Senin, 10 Desember 2012

Ternyata, Mayoritas Publik Online Tolak Penghapusan Mapel TIK


draft kurikulum smp
SRIE, - Kemdikbud telah membuka kesempatan kepada publik untuk memberikan pendapat, tanggapan, masukan atau kritikan terkait dengan rancangan kurikulum 2013. Bahkan, layanan secara online pun telah dibuka sejak awal Desember lalu untuk menampung aspirasi publik.
Kali ini, kami mengamati berbagai tanggapan publik terhadap slide no. 47, yakni tentang pengembangan stuktur kurikulum SMP. Hingga Sabtu malam (8/12), kami mencatat ada sekitar 102 komentar dari pembaca asal berbagai daerah.

Lantas, bagaimana kira-kira tanggapan mereka? Secara umum, ternyata sebagian besar dari mereka (53 orang atau 51,96 %) menyatakan menolak atau keberatan atas draft kurikulum 2013, khususnya yang terkait dengan struktur mata pelajaran SMP sebagaimana terdapat dalam slide tersebut.
Sebaliknya, hanya 11 orang saja (10,78%)  yang secara jelas menyatakan dukungan atas draft kurikuilum baru tersebut. Sementara itu, mereka yng memberikan sikap netral atas draft kurikulum ini justru masih cukup besar, yakni 29 orang (28,43%), dan sisanya ada 9 orang (8,82%) yang dikelompokkan komentar yang keluar dari konteks atau keluar topik.
Jika mereka yang tergolong komentar keluar dari konteks atau topik dihilangkan, maka penolakan atau keberatan publik online atas draft kurikulum yang disodorkan oleh Kemdikbud sejumlah 54,08 % berbanding 11,22 % suara yang setuju.

Hal menarik lain dari tanggapan atas slide no 47 ini adalah dari semua komentar yang menolak atau keberatan atas draft kurikulum terdapat 37,76 % terkait dengan penghapusan TIK sebagai mapel. Sementara itu, terdapat 23,47 % penolakan atau keberatan tersebut berhubungan dengan masalah keberadaan Bahasa Daerah yang dianggap tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Di luar masalah TIK dan Bahasa Daerah, terdapat beberapa alasan lain, seperti alasan keberadaan Bimbingan dan Konseling (BK), masalah pendidikan Agama, dan masalah mapel lainnya.
Berkenaan dengan masalah TIK, hampir mayoritas publik online menyatakan ketegasan penolakan atas draft kurikulum yang menghapus mapel TIK dan meleburkannya dengan mapel-mapel lainnya. Pertanyaannya, adakah tanggapan publik online ini akan benar-benar diserap dan sungguh-sungguh dijadikan sebagai bahan pertimbangan?
Kita berharap semoga berbagai pendapat atau masukan ini benar-benar diperhatikan dan tidak menjadikannya sebagai lewat begitu saja. Hanunta, salah seorang pembaca asal Bengkulu sempat memberikan komentarnya:
Semoga pendapat masyarakat, guru, dan para praktisi pendidikan di seluruh Indonesia di dengar tim perumus kurikulum 2013, dan semoga pendapat mereka dijadikan andil perubahan, bukan hanya sekedar formalitas UJI PUBLIK belaka.”
Berikut ini adalah cuplikan dari beberapa komentar publik secara online yang terdapat pada bagian slide nomor 47 tentang “penataan Stuktur Kurikulum SMP”.

1.     “Kurikulum berbasis ICT, tapi mengapa justru Mapel TIK yang dihilangkan ? Sejauh ini saya berharap justru ada pengembanganKurikulum untuk Mapel TIK lebih luas lagi seperti pengenalan pada Open Source, Desain Grafis, Multimedia dll yang akan bermanfaat untuk Pengembangan Kurikulum Berbasis ICT bagi mata pelajaran yang lain. Dan satu hal lagi, pernah saya kemukakan di depan siswa, bagaimana jika seandainya pelajaran TIK dihilangkan ? dan Tanggapan mereka (siswa) adalah "Sangat Tidak Setuju" alasannya karena TIK adalah salah satu mata pelajaran yang banyak diminati dan manfaat penggunaannya sudah mulai dirasakan siswa. Kalo seandainya Sekolah boleh menjadikan TIK sebagai Mulok (Keterampilan ICT) mungkin lain lagi ceritanya. dan saya melihat ada beberapa mapel yg jumlah jamnya lebih banyak, Tidakkah itu justru akan memberatkan siswa ? Dan apakah kecerdasan seorang siswa hanya dapat dinilai dengat Kognitif saja ? Tentu tidak,” (Lilis Juwita, Jabar)

2.     “Kata para ahli pendidikan anak jangan diberi materi terus menerus sebab terlalu banyak materi anak malah pusing sama dengan membebani anak berlebihan. megapa justru jam pelajaran di tambah dan pelajaran yang asyik menyenangkan seperti TIK di SMP kok malah di hapus. kalo tidak percaya dengan tulisan saya silahkan anda melakukan poling terhadap anak SMP terutama di tingkat kabupaten,” (Eko, Jateng).

