Rabu, 05 Desember 2012

Jelang Kurikulum Baru, Mendikbud Siapkan Skenario Multilevel


Skenario Multilevel Guru
Srie, - Apapun perubahan yang terjadi atas kurikulum, namun kata kunci keberhasilannya tetap berada di tangan guru. Menyadari akan hal ini, maka meski masih dalam tahap uji publik, pihak Kemdikbud telah mempersiapkan skenario pelatihan untuk para guru.

Skenario awal disesuaikan dengan pemberlakuan kurikulum 2013 yang dilakukan secara bertahap, yaitu dimulai hanya untuk kelas I dan IV SD, kelas VII SMP dan kelas X SMA. Dengan demikian, maka pelatihan tahap awal juga dilakukan hanya untuk guru yang mengajar pada kelas tersebut.
Mendikbud, Mohammad Nuh menjelaskan, dengan skenario di atas, maka pada tahap awal pelatihan tidak langsung melibatkan sekitar 2,9 juta guru di seluruh Indonesia. Namun, cukup melatih guru yang mengajar di kelas tertentu saja.
“Jadi, dahulukan guru kelas I, IV, VII dan X. Misal, untuk guru SD berarti hanya guru kelas I dan IV. Itu tidak perlu 1,6 juta dilatih semua saat itu. Paling enggak, kalau dihitung hanya sekitar 350.000 guru yang perlu dilatih. Kalau masih segitu masih managable,” jelas Mohammad Nuh usai acara puncak peringatan Hari Guru nasional dan HUT PGRI ke-67, yang berlangsung di Sentul Convention center, Bogor, Jawa Barat, Selasa siang (4/11), seperti diberitakan oleh Kompas.com.
Lalu, bagaimana dengan guru-guru yang lainnya? Mendikbud menambahkan, bahwa skenario berikutnya adalah dengan pola multilevel.
Ia menjelaskan lagi, misalkan pada tahap awal guru yang dilatih sejumlah 100 orang. Maka, selanjutnya 100 orang guru inilah yang akan diminta untuk menyalurkan ilmunya kepada rekan guru lainnya yang memiliki kesamaan mata pelajaran.
Namun demikian, M. Nuh langsung mengingatkan bahwa hanya guru-guru yang dinilai kompeten dalam bidangnya yang akan dijadikan sebagai guru “pionir” dalam penerapan kurikulum baru.
“Jadi, seperti model multilevel saja. Untuk guru yang kompeten ini bisa dilihat dari hasil UKG. Nanti kita ajak juga PGRI dan LPTK. Jadi, jangan ditunda kurikulum ini, kasihan anak-anak kehilangan kesempatan,” tandasnya. *** [Srie]

3 komentar:

  1. Kok mesti anak2/siswa yang dijadikan alasan Pak Menteri jangan main paksa dengan kebijakan yang meresahkan pendidik.

    BalasHapus
  2. Kok mesti anak2/siswa yang dijadikan alasan Pak Menteri jangan main paksa dengan kebijakan yang meresahkan pendidik.

    BalasHapus
  3. Pak Nuh jadikan amanat rakyat sebagai menteri yang dikenang ... bukan malah dilaknat oleh rakyat apa gak takut akherat. Jangan alasan zaman kurikulum HARUS BERUBAH tetapi pahami budaya dan keberagaman Indonesia jangan main ganti kurikulum degan sepekulasi nanti akan berhasil mestinya dipikir juga damak apa jika gagal pada anak didik dan pendidik.

    BalasHapus