Sabtu, 08 Desember 2012

Mendikbud: Peleburan IPA-IPS Tidak Kurangi Substansi Pengetahuan


Srie, - Meski dikritik oleh banyak pihak, Mendikbud, Mohamad Nuh tetap besikukuh bahwa peleburan mata pelajaran (mapel) IPA dan IPS pada jenjang Sekolah Dasar (SD) tidak ada persoalan. Menurutnya, peleburan tersebut tidak akan mengurangi substansi pengetahuan yang akan didapat oleh anak SD.

"Peleburan mata pelajaran IPA-IPS tidak akan mengurangi subtansi pengetahuan karena tetap diajarkan yang diintegrasikan dengan tema-tema," kata Mohammad Nuh dalam jumpa pers dengan wartawan di Jakarta, Kamis (6/12), sebagaimana diberitakan oleh antaranews.com.
Sebelumnya, Dosen pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sam Muchtar Chaniago mengajukan keberatannya terkait rencana peleburan mapel IPA dan IPS ke dalam Bahasa Indonesia. Menurut Sam, peleburan semacam itu akan menyebabkan mapel Bahasa Indonesia dalam kurikulum baru SD menjadi tidak fokus.
"Belajar bahasa itu bisa masuk ke sains ataupun ilmu sosial. Jangan dibalik, Bahasa Indonesia memakai konsep sains atau ilmu pengetahuan sosial," kata Sam Mukhtar Chaniago, dalam diskusi di Jakarta.
Begitu juga, kritik yang hampir sama dikemukakan oleh Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), Iwan Pranoto. Ia mempertanyakan pengukurannya bagaimana, bila IPA atau IPS diajarkan ke dalam bahasa Indonesia. Apakah kaidah pengukurannya didasarkan pada kaidah bahasa atau sains perlu diperjelas terlebih dahulu.
"Bangsa ini perlu menguatkan pendidikan dalam sains, teknologi, teknik, seni, dan rekayasa. Hal ini bisa menjadi modal bangsa untuk memajukan peradaban," kata Iwan.
Tematik Integratif
Menanggapi semua kritik tersebut, Nuh menjelaskan mengenai salah satu ciri kurikulum baru, khususnya untuk SD, yaitu bersifat tematik integratif. Artinya pembelajaran untuk anak-aanak SD dirancang berdasarkan tema-tema tertentu secara terintegrasi. Dalam pembahasan suatu tema akan ditinjau dari berbagai mata pelajaran.
“Sebagai contoh, tema energi dapat diajarkan bagaimana pembangkit listrik dimanfaatkan dengan aliran sungai dan menggunakan bahsa Indonesia,” jelasnya.
Nuh menambahkan, bahan yang menjadi objek pelajaran siswa meliputi fenomena sosial, budaya dan alam. Sementara pembelajaran yang dibutuhkan bagi anak-anak usia SD adalah keutuhan berpikir  atau bagaimana berpikir secara holistik.
“Mereka (anak SD) tidak diajarkan pendidikan spesialis, tapi pendidikan secara holistik,” tutur Nuh.
Mendikbud kembali mengingatkan mengenai beratnya beban mapel yang diterima oleh murid SD. Dikatakannya, saat ini anak SD harus mengikuti 10 mapel, yaitu Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, PKn, Seni Budaya dan Ketrampilan (SBK), Penjaskesor, pengembangan diri dan muatan lokal.
Menurut Mendikbud, mapel sebanyak itu dinilai cukup berat dan membebani bagi anak-anak SD. Makanya, ide peleburan IPA dan IPS ke dalam mapel lainnya, sehingga jumlah mapel SD hanya 6 dianggap sebagai sebuah solusi untuk masalah tersebut.
"Beban pelajaran sekolah yang dipikul anak-anak sekarang terlalu berat," ujarnya.
Kritik atas rencana peleburan mapel IPA dan IPS dapat dibaca juga di artikel “MapelIPA-IPS SD Dilebur? Bakal Bikin Ruwet!” *** [Srie] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar