS Dilebur? Bakal Bikin Ruwet!] 
Penggabungan mapel IPA ke dalam Bahasa Indonesia, juga sempat dipertanyakan oleh dosen ITB terkait pendekatan dan penilaian yang dilakukan atas kedua pengetahuan yang dianggapnya berbeda.
Bahkan, praktisi pendidikan, Yohanes Surya bersuara lebih keras lagi, dengan secara terang-terangan menentang gagasan peleburan tersebut. Dikatakannya, penghapusan IPA di tingkat SD sama saja dengan pemdodohan nasional.
“Saya menentang habis-habisan pengintegrasian ini. Saya akan terus menentang sampai pemerintah bosan juga mendengarnya… Kan sayang kalau Indonesia terjadi pembodohan secara nasional,” ujar Surya. [Baca: IPA SD Dihapus = Pemdodohan Nasional].
Selain masalah peleburan IPA-IPS, alternatif lain yang masih tersedia adalah menyangkut opsi penerapan kurikulum baru. Yakni, opsi pertama kurikulum baru diterapkan pada beberapa kelas (Kelas I, IV, VII dan IX) untuk seluruh sekolah di Indonesia.
Opsi kedua, penerapan dilakukan pada kelas-kelas yang sama dengan alternatif pertama, namun berlaku unbtuk beberapa sekolah saja.
"Memang harus dimulai,  tinggal dipilih apakah di seluruh sekolah atau beberapa sekolah. Dua-duanya memiliki plus minus, yang kami perhatikan juga tentang kebersamaan," ujarnya. *** [Srie]

1 komentar: