Senin, 03 Desember 2012

Mapel IPA dan IPS SD Dilebur? Bakal Bikin Ruwet!

Oleh Srie
Salah satu isu mengenai perubahan kurikulum pada tingkat Sekolah Dasar (SD) adalah mengenai keberadaan mata pelajaran (mapel) IPA dan IPS. Dalam draft kurikulum 2013 untuk SD yang dimiliki oleh Kemdikbud terdapat dua alternatif mengenai hal tersebut.
Alternatif pertama, mapel IPA dan IPS ditiadakan, untuk kemudian isi materinya diintegrasikan (dilebur) dengan mapel lainnya, misalnya dengan mapel Bahasa Indonesia (untuk IPA dan IPS) atau PPKN (khususnya untuk IPS).
Sementara itu, alternatif kedua adalah tetap mempertahankan IPA dan IPS sebagai mapel tersendiri yang diajarkan pada kelas V dan VI saja.
Sebelumnya, ada alternatif lain yakni digabungkannya IPA dan IPS sebagai mapel tersendiri (mapel Pengetahuan Umum). Namun, alternatif ini tidak muncul dalam draft yang kini sedang diujipublikkan hingga  tiga pekan ke depan.
Dalam penjelasan Kemdikbud, masing-masing pilihan, baik alternatif 1 atau alternatif 2 memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada alternatif 1, kelebihannya antara lain adalah (1) jumlah mapel SD yang lebih sedikit, (2) materi IPA atau IPS lebih terintegrasi dengan mapel lainnya, sehingga amat dimungkinkan mengembangkan pendekatan tematik pada proses pembelajaran.
Sementara kekurangannya, antara lain (1) kemungkinan terjadinya pemahaman dangkal atas pengetahuan IPA atau IPS, sehingga siswa akan kurang berminat, terutama pada materi IPA pada tahap pendidikan selanjutnya; (2) guru B. Indonesia atau PPKN akan merasakan beban yang lebih berat, atau bahkan bisa bias atau kurang fokus atas pelajaran yang semula.
Pada alternatif 2, kelebihannya antara lain (1) siswa sejak awal diperkenalkan dengan pengetahuan alam dan sosial, sehingga diharapkan akan lebih siap dalam mengikuti mapel serupa pada jenjang berikutnya di SMP; (2) Kemungkinan besar guru akan lebih terbantu dengan pembagian materi IPA dan IPS sebagai mapel tersendiri.
Adapun kekurangannya, (1) dianggap masih membebani siswa dengan adanya kedua mapel tersebut; (2) (bisa jadi) klaim penyederhanaan kurikulum (mapel) akan lebih berkurang, jika semula dari 10 mapel menjadi 6 mapel, maka kalau masih ada IPA dan IPS akan menjadi 8 mapel.
Bukan Disiplin Ilmu
Dasar pemikiran kurikulum baru ini menyatakan bahwa IPA dan IPS yang dipelajari oleh siswa pada jenjang SD bukan sebagai sebuah disiplin ilmu. Akan tetapi, lebih merupakan materi yang mengarahkan pada pengembangan sikap dan karakter siswa. Oleh karena itu, pada kurikulum baru, muatan IPA dan IPS akan diajarkan dengan cara yang lebih menyenangkan, terutama melalui kegiatan pengamatan atau pengalaman secara langsung.

Alasan Penghapusan Kurang Relevan
Lantas, bagaimana sebaiknya kedua alternatif itu dipilih? Menurut saya, alangkah lebih baiknya mapel IPA dan IPS tetap saja ada. Alasan penyederhanaan mapel agar lebih mengurangi beban anak dalam belajar kurang levam ketika ternyata muatan eks mapel IPA dan IPA tersebut tetap harus diajarkan melalui mapel lainnya.
Meskipun dengan pendekatan integratif dan tematik, namun pada akhirnya akan menambah isi mapel yang “didompleng”. Konsekuensinya, jelas akan menambah waktu jam pelajaran untuk materi yang “didompleng” itu. Jadi, mudahnya dapat dikatakan bahwa apapun namanya penghapusan mapel IPA dan IPS itu lebih bersifat kemasan saja, dari 3 mapel menjadi 1 mapel. Padahal, isinya tetap saja terdiri atas 3 mapel.
Alasan Praktis Guru
Pertimbangan berikutnya, lebih dari kacamata pertimbangan praktis para guru yang akan mengajar. Jelas, model integrasi pada alternatif pertama akan butuh penyesuaian dan waktu yang tidak sedikit. Guru pun akan lebih terbebani dan tidak begitu saja dapat dengan mudah untuk mampu memenuhi keinginan “idealis” para penyusun kurikulum.
Bila alasannya selama ini pengajaran IPA dan IPS dirasakan membebani siswa, alangkah lebih baiknya solusi yang dipilih bukan pada penghapusan kedua mapel tersebut kemudian mengintegrasikannya dengan mapel lain. Namun, solusi yang lebih relevan adalah pada penyempurnaan materi dan metodologi pembelajaran IPA dan IPS, termasuk upgrade kompetensi para gurunya, agar bisa diarahkan pada pembelajaran yang lebih menyenangkan dengan pendekatan yang juga tematik.
Sederhana, Bukan Awang-awang
Akhirnya, pilihan apapun yang akan dipilih tidak semata mempertimbangkan “teori awang-awang” yang terkesan jauh dari realitas di lapangan. Pertimbangan praktis saat menginjak “bumi” sehari-hari yang akan dialami oleh guru secara langsung perlu pula dipertimbangkan. Hal terpenting, apapun pilihan itu, guru dapat menghadirkan materi IPA dan IPS yang lebih efektif dan menyenangkan bagi siswa.
Pilihan yang lebih sederhana, namun efektif,  tentu akan jauh lebih positif dari pada pilihan yang lebih ruwet, banyak hal-hal yang sama sekali baru, dan lebih banyak menimbulkan permasalahan baru pada praktik di lapangan.
Bukankah salah satu pertimbangan perubahan kurikulum sekarang adalah alasan penyederhanaan dan mengurangi beban? Lantas, kenapa alternatifnya harus dibikin ruwet dan nanti akhirnya bikin mumet para guru? *** [Srie]
Catatan:
1. Untuk melihat draft alternatif mapel SD dapat diklik di sini.
2. Untuk melihat draft lebih lengkap dapat diklik di sini atau di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar