Kamis, 03 Januari 2013

Ada Demo Tolak Mapel Bahasa Daerah Dihapus, Ini Tanggapan Mendikbud


Srie, - Akhirnya, Mendikbud, Mohammad Nuh menanggapi sejumlah pihak yang menolak Kurikulum 2013 karena dihapusnya mata pelajaran (mapel) Bahasa Daerah. Nuh mengatakan bahwa mapel Bahasa daerah masih tetap ada pada Kurikulum 2013.
“Bahasa Daerah tetap ada, yakni di kolom kurikulum Seni Budaya dan Prakarya,” jelas Mendikbud, Kamis (3/1) di Jakarta, sebagaimana diberitakan di sini.
Menurut Mendikbud, bahasa daerah dan kelompok muatan lokal lainnya masih tetap terbuka untuk dimasukkan ke dalam kurikulum baru. Karena, pada mapel Seni  Budaya terdapat cukup waktu untuk menampung bahasa daerah.
“Seni Budaya diberi empat jam. Jadi, bisa memasukkan bahasa daerah,” kata mantan Rektor ITS ini.
Ditambahkannya, mapel bahasa daerah tetap sejajar dengan mapel lainnya. Nanti, pihak kemdikbud akan me nyampaikan secara terbuka kepada publik setelah hasil uji publik telah terumuskan.
“Sekarang banyak yang protes, karena mereka belum jelas mengenai kurikulum baru ini. Kemdikbud akan menyampaikannya ke publik,” pungkasnya.
Sebelumnya, pada senin (31/12) lalu, ratusan warga Sunda yang terdiri atas guru, dosen, mahasiswa, seniman dan sastrawan Sunda sempat melakukan demo atau  aksi unjuk rasa di depan Gedung sate, Bandung.
Unjuk rasa yang bertajuk  “Aksi Gelar Budaya Nolak Kurikulum 2013” itu secara tegas meminta pemerintah untuk tetap mempertahankan mapel Bahasa Daerah dalam kurikulum baru. Selengkapnya, baca disini.
Bahkan, Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ahmad Heryawan, secara tegas akan mengirimkan surat kepada Mendikbud sebagai sebagai kelanjutan dari aspirasi warga Sunda tersebut.  
"Kami akan segera mengirim surat ke Mendiknas, kalau bisa hari ini kita kirim hari ini, yang jelas secepatnya. Itukan masih draft, masih bisa diubah, saya yakin pemerintah pusat tidak akan menghapus mulok bahasa daerah," kata Heryawan, di Bandung, Rabu (2/1), sebagaimana dikutip dari sini.
Sejumlah daerah, seperti Bali dan DIY pun melakukan aksi serupa, untuk menyuarakan penolakan kurikulum baru yang dianggap warga telah mengabaikan keberadaan bahasa daerah dan muatan lokal dalam kurikulum 2013.
Pada saat uji publik berlangsung, banyak guru yang menyatakan keberatan dengan penggabungan mapel Bahasa daerah ke dalam mapel Seni Budaya. Dari sekitar 75 % publik online yang berkeberatan, hampir seperempatnya (23,47%) terkait dengan ketidakpuasan atas penggabungan mapel tersebut. [Baca di sini]
Kini, publik akan menunggu Mendikbud untuk mengumumkan hasil rumusan final Kurikulum 2013 setelah pihaknya menerima berbagai masukkan selama uji publik  berlangsung lebih dari tiga pekan yang lalu. *** [Srie]

.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar