Senin, 14 Januari 2013

Bahasa Inggris Sebagai Pengantar di RSBI, Ini Dampak Negatifnya!


Srie, - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membubarkan status RSBI/SBI pada Selasa (8/1) pekan lalu, ternyata sangat didukung oleh sebagian besar masyarakat.
Seorang pembaca Blog Srie yang tidak sempat menuliskan nama atau jati dirinya, sebut saja Anonim, misalnya, menilai keputusan MK tersebut sebagai langkah yang sangat tepat.
Ia menyebutkan adanya dampak negatif dengan pemaksaan penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam proses pembelajaran di sekolah. Di antaranya, adalah pertama, adanya pandangan yang rendah kepada guru-guru yang tidak mengajar dalam bahasa Inggris, seperti guru-guru di luar MIPA.
Kedua, guru-guru MIPA yang berusia di atas 50-an tahun, yang tidak bisa mengajar dengan Bahasa Inggris akan disisihkan, atau dialihkan mengajar mapel lain. Jika tidak mau, maka jam mengajar yang bersangkutan akan menjadi lebih sedikit, sehingga persyaratan untuk  sertifikasi yang mengharuskan minimal mengajar 24 jam pelajaran per minggu akan susah dipenuhi.
Ketiga, terjadinya situasi yang memprihatinkan, yaitu adanya pendampingan oleh guru bahasa Inggris kepada guru MIPA. Posisi yang demikian membuat situasi yang tidak nyaman bagi guru MIPA, karena seringkali justru dikomentari atau dikritik langsung mengenai caranya menggunakan Bahasa Inggris yang benar dalam pengajaran di depan murid-muridnya sendiri.
Keempat, adanya diskriminasi pemberian insentif, berupa tambahan honorarium yang lebih besar kepada guru-guru yang mengajarkan mata pelajaran dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
“Anehnya, guru Bahasa Inggris mengajar dalam bahasa Inggris justru diberi insentif yang besar,” katanya, Sabtu (12/1), di Blog Srie. [Baca: RSBI Dibubarkan, Ini TanggapanMendikbud: Legowo!]
Dampak negatif lainnya, kelima, akibat sulitnya memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar nilai 8, akhirnya nilai anak banyak dibuat yang fiktif. Bagi guru yang memberi nilai anak di bawah KKM, akan ditegur atau dimarahi, bahkan nilainya akan diganti tanpa sepengetahuan guru yang bersangkutan.
Keenam, akreditasi sekolah yang harus diisi oleh para guru tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya agar sekolah mendapat nilai yang baik. Sehingga, bagi guru yang mengisi penilaian sekolah dengan sejujurnya akan kecewa, karena saat pelaporan semua data diganti.
“Masih banyak lagi (hal) yang tidak menyenangkan yang dialami oleh guru-guru di sekolah RSBI,” pungkasnya.
Malaysia Taubat
Sementara itu, pembaca Blog Srie lainnya, Jumadi, mengatakan putusan penghentian Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam pembelajaran di sekolah elit itu dianggap tepat. Alasannya, kata dia, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama di RSBI telah menyebabkan terjadinya distorsi kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia.
Padahal, menurut seseorang yang mengaku pemerhati pendidikan ini, dalam Undang-Undang tentang bahasa menyebutkan bahwa bahasa pengantar pendidikan adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa asing.
Lantas, ia mengingatkan bangsa ini dengan membandingkan pengalaman negeri jiran, Malaysia yang dinilai telah gagal dalam mempertahankan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama di negerinya Mahathir Muhammad itu.
“Para pakar Malaysia sekarang mulai taubat terhadap kesalahannya yang dibuat beberapa dasawarsa yang lalu yang mewajibkan pengantar bahasa Inggris bagi sekolah-sekolah unggulan. Tolong camkan, Pak Menteri!,” ujarnya. *** [Srie]

Catatan: Kepada para pembaca berstatus Anonim, kiranya dapat mencantumkan identitas pribadi yang jelas saat memberikan komentar pada artikel di blog ini. Karena, amat dimungkinkan yang bersangkutan akan dimintai pendapatnya lebih lanjut atau komentarnya akan dikutip sebagai bagian dari pemberitaan mengenai masalah yang relevan di kemudian hari. Terima kasih, Salam, Red.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar