Senin, 24 Desember 2012

Uji Publik Berakhir, Kemdikbud Siapkan 40.000 Master Trainner


Srie, - Hari Minggu kemarin (23/12), tahapan uji publik kurikulum 2013 telah berakhir. Banyak masukan terkait dengan rencana pemberlakuan kurikulum baru pada tahun depan ini.
Wamendikbud, Musliar Kasim mengatakan, di antara sekian banyak masukan selama uji publik, masalah persiapan guru menghadapi kurikulum baru, termasuk usulan yang paling banyak disampaikan oleh publik.
Lantas, bagaimana kesiapan Kemdikbud sendiri terkait usulan tersebut? Musliar Kasim menegaskan, saat ini pihaknya telah menyiapkan sekitar 40.000 master trainer atau istilah lain yang kini sedang naik daun adalah master teacher.
Dikatakannya, untuk mempersiapkan pelaksanaan kurikulum baru, Kemdikbud akan melatih sekitar 350.000 guru. Pelatihan ini akan dilakukan selama dua sampai tiga bulan.
Pelaksanaan pelatihan akan dimulai pada Februari tahun depan. Dimulai dari pelatihan para guru di tingkat nasional, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan guru-guru di daerah-daerah.
 "Kita sudah siapkan sekitar 40 ribu master trainer yaitu guru-guru dengan nilai UKG yang bagus untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi penerapan kurikulum baru," jelas Musliar Kasim, Minggu (23/12), sebagaimana diberitakan di sini.
Musliar menambahkan, sejumlah 40 ribu guru yang akan menjadi master trainer tersebut  berasal dari berbagai daerah Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia. Adapun proses seleksinya dilakukan berdasarkan nilai UKG terbaik pada masing-masing provinsi.
Master teacher pun dipilih berdasarkan rekam jejak guru, antara lain dilihat dari prestasi yang telah diraih oleh guru-guru yang dinilai memiliki kompetensi terbaik ini. Baik prestasi pada tingkat nasional maupun tingkat internasional.
Bahkan, dalam suatu kesempatan Mendikbud mengatakan bahwa master teacher merupakan karir baru bagi guru, selain karir dalam hal pangkat, golongan atau jabatan. [Baca: Master Teacher: Karir Baru Guru, Produk Kurikulum Baru]
Pelatihan guru-guru dilakukan dengan cara multilevel, dimulai dengan melatih master teacher, yang kemudian mereka ini akan melatih rekan guru lainnya di daerah-daerah.
Pilihan ini ditempuh dikarenakan dua hal, pertama disesuaikan dengan tahapan pemberlakuan kurikulum baru yang berdasarkan kelas tertentu saja (kelas I, IV, VII dan IX) untuk tahun pertama.
Kedua, mengingat jumlah guru yang sangat banyak, hingga 2 jutaan orang lebih, sehingga sangat dibutuhkan sumber daya yang banyak pula untuk melakukan pelatihan dalam waktu yang pendek dan hampir bersamaan. *** [Srie]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar