Minggu, 16 Desember 2012

Tanpa Rombak UN, Kurikulum Baru Akan Sia-sia


Oleh Srie
Semangat perubahan kurikulum baru yang lebih mengarah pada pendekatan tematik-integratif patut dihargai. Adanya koreksi atas pendekatan sebelumnya yang dinilai lebih menekankan aspek kognitif merupakan hal yang bagus.
Pendekatan yang lebih bersifat holistik dengan lebih mengedepankan pembentukan karakter yang unggul serta pengembangan skill yang dibutuhkan anak untuk masa depan layak untuk didukung.



Hingga, gagasan besar mengenai kehendak agar pendidikan di negeri ini akan dapat bersaing di tingkat global adalah sesuatu yang harus disokong oleh kita semua.
Catatan penting untuk Pak Mendikbud adalah apakah Ujian Nasional (UN) yang merupakan muara dari keseluruhan proses belajar mengajar telah dievaluasi secara kritis dan benar?
Mengapa hal ini patut dipertanyakan? Karena, mau tidak mau UN adalah bagian dari sistem evaluasi yang diterapkan pula pada kurikulum KTSP yang akan dirombak ini. Pertanyaannya, jika memang KTSP patut dirombak sejauhmana kontribusi UN atas “derajat kesalahan” kurikulum 2006 itu?
Adalah tidak adil bila Kemdikbud menilai kurikulum KTSP tanpa mengevaluasi secara kritis dan bersifat integratif pula atas keberadaan dan peran UN dalam menyokong keberhasilan pembelajaran.
Aneh, Sia-Sia
Mungkin, inilah salah satu keanehan, ketika Mendikbud, Mohammad Nuh mengatakan bahwa hingga saat ini wacana kurikulum baru sama sekali belum menyentuh substansi UN.
"UN 2013 tidak akan terpengaruh kurikulum 2013, karena kurikulum baru masih tahap awal dan pemberlakuannya juga bertahap," kata M. Nuh usai berbicara dalam Uji Publik Kurikulum 2013 di Surabaya, Minggu (9/12), sebagaimana diberitakan oleh ANTARA.
Maka, adalah sangat tepat pendapat yang disampaikan oleh seorang praktisi pendidikan asal Universitas Paramadina, Abduh Zein terkait masalah tersebut. Menurutnya, metode tematik dan integratif akan membuka peluang bagi guru dan siswa untuk mengeksplorasi lebih dalam atas pokok bahasan dari sebuah mata pelajaran.
Pada saat yang sama, anak-anak juga bebas mengobservasi dan mencari tahu sendiri jawaban dari permasalahan yang dihadapi.
“Metode ini (hampir) tanpa batasan dan dinamis, sehingga akan jadi persoalan jika Ujian Nasional (UN) masih dijadikan sebagai alat evaluasi,” tutur Zein saat Focus Group Duiscussion Menyoal Kurikulum 2013 di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jum’at (14/12), sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.com.
Selanjutnya Zein menegaskan, bahwa jika UN tetap dipaksakan sebagai alat evaluasi bagi siswa, maka konsep dan gagasan yang yang bagus dalam kurikulum 2013 akan menjadi sia-sia belaka. Mengapa? Karena, guru tak akan bisa dengan bebas mengembangkan tema bahasan, mengingat adanya koridor yang harus diikuti agar anak-anak tetap bisa mengerjakan soal-soal UN dengan baik.
“UN itu sangat rigid. Kisi-kisinya ada dan umumnya yang keluar soalnya seperti itu, sehingga guru mau tidak mau ikuti saja. Kalau begini, apa yang berubah?” kritik Zein.
Kurikulum Bimbel
Bentuk soal UN yang terbatas pada pilihan ganda, dan lebih menjangkau ranah kognitif, amat jelas sangat tidak kondusif atas gagasan dan semangat kurikulum baru yang ber-tagline tematik-integratif itu.
Adanya ekses contek masal dan sikap permisif yang dilakukan cenderung sistemik atas berbagai upaya demi menunjang keberhasilan UN, patut dikonfrontir dengan gagasan mengenai nilai lebih pendidikan karakter pada kurikulum 2013.
Jika halnya demikian, lantas untuk apa kurikulum harus berubah? Perombakan kurikulum lama, seharusnya, jangan sampai salah mendiagnosa permasalahan substansial yang sesungguhnya.
Akibatnya, solusi yang ditawarkan pun tidak akan mengenai sasaran. Apalagi, bila penyakit “kanker” yang sesungguhnya justru tidak diutak-utik sama sekali.
Adalah tidak terlalu salah, bila banyak pihak yang beranggapan bahwa sistem evaluasi UN hanya cocok diterapkan untuk model pendidikan Bimbingan Belajar (Bimbel). Siswa terus menerus dilatih dan diarahkan untuk mampu mengerjakan soal-soal pilihan ganda.
Apalagi, UN pun sangat berperan untuk melanjutkan pada jenjang berikutnya. Maka, gagasan besar dan bagus yang ada pada kurikulum 2013 hanya di atas kertas saja. Prakteknya, guru-guru akan kembali fokus pada target keberhasilan UN.
Sebaliknya, untuk guru-guru yang mapel-nya tidak di-UN-kan harus lebih bersabar lagi. Mengapa? Karena motivasi UN pada anak-anak untuk lebih serius mengikuti mata pelajaran itu tidak ada!
Faktanya telah terjadi, mapel UN dan mapel non UN adalah sebuah kenyataan. Sebuah bentuk diskriminasi terselubung, bukan? Sesuatu yang semula sangat ingin dihindari dari semangat kurikulum baru.
Akhirnya, kita hanya bisa berharap, semoga saja kurikulum 2013 tidak kembali jatuh menjadi “kurikulum Bimbel”. Kembali pada pokok pertanyaan, tanpa ada perubahan UN seperti yang berlaku sekarang, lalu buat apa harus ada perubahan kurikulum? *** [Srie]

4 komentar:

  1. dewi , kokom dan sri wahyuni dari klas 8e . juga mengomentari UN sangat mendukung saya sangat setuju dengan kata M.NUH.

    BalasHapus
  2. kami dari kelas VIIIe ,sangat setuju dan kami juga sangat mendukung Apalagi, UN pun sangat berperan untuk melanjutkan pada jenjang berikutnya. Maka, gagasan besar dan bagus yang ada pada kurikulum 2013 hanya di atas kertas saja. Prakteknya, guru-guru akan kembali fokus pada target keberhasilan UN.




    rina korina,siti indri pebriani,homsah,ira wandira.

    BalasHapus
  3. rudi,adi,toni:
    klas 8e

    kami sangat terharu dengan kata@ yg d atas

    BalasHapus
  4. mengapa pendidikan sekarang semakin dilupakan padahal pendidikan merupakan salah satu indikator kesuksesan di masa depan ? nama : sinta oktavia ,sri wulandari,atikah,lia rosliani .
    kelas :8e

    BalasHapus