Jumat, 11 Januari 2013

Agar Tidak “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum”, Ini Solusi Mendikbud!


Srie, - Salah satu kritikan masyarakat atas rencana perubahan kurikulum adalah terungkap pada kata-kata sindiran “ganti menteri, ganti kurikulum”.
Ungkapan ini menunjukkan sebuah sinisme masyarakat bahwa pergantian keurikulum lebih didasarkan atas selera menteri pendidikan untuk berbeda dari menteri sebelumnya.
Caranya, tentu saja dengan mengganti kurikulum pendidikan yang sudah dibuat pada era menteri pendahulunya. Mendikbud, Mohammad Nuh, sempat mengakui adanya sindiran miring seperti itu.
Namun, ia mengatakan, bahwa perubahan kurikulum merupakan keharusan, karena dunia juga terus berubah.
Dikatakannya, perubahan kurikulum di Indonesia berdasarkan kebutuhan akan masa depan bangsa ini agar memiliki kemampuan yang lebih dapat bersaing di dunia internasional.
"Pengembangan dan perubahan kurikulum ini adalah sesuatu yang lazim saja untuk menciptakan anak didik yang kompeten dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Nuh, pada akhir Nopember lalu. [Baca: Mendikbud: Ganti Menteri Ganti Kurikulum, Ada Benarnya].
Belakangan, M. Nuh memunculkan gagasan agar kurikulum baru tidak segera berganti seiring dengan pergantian menteri pendidikan. Caranya, kata dia, dengan memberikan payung hukum berupa Peraturan Pemerintah (PP) untuk kurikulum pendidikan.
“Biasanya, kurikulum diatur dengan Peraturan Menteri, sehingga ada istilah ganti menteri ganti kurikulum. Dengan PP diharapkan (kurikulum) tidak serta merta bisa berubah (ketika terjadi pergantian menteri yang baru),” ujar Mendikbud, Senin (7/1), sebagaimana diberitakan di sini.
Mantan Rektor ITS ini menambahkan, payung hukum berupa PP merupakan salah satu di antara tiga skenario yang disiapkan oleh kemendikbud untuk memastikan kelangsungan kurikulum baru tersebut berumur lebih panjang.
Skenario kedua, lanjutnya, adalah melalui penerapan kurikulum baru secara bertahap, yaitu dimulai dari kelas I, IV, VII dan X pada tahun pertama, dan dilanjutkan untuk kelas-kelas lainnya pada dua tahun berikutnya.
Pada tahun 2013 ini, misalnya, hanya diberlakukan kurikulum baru pada 30 persen dari jumlah sekitar 170.000  sekolah pada jenjang SD, yang dilakukan secara proporsional untuk masing-masing wilayah provinsi dan kabupaten/kota.
Sementara untuk jenjang SMP dan SMA atau sederajat, pada 2013 akan diberlakukan seluruhnya untuk kelas X.
Adapun skenario ketiga, agar kurikulum baru bisa berumur panjang, kata Nuh, kurikulum ini harus merasa dimilikim oleh masyarakat. Caranya, adalah dengan melibatkan masyarakat sejak awal pembuatan kurikulum baru, seperti yang dilakukannya melalui uji publik.
Sebelumnya, beberapa pengamat dan praktisi pendidikan bersikap skeptis mengenai masa berlaku kurikulum baru. Menurut mereka, nasib kurikulum 2013 diperkirakan akan sama saja dengan kurikulum KTSP yang cuma berumur pendek, sekitar 6 tahun. [Baca pendapat mereka di sini] *** [Srie]


4 komentar:

  1. "perubahan kurikulum di Indonesia berdasarkan kebutuhan akan masa depan bangsa ini agar memiliki kemampuan yang lebih dapat bersaing di dunia internasional"
    ?????????????????????

    Gimana Anak Indonesia mau bersaing dengan dunia Internasional Pa!, kalau mapel TIK ditiadakan.
    sekarang di Negara luar aja untuk ICT mereka lebih maju dari Indonesia. ketika TIK ditiadakan apa jadinya dengan generasi selanjutnya.

    Pa! Mentri Cobalah berfikir yang bijak jangan asal-asalan.


    BalasHapus
  2. saya ingin bertanya soal pergantian kurikulum bari ( Kurikulum 13 ) atas atas dasar apa dan motivasi apa yang membuat terjadi perubahan kurikulum ?............. ya kalau pada kurikulum 1965 sampai kurikulum 1975 sampai kurikulum 1984 pendidikan di Indonesia terkesan lebih maju jika dibandingkan dengan negara - negara tetangga seperti singapur, malaysia pada waktu itu sedangkan terjadi perubahan kurikulum menjadi kurikulum 2004, KTSP bahkan mau diganti lagi menjadi kurikulum baru 2013 terkesan Pendidikan diIndonesia menmgalami kemunduran mengapa demikian ? menurut hemat saya bahwa jika terjadi perubahan kurikulum menjadi kurikulum 2013 bagi sya skan lebih terpuruk lagi bagi saya penyebabnya karena POLITIK SUDAH MENDOMINASI PENDIDIKAN SEHINGGA Perubahan kurikulum baru ini kurang begitu mengalami perubahan secara pgogres utk ini usul saya sebaiknya kembalikan kurikulum baru ke masa yg dulu jauh lebih baik sehingga output kembali menjadi lebih berkompeten. Tris kasih

    BalasHapus
  3. ya! kira2 seperti itu

    BalasHapus
  4. mau maju dan bersaing dengan dunia internasional, kok malah Teknologi Informasi dan Komunikasi di hapus, globalisasi segala sesuatu berorientasi pada Teknologi, bagaimana mau maju, kalau penggunaan aplikasi paket di Windows saya, seperti word, excel dsb tidak tahu/tidak mengerti ??????

    BalasHapus