Selasa, 25 Desember 2012

Hubungan Islam-Kristen (Bagian 2): Ketika Eropa Belajar Kembali


 Oleh Srie
Semangat kebangkitan kembali Islam yang muncul terutama sejak akhir abad ke-19, saat kekhalifahan Turki Utsmani diambang kehancuran merupakan reaksi balik atas kekalahan sejarah yang pernah dialami oleh umat Islam. 
Peperangan yang terjadi pada negeri-negeri muslim yang menginginkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa Eropa, sebagiannya merupakan semangat untuk melakukan perlawanan berdasarkan atas hubungan Islam-Kristen.
Pasca Perang Dunia II, di mana banyak negeri-negeri muslim telah merdeka, termasuk Indonesia, sisa-sisa konflik sejarah tersebut sebagian masih terus berlanjut. Wujudnya, adalah dalam bentuk pilihan model pembangunan bagi negara-negara yang baru merdeka.
Saat itu, westernisasi sebagai bentuk model pembangunan ala Barat mendapat tanggapan yang sangat kritis dari kelompok mereka yang menginginkan “orisinilitas” model pembangunan bagi bangsanya sendiri.
Pada titik ini, secara perlahan Kristen terpilah kembali dari Western (Barat), dimana semangat nasionalisme muncul sebagai alternatif lain dalam merespon cara Barat. Meski begitu, stigma Kristen adalah Barat dan Barat adalah Kristen masih melekat pada sebagian kaum muslimin.
Akibatnya, stigma ini masih cukup mempengaruhi atas persepsi dan sikap sebagian umat islam yang masih menidentifikasi permasalahan yang terkait dengan Barat berhubungan dengan Kristen. Isu terorisme yang menjadi isu kontemporer, telah ikut mewarnai pula atas hubungan baru Islam-Kristen.
Kompetisi Global
Kini, ketika dunia telah menjadi kampung global yang kian saling berhubungan dan bergantung satu sama lain, telah menemukan momentum untuk mendorong hubungan antar keduanya menjadi lebih baik lagi.
Dalam konteks Indonesia, maka hubungan Islam-Kristen mendapatkan pemaknaan baru ketika bangsa ini dihadapkan pada kompetisi yang kian ketat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tampilnya Indonesia, sebagai salah satu negara yang banyak diramalkan bakal menjadi pemain penting di dunia, diharapkan dapat lebih memperkuat hubungan baru Islam-Kristen di negeri ini.
Peran Eropa yang pernah tampil dominan selama tiga abad terakhir ini, kian menyurut dengan tampilnya bangsa-bangsa lain, seperti China, India, Brasil dan Indonesia sebagai pemain-pemain baru yang akan ikut menetukan masa depan dunia. [Baca: Dewan Intelijen Amerika: Indonesia Akan Ambil Alih Eropa].
Krisis finansial yang bermula pada tahun 2008, ternyata masih berdampak serius bagi banyak negara-negara di Eropa yang hingga kini belum beranjak pulih. Stagnasi pertumbuhan ekonomi telah membuat ancaman resesi yang kian serius bagi benua biru. Secara nyata, krisis bermula dari Yunani, Portugal, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, Inggris  hingga Jerman pun tak terlepas dari ancaman krisis pula.
Eropa Belajar kembali?
Bagi Eropa, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk bisa belajar kembali dari bangsa-bangsa lain. Selama ini, Eropa merasa diri sebagai bangsa yang paling superior dengan dampak yang sangat luar biasa signifikan bagi bangsa-bangsa lain hingga sekarang.
Harapannya, tentu agar Eropa tidak lagi mengulangi sejarah keangkuhannya yang mengabaikan fakta sejarah besarnya sumbangan peradaban bangsa lain (terutama peradaban Islam) bagi kemajuan Eropa modern saat ini.
Sama halnya, ketika peradaban Islam memanfaatkan banyak keunggulan peradaban bangsa lain, terutama perdaban Yunani dan Romawi, untuk kejayaannya selama 700 tahun dalam panggung sejarah dunia.
Almarhum Nurcholish Madjid pernah mengatakan, pemahaman dan kesadaran atas terjadinya pertukaran sumbangan antar peradaban ini menjadi penting, terutama untuk membangun hubungan baru yang lebih konstruktif, jujur dan saling menghargai.
Satu sisi,  kesadaran ini akan menebas keangkuhan Eropa untuk mengakui utang budayanya terhadap peradaban Islam. Sedangkan pada sisi lain, kesadaran ini pun akan mengikis apa yang disebut oleh Cak Nur sebagai rasa rendah diri (inferiority complex) kaum muslim, sedemikian rupa sehingga muncul kepercayaan diri untuk kemudian dijadikan modal bagi perkembangan selanjutnya untuk kemajuan.
Kolaborasi Kebangsaan
Adanya perubahan konstelasi dunia ini diharapkan pula dapat memberikan dampak positif bagi hubungan antar pemeluk agama-agama di Indonesia. Sebuah negeri, yang kini mencatatkan diri sebagai berpenduduk muslim terbesar di dunia. [Baca: Muslim Indonesia Terbesar di Dunia]
Di sini, ajaran agama-agama harus menemukan bentuk dan semangatnya yang lebih relevan, sehingga bangsa ini dapat maju atas hasil dari kolaborasi kebangsaan. Termasuk di dalamnya, adalah kolaborasi kerja-kerja kemanusiaan antar para pemeluk agama yang berbeda.
Isu-isu kemanusiaan universal, seperti masalah kemiskinan, pengangguran, korupsi, pendidikan, kesehatan, kelestarian lingkungan hidup, demokrasi, hak asasi manusia, dan lain-lain seharusnya akan mampu mendorong pilihan kerjasama yang lebih erat antar kedua pemeluk agama.
Agama, dengan demikian, dapat berfungsi sebagai salah satu bagian dari modal sosial bagi kemajuan bangsa ini dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bukan sebaliknya.
Realitas sosial, ekonomi dan politik, seringkali mendorong kembali hubungan antar kedua pemeluk agama ini menjadi ironi. Agama, dengan demikian, jatuh sebagai bagian dari masalah, bukan solusi bagi bangsa dan para pemeluknya. *** [Srie] 
Catatan : 
1. Tulisan terkait sebelumnya "Hubungan Islam-Kristen: Catatan Sejarah", klik di sini






Tidak ada komentar:

Posting Komentar