Selasa, 25 Desember 2012

Hubungan Islam-Kristen (Bagian 1): Catatan Sejarah


Oleh Srie
Agama Kristen adalah agama yang dipeluk oleh 32% penduduk dunia. Sementara agama Islam, adalah agama yag dianut oleh 23% warga dunia. [Baca: Inilah Peta Penganut Agama di Dunia]. Keduanya, dijadikan sebagai agama bagi lebih dari separuh jumlah umat manusia di muka bumi ini.
Baik Kristen maupun Islam, diakui sebagai agama yang berasal dari asal yang sama, disebut juga agama samawi. Lalu, bagaimanakah hubungan antar dua agama besar ini dalam perjalanan sejarah?
Perjalanan kedua agama yang berselisih waktu dalam rentang 6 abad ini menjadikan Kristen sebagai agama dengan jumlah umat terbanyak di dunia. Kemudian, diikuti oleh Islam sebagai agama dengan jumlah umat terbesar kedua di dunia.
Hijrah ke Negeri Kristen
Sejarah mencatat, penganut Islam pada awal kelahirannya pernah memperoleh perlindungan dari raja Habsy (kini bagian negara Ethiopia) yang menganut ajaran Kristen. Saat itu tekanan elit Quraisy atas pengikut ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW telah mencapai puncaknya, hingga sejumlah sahabat melakukan hijrah ke Habsy atau Abissinia.
Adanya persamaan agama Kristen dan Islam sebagai ajaran samawi dijadikan sebagai alasan nabi, mengapa hijrah pertama, sebelum hijrah ke Madinah yang bersejarah itu, dipilih untuk dilakukan.
Keberpihakan Nabi dan para sahabat yang lebih condong pada bangsa Romawi dalam  peperangannya dengan Persia adalah fakta sejarah lain mengenai adanya hubungan yang didasarkan atas identifikasi persamaan ajaran samawi.
Jatuhnya Damaskus, Syria, sebagai salah satu pusat kekuasaan Romawi di tanah Arab ke tangan pasukan muslim yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab, pun mencatat perlakuan muslim yang sangat menghargai dan melindungi kaum nasrani untuk tetap melaksanakan keyakinannya dengan bebas.
Perang Salib
Namun, sejarah pun mencatat, bagaimana hubungan umat Kristen dan Islam berada pada level permusuhan yang berkepanjangan. Gagasan mengenai perang Salib (atau perang Sabil dalam kacamata umat Islam) pada abad ke-11 dan 12, telah menguatkan adanya fakta sejarah mengenai hubungan yang buruk antar kedua agama tersebut.  
Gagasan mengenai pembebasan tanah suci Yerussalem, atau penaklukan kembali tanah Spanyol, menjadi isu yang sangat menarik bagi kedua pengikut agama untuk terus terlibat dalam peperangan yang berkepanjangan.
Upaya perebutan kekuasaan atas daerah-daerah yang dikuasai oleh penganut agama yang berbeda menjadi catatan sejarah konflik antar pemeluk kedua agama tersebut.
Puncaknya, adalah pada tahun 1453. Ketika itu, Konstantinopel, pusat kekuasaan Romawi Timur (Byzantium) yang Kristen jatuh ke tangan pasukan Turki Utsmani yang kemudian dianggap menjadi penerus kekhalifahan Islam sebelumnya, pasca kehancuran dinasti Abasiyyah di Baghdad.
Kolonialisme Modern
Jatuhnya simbol kekuasaan Kristen di Konstantinopel telah menimbulkan reaksi yang sangat luar biasa bagi para pimpinan Kristen di Eropa. Hilangnya kota Konstatinopel dalam peta perjalanan bagi kaum Kristen, memaksa untuk mencari alternatif lain, terutama melalui jalur pelayaran di lautan.
Bergabungnya kepentingan kekuasaan, uang dan penyebaran agama yang didukung oleh para pimpinan penguasa bersama pimpinan gereja di Eropa telah melahirkan catatan sejarah baru dimulainya babak kolonialiasi modern bangsa Eropa atas bangsa-bangsa lainnya, terutama di Asia dan Afrika.
Pada masa kolonialisme ini, hubungan Kristen dan Islam pun telah memasuki babak baru,  di mana Kristen teridentifikasi oleh penduduk setempat sebagai bagian dari agama para penjajah. Saat itu, perlawanan atas bentuk penjajahan bangsa Eropa seringkali hampir diidentikkan dengan perlawanan atas penyebaran agama Kristen.
Gagasan perang salib, semangat reconquesta (penaklukan kembali), hingga sejarah terjadinya kolonialisasi telah memberikan dampak yang sangat luar biasa atas hubungan antar kedua pemeluk agama ini, khususnya di Indonesia. Dampaknya, perasaan permusuhan itu, sebagian masih terus dirasakan hingga generasi sekarang. (Bersambung, klik di sini).*** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar