Minggu, 09 Desember 2012

Uji Publik Online: Banyak Minta IPA-IPS Tidak Dilebur


SRIE, - Sejak akhir November lalu, persiapan kurikulum baru telah memasuki tahap uji publik. Sejumlah rangkaian kegiatan uji publik telah dan masih akan terus dilakukan di sejumlah kota-kota di Indonesia hingga Akhir Desember 2012.

Untuk mempermudah publik memberikan tanggapan atas rancangan kurikulum 2013, Kemdikbud secara khusus membuka layanan secara online melalui alamat http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id./  Uji publik online ini dibuka sejak awal Desember dan akan ditutup pada 25 desember 2012.
Oleh pihak pengelola, publik (pembaca) diarahkan untuk memberikan tanggapan berdasarkan nomor urut slide sesuai dengan isi materi yang terdapat di dalamnya.
Meski demikian, masih ada pembaca yang memberikan tanggapan tidak sesuai atau tidak terkait secara langsung dengan nomor slide yang ditanggapi.
Slide No. 42
Lalu, bagaimanakah kira-kira tanggapan publik atas draft kurikulum baru itu?
Dari 499 total tanggapan yang masuk, kami coba fokus pada nomor slide yang dianggap secara langsung paling mendapat perhatian publik, yaitu pada slide mengenai perubahan struktur kurikulum.


Pada Slide No. 42 mengenai pengembangan struktur kurikulum SD, hingga Sabtu (8/12) malam, terdapat  36 komentar dari 36 pembaca yang berasal dari berbagai daerah.
Dari jumlah tersebut, terdapat 5 orang secara jelas menyatakan setuju atas draft perubahan tersebut. Sebaliknya, ada 26 orang yang secara terang-terangan menanggapi tidak setuju.
Sementara sisanya, ada 3 orang yang memberikan tanggapan netral, dan 2 orang yang tanggapannya keluar dari konteks atau tidak terkait dengan topik  yang terdapat pada slide.
Dengan demikian, di luar tanggapan yang dianggap keluar dari konteks isi slide, maka terdapat 76,47 % tanggapan yang tidak setuju atas draft struktur kurikulum SD, kemudian 14,70 % yang setuju dan 8,82 % berpendapat netral.


IPA-IPS Terpisah
Terkait isu mengenai peleburan mapel IPA dan IPS, masih banyak pihak yang menghendaki agar kedua mapel tersebut tetap ada dan terpisah dari mapel lainnya. Ada 13 orang atau 38,24 persen yang secara jelas menghendaki kedua mapel tersebut tetap berdiri sendiri, paling tidak mulai kelas 4-6 SD.
Pada umumnya mereka menganggap mapel IPA dan IPS masih dianggap diperlukan dan keberadaannya lebih baik terpisah dari mapel lainnya.
Dalam draft struktur kurikulum SD memang masih ada dua alternatif, yaitu IPA dan IPS dilebur atau IPA dan IPS diajarkan pada kelas 4-6. Namun, dalam berbagai kesempatan Mendikbud lebih condong untuk meleburkan kedua mapel tersebut. [Baca juga:Mendikbud: Peleburan IPA-IPS Tidak Kurangi Substansi Pengetahuan]
Agaknya, inilah yang hendak ditanggapi oleh publik. Berikut ini adalah beberapa komentar yang diberikan oleh mereka yang menghendaki mapel IPA dan IPS tetap ada dan terpisah dari mapel lainnya, seperti Bahasa Indonesia dan PPKN.
“Saya setuju untuk mempertahankan IPA dan IPS di SD,” Ela, asal Jatim.
“Saya setuju dengan pemisahan IPA & IPS di kelas 4 agar siswa lebih fokus dalam pembelajaran.,” kata Endah Sulistiyani, asal Jakarta.
“IPA dan IPS mulai dipisahkan dari kelas IV-VI, kalau tetap diimplementasikan pada mata pelajaran lain, dijamin guru tambah pusing,” Paktaya, asal Jateng.
“Saya lebih tertarik dengan pemisahan pelajaran IPS-IPS kls 4 sd 6. Pelajaran IPA yg kreatif masih sangat diperlukan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa tingkat dasar,” Misran, asal Kaltim.
Di luar masalah peleburan IPA-IPS, pada slide no 42 ini, banyak juga yang menghendaki mapel Bahasa Inggris tetap diajarkan di SD. Dalam hal ini, pihak kemdikbud masih membuka peluang agar mapel tersebut dapat diajarkan sebagai muatan lokal bagi sekolah yang telah siap dan menganggap penting untuk diajarkan. *** [SRIE]

Catatan:
1. Bisa juga baca tanggapan uji publik online pada slide no 41 "Uji Publik Online: 75 Persen Tidak setuju Draft Kurikulum SD"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar