Kamis, 06 Desember 2012

Pertemuan Kemdikbud-Penerbit: Kurikulum Baru, Cuma Proyek Kejar Bisnis?


Bisnis buku kurikulum baru
Srie, - Perubahan kurikulum cuma mengejar kepentingan bisnis? Itulah temuan yang diungkapkan oleh peneliti dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Hendri, saat mengadakan mengadakan jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu (5/11).

Febri mengatakan pihak kemdikbud telah melakukan pertemuan dengan beberapa penerbit, yang di antaranya dimaksudkan untuk menyusun dan menerbitkan buku kurikulum baru. Menurut febri, pertemuan ini dianggap ganjil atau aneh, justru dilakukan saat Kemdikbud masih melaksanakan tahap uji publik kurikulum baru hingga tiga pekan ke depan.
"Lantas untuk apa uji publik dilakukan? Kami menduga uji publik hanya formalitas saja," ujar Febri, sebagaimana dikutip dari sini.
 ICW melihat adanya pangsa pasar yang sangat menggiurkan dalam proyek pergantian kurikulum. Dengan jumlah siswa sekitar 70 juta orang di seluruh Indonesia, maka dapat diduga akan melibatkan uang senilai triliunan rupiah hanya dengan seluruh siswa membeli buku sesuai dengan kurikulum baru.
Sementara itu, jumlah guru yang sekitar 2,6 juta orang juga akan menjadi ladang empuk untuk melaksanakan training bagi mereka yang akan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Semua ini, dianggap sebagai lahan proyek bisnis yang sangat menguntungkan bagi pihak-pihak yang terkait dengan Kemdikbud.
Sementara itu, salah seorang staf peneliti ICW, Siti Juliantari Rachman mengatakan pihaknya sudah mengantongi nama-nama penerbit buku yang hadir dalam pertemuan dengan Kemdikbud. Namun, ia menolak untuk memberitahukan kepada wartawan dengan alasan akan soal waktu saja.
Menurut Siti, pemberitahuan nama-nama penerbit tersebut akan dilakukan pada saat pertemuan petisi penolakan kurikulum baru bersama unsur lain dari praktisi pendidikan, sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi.
"Kemungkinan pernyataan sikap akan dilakukan minggu depan," jelas Tari. 
Kemdikbud Bantah
Menanggapi tudingan miring dari ICW, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Ibnu Hamad membantah tudingan miring dari ICW. Menurut Ibnu, dirinya mengaku tidak tahu menahu dengan adanya kabar pertemuan Kemdikbud dengan para penerbit buku di Bogor itu.
Hal senada disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim. Yang mengatakan tidak ada pertemuan antara Kemdikbud dan para penerbit. Menurut Musliar, kalaupun ada pertemuan, hal itu dilakukan pihaknya dengan para penulis, sehingga tidak ada hubungannya dengan para penerbit.
Selanjutnya, mantan Rektor Universitas Andalas ini membantah adanya anggapan kepentingan bisnis dalam perubahan kurikulum. Dikatakannya, perubahan kurikulum semata-mata dilakukan untuk memperbaiki kurikulum sebelumnya dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. 
"Saya dan Pak Menteri niatnya baik untuk kemajuan pendidikan. Tidak sedikitpun terpikir untuk mengambil keuntungan," tegas Musliar, saat dihubungi wartawan MICOM, Rabu (5/11). *** [Srie]

Catatan:
1. Banyak pihak yang menolak kurikulum baru, antara lain Panja DPR dan Koalisi Pendidikan.
2. FITRA mengungkap temuan anggaran yang tidak masuk akal, sekitar Rp 171 miliar untuk program pengembangan kurikulum baru, klik di sini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar