Minggu, 30 Desember 2012

Uji Publik Kurikulum 2013 Telah Berakhir, Apa Hasilnya? Klik Saja!


Srie, - Masa uji publik kurikulum baru yang mulai berlangsung sejak 29 Nopember, dinyatakan berakhir pada hari Minggu,  23 Desember 2012 lalu. Uji publik dilakukan dalam tiga bentuk penyerapan masukan, saran dan pendapat dari publik.
Pertama, adalah uji publik secara online, melalui website yang dimiliki oleh Kemendikbud, dengan menerima 12.205 kunjungan pendaftar dan 6.924 di antaranya aktif memberikan tanggapan.

Kedua, uji publik dengan tatap muka yang dihadiri oleh 7.055 peserta dari kalangan pendidikan dan masyarakat umum  yang diselenggarakan di 30 kota di Indonesia.   
Ketiga, adalah uji publik yang dilaksanakan secara khusus di 11 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang melibatkan sivitas akademika setempat, seperti di UN Jakarta, UPI Bandung, UN Yogyakarta, UN Semarang, UN Surabaya, UN Medan, UN Padang, UN Malang, UN Makassar, UN Gorontalo, dan UN Manado.
Lalu, apa hasil uji publik Kurikulum 2013 yang berlangsung selama lebih dari tiga pekan itu? Dalam jumpa pers akhir tahun 2012, Jum’at (28/11), Mendikbud, Mohammad Nuh menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat telah menyambut baik rencana kehadiran kurikulum baru pada tahun 2013 mendatang.
Dalam keterangan tertulis mengenai hasil uji publik Kurikulum 2013 disebutkan bahwa jumlah masyarakat yang menyatakan setuju atas rancangan kurikulum baru lebih besar dibandingkan dengan mereka yang secara jelas menyatakan penolakannya.
Kemdikbud menggolongkan sikap masyarakat terhadap draft kurikulum baru berdasarkan tiga isu atau masalah utama, yaitu justifikasi, standar kompetensi lulusan (SKL) dan struktur kurikulum. Berdasarkan jenis media yang dimanfaatkan dalam menyampaikan sikap, dibagi pula dalam kategori sikap masyarakat, yaitu melalui uji publik online dan melalui tatap muka.
Pada uji publik online, tercatat 76,2 % publik menyatakan setuju atas alasan (justifikasi) mengenai perlunya perubahan kurikulum, 14,2 % menyatakan tidak setuju dan 8,9% tidak berpendapat. Mengenai SKL,  66,0% publik menyatakan setuju, 29,1% tidak setuju, dan 4,9% tidak berpendapat. Untuk struktur kurikulum, terdapat 32,3% setuju, 15,2% tidak setuju dan 52,4% tidak berpendapat.
Sementara itu, uji publik yang dilakukan secara tatap muka diketahui 88,7% publik setuju terkait justifikasi, 5,2% tidak setuju dan 6% tidak berpendapat. Masalah SKL disetujui oleh 84,6%, tidak setuju 4,2 % dan tidak berpendapat 11,2%. Terkait struktur kurikulum, 62,7% publik setuju, 10,7% tidak setuju dan 26,6% tidak berpendapat.
Khusus untuk uji publik yang digelar di beberapa LPTK, diperoleh beberapa hal sebagai berikut. Pertama, sivitas akademika menyambut baik rancangan kurikulum 2013, sekaligus dapat berharap untuk pembinaan siswa dalam hal pengembangan kepribadian, akhlak, pengetahuan dan ketrampilan.
Kedua, perlunya kompetensi dasar yang sudah dirumuskan agar dibuat lebih terukur. Ketiga, pada tahap implementasi, keberhasilan kurikulum 2013 terletak pada guru, sehingga sangat diperlukan pelatihan bagi guru yang tepat dan sosialisasi yang intensif perlu segera dilakukan.
Keempat, terdapat banyak masukan dari publik LPTK mengenai penajaman dan sinkronisasi kompetensi dasar dalam kurikulum 2013. *** [Srie]

Catatan: Paparan lengkap Mendikbud saat jumpa pers akhir tahun 2012 dapat dibaca dan diunduh di sini

4 komentar:

  1. AYO GANTI LAGI KURIKULUMNYA, JANGAN TANGGUNG2 KOK CUMA SAMPAI KURIKULUM 2013, SEKALIAN GANTI DENGAN KURIKULUM SAMPAI TAHUN BERAPA GITU...

    BalasHapus
  2. Tak sesuai dengan fakta yang ada, uji publik online mayoritas menyatakan tidak setuju kok hasilnya menjadi seperti ini, manipulasi data atau orang hebat dikemendikbud tidak pandai memahami komentar yang ada di uji publik online. Yang seperti ini mau dijadikan panutan???

    BalasHapus
  3. pak mentri seperti buta dan tuli ya?atau pura-pura ga denger ?

    BalasHapus
  4. Jelas ini proyeknya pak Menteri untuk memperkaya diri sendiri. Kalau harus diganti kurikulumnya, harusnya pak Menteri bisa memberikan alasan atau evaluasi dari ketidakberhasilan kurikulum sebelumnya! nanti ganti menteri ganti lagi kurikulumnya berarti proyek baru bagi para Menteri. bagaimana negera ini mau maju!!!!

    BalasHapus