3.     “Tolong untuk pelajaran TIK, jangan sampai hilang pak mentri, lebih baik yang pakarya itu di ganti TIK, dengan perubahan materi setingkat SMP, karena TIK adalah ilmu yang meyenangkan dan mengikuti zaman, kasihan anak2 yang ada di pinggiran seperti sekolahan saya ini. anak didik saya sangat atusias dengan pelajaran ini. karena dia baru melihat dan mengerti dan merasakan pelajaran ini. kalau sampai hilang mau dibawa kemana mimpi anak2 ini? mundur kah atau majukan qita maunya. pak mentri yang terhormat, bpk kan background nya dari seorang teknologis, tapi kenapa kok mau2nya di suruh menghilangkan pelajaran TIK untuk anak2 bangsa ini? mau dipertangungjawabkan kemana jabatan bapak ini? saya punya usul lebih baik mata pelajaran pakarya di ganti aja dengan TIK. atau pakaryanya wajib TIK. dengan mengembangkan robotika. dan guru TIK yang ada sekarang ini tidak akan menjadi resah dan gundah gulana pak mentri. apa negara ini takut y bilab rakyatnya melek teknologi?apalagi para pejabat yang senangnya ngambil duwit rakyat? apakah perubahan kurikulum ini adlah pesanan partai politik tertentu?tolong dipertimbangkan lagi untuk menghilangkan pelajaran TIK di tingkat smp/mts/n,” (Bahrun, Jatim)

4.     “KURIKULUM SMP tersebut jelaslah bahwa menguasai Tekonologi sangatlah penting dan tidak semua guru mampu menguasai Teknologi khususnya TIK dalam penerapan pembelajaran karena mayoritas guru selain guru Mapel TIK masih gagap teknologi dan sekedar pengguna bukan ahli. Bahkan dalam proses pembelajaran masih banyak guru-guru memerlukan bantuan guru mapel TIK pada saat menggunakan media pembelajaran (TIK). Dan jelaslah bahwa kontribusi Guru Mapel TIK sangatlah besar dalam dunia pendidikan khususnya kegiatan belajar mengajar menggunakan media TIK. Saran : Mapel TIK tetap ada. menggantikan mapel prakarya dan menggabungkan mapel prakarya dengan seni budaya sama dengan di kurikulum SD,” (Rajamudin,  Riau)

5.     “Saya pengajar TIK di lingkungan perkebunan sawait di kalimantan tengah dengan kondisi jauh dari kota dgn jarak 120 km untuk mendapatkan informasi kami bersyukur telah masuk jaringan internet ke sekolah dengan begitu pembelajaran TIK bisa diterapkan semaksimal mungkin. apabila pelajaran TIK dihapuskan bagaimana nasib anak anak didik kita. Ingat Presiden, Menteri dan jabatan tinggi lainnya dulunya adalah anak anak didik juga.tolong dipertimbangkan penghapusan Pelajaran TIK tersebut. memang benar indonesia bukan ingin maju tapi inginnya mundur supaya bisa dijajah lagi. Pemikiran tidak berkembang seperti katak dalam tempurung. Saya pribadi merasa kasihan dengan bangsa ini atau individu atau instansi yang memiliki usul tersebut. tolong bisa dibedakan antara kebutuhan Primer dan kebutuhan sekunder anak anak didik. Silahkan dilanjutkan untuk kurikulum 2013 semoga dengan saran ini dapat lebih membuka wawasan pikiran kita.Terimah kasih.,”(Arjun, Kalteng)

6.     “Coba deh Pak Menteri ngajar TIK di SMP. Betapa antusiasnya mereka Pak. Mereka senang dan menyenangkan belajar TIK. Hanya sebagaian kecil yang memiliki komputer. Bagaimana anak-anak bisa melek teknologi, kalau mapel nya ditiadakan... Apakah mereka harus kursus? Apakah mereka harus punya komputer? Semakin mahal saja sekolah... Percuma sekolah gratis kalau belajar komputer harus di luar sekolah.... Biaya lagi Pak Menteri,” (Budi Rahayu, Jabar).

7.     “Kurikulum berbasis ICT, tapi mengapa justru Mapel TIK yang dihilangkan ? Sejauh ini saya berharap justru ada pengembangan Kurikulum untuk Mapel TIK lebih luas lagi seperti pengenalan pada Open Source, Desain Grafis, Multimedia, Olah Logika dasar dan materi yang memacu siswa berpikir positif dari materi INTERNET Jika mapel ini tidak diberikan dan kemudian peserta didik diharuskan mengoperasikan peralatan IT, bagaimana peserta didik bisa memperoleh ilmu utk mengoperasikan peralatan tersebut?” (Hafsyah, Sumbar)

8.     “Mungkin pembuat kurikulum 2013 hanya melihat daerah tertentu terutama kota yang notabene anak-anak lebih mahir dalam hal TIK dari pada para gurunya, kalau TIK diintegrasikan ke seluruh Mapel, yang jadi pertanyaan:
1. Siapkah para guru SMP mengajar dengan berbasis TIK, kalau untuk UKG kemarin saja para guru yang profesional banyak yang sama sekali TIDAK SIAP.
2. Apakah semua sekolah khususnya SMP sudah memiliki SARPRAS untuk mengakomodasinya, terutama yang daerah pinggiran.
kalau membuat kebijakan tolong lihat kondisi bawahan juga. Semoga TIM pembuat KURIKULUM 2013 bisa bijak menyikapi aspirasi masyarakat.,” (Retno Maruti, Jateng)

9.     “…. Jadi sebaiknya untuk mapel bahasa Indonesia lebih ditekankan pada pemberian motivasi kepada siswa supaya gemar membaca untuk memperluas wawasan dan praktek langsung menyampaikannya dalam bentuk lisan maupun membuat karya tulis, dengan alokasi 4 JP per minggu sudah cukup dan yang 2 JP bisa dialokasikan untuk mapel TIK.
Sekali waktu kita perlu berpikir sederhana tapi hasilnya efektif,” (Kangno, Jatim)

10.  Saya guru TIK SMP yang sudah bersertifikasi sejak tahun 2008. Saya sangat tidak setuju dengan dihapusnya mapel TIK di SMP. Mau dikemanakan para guru TIK SMP yg sdh bersertifikasi? Dan bagaiman nasib mahasiswa Pendidikan TI nanti setelah lulus kuliah? Kepada bapak yang berwewenang (khususnya Pak Nuh) mohon solusinya utk para guru TIK SMP dan mahasiswa TI. Terus terang semua guru TIK SMP resah dan gelisah dengan adanya mapel TIK dihapus. Katanya sekarang harus melek TI. Apakah guru TIK mau dikesampingkan? Tolonr Pak Menteri (Pak Nuh)!,” (Paminurhadi, Jateng) *** [SRIE)

Catatan: Hasil olah tanggapan publik lainnya dapat dilihat di :







4 komentar:

  1. kita semua tidak bisa menyangkal bahwa teknologi dan informatika sangat diperlukan saat ini. khususnya bagi guru karena salah satu kompetensi yang harus mereka kuasai yang sesuai dengan syarat guru profesional adalah penguasaan TIK. Namun, yang harus kita pikirkan bukan hanya sampai di sana karena kalau kita perhatikan dengan pikiran yang jernih ternyata masih banyak sekolah yang tidak memeiliki jaringan listrik apalagi memiliki komputer.Kalau map[el TIK tetap ada, apakah ini tidak menjadi hambatan bagi sekolah-sekolah yang kekurangan tersebut. Bagaimana mereka mau mengajarkan KD yang ada dalam SI jika fasilitasnya tidak mendukung. Oleh karena itu, keputusan yang diambil oleh Pak Menteri tersebut sudah tepat. Jika sekolah mau mengajarkan TIK bisa dimasukan dalam ekstrakurikuler.Nah, catatan bagi Mendikbud agar segera membuat keputusan/aturan tentang nasib guru2 yang sertifikasinya sbg guru TIK agar mereka diberi jalan keluar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. daerah mana yang belum ada jaringan listrik....kalaupun itu ada mungkin kecil gak sampai 10% dan ingat Pelajaran TIk gak harus mewajibkan sekolah mempunyai komputer...karena pada dasarnya tingkat SMP masih dalam tahap pengenalan TIK ...untuk apa mengorbankan yang mayoritas 90% sekolah yang ada kalau gara-gara 10% sekolah yang belum ada jaringan listrik atau fasilitas komputer..seharusnya yang belum ada jaringan listrik& belum mempunyai komputer tersebut yang harus diperhatikan dan dibantu..

      Hapus
  2. untuk lue Anonim12 Januari 2013 16.03
    dasar otak lue otak monyet, tinggal saja kamu dihutan temanin tarzan yang lagi kesepian untuk menjilat pantatnya yg belum cebokan. dasar baloho

    BalasHapus
  3. assalamualaikum wr.wb saya akan mengemukakan tanggapan saya mengenai rancanangan kurikulum baru dalam konteks penghapusan matapelajaran tik di kurikulum 2013.
    jelas saya disini tegaskan sangat2 tidak setuju,karena pada dasarnya di zaman yang sudah berbasis teknologi seperti sekarang ilmu IT sudah tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan sehari2.
    lalu apakah dari kemendiknas sendiri tidak ganalisa terlebih dahulu dari sisi akibat yang akan ditimbulkan jika seandainya rancangan ini sudah diputuskan.
    terlebih lagi itu akan menjadi dikriminasi sosial karena kami yang tinggal di daerah akan semakin tertinggal dibandingkan masyarakat yang tinggal di kota khusunya
    jujur saja jika ini semua fix akan menimbulkan gejolak di masyarakat
    tolong di tanggapi bapak M. Nuh terhormat.

    BalasHapus