Selasa, 15 Januari 2013

Kecewa RSBI Dihapus, Alasannya Mana Bisa Diajar Guru Bule?


Oleh Srie
Apakah anda termasuk orang yang kecewa saat RSBI/SBI dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (8/1), pekan lalu? Jika jawabannya iya, tak perlu khawatir, karena ternyata banyak juga orang tua murid atau guru yang langsung kecewa.
Alasannya apa ya, mereka bisa kecewa? Tentu saja bisa macam-macam alasan. Mulai dari kekhawatiran mutu sekolah anaknya nanti turun. Ada juga yang bilang putusan MK tidak masuk akal.
Kok, bisa begitu? Katanya, apa yang menjadi alasan hakim MK membubarkan status sekolah elit dan dikenal berbiaya mahal itu tidak benar adanya.
Misalnya, RSBI dibilang diskriminatif, atau terjadi pengkastaan dalam pendidikan. Kata Wakil Kepala SMAN 1 Depok, justru itu tidak terjadi di sekolahnya.
Katanya, anak orang miskin pun diperbolehkan ikut sekolah, karena telah disediakan 20 % jatah kursi untuk golongan mereka yang tidak mampu.
“Kami sangat menyayangkan dan kecewa atas kepurusan MK itu. RSBI sudah berjalan 5 tahun, sudah sekian besar biaya dikeluarkan pemerintah, (jadinya percuma). Kami sudah sangat adil dengan yang tidak mampu, 20 persen untuk siswa miskin, gratis atau kasih keringanan,” kata Wirdan Achyar, Rabu (9/1), sebagaimana dikutip dari sini.
Lalu, soal bahasa Inggris dijadikan bahasa pengantar utama dalam pembelajaran yang dibilang hakim MK berpotensi menjauhkan pendidikan dari jati diri bangsa? Hmm.. kata Pak Mendikbud, tidak ada relevansinya nasionalisme dengan Bahasa Inggris.
Maka, tak heran, meski sebelumnya mantan Rektor ITS itu legowo menerima keputusan MK, namun masih saja sempat bertanya di hadapan Pak Mahfud MD, saat acara seminar pendidikan di Hotel Bidakara, Minggu (13/1) kemarin.
“Kalau ada sekolah yang top, ya itu, sekolah bertaraf internasional. Tapi, anehnya kok itu enggak boleh untuk memajukan pendidikan bangsa. Padahal kita kepingin membuat sekolah top itu,” kata Nuh, yang langsung diikuti senyum tawa para hadirian yang mendengarkannya.
Soal sekolah yang menarik bayaran tinggi dari orang tua murid? Ah, itu kan, katanya sudah kesepakatan komite sekolah, yang di dalamnya ada orang tua siswa.
Lagian, wali murid yang konon dikenal cukup kaya-kaya itu tidak mempermasalahkan untuk mengeluarkan uang cukup banyak setiap bulan. “Ini semua, kan demi kebaikan masa depan anak-anak kita juga,” kilahnya.
Pegiat ICW bilang, RSBI itu sudah dapat dana lebih besar dari uang negara, namun tetap memungut iuran mahal atas nama label internasionalnya. Kritik semacam ini pun, ternyata amat mudah untuk dipatahkan oleh mereka.
Kalau tidak ada sumbangan dari orang tua murid, katanya, mana mungkin sekolah  bisa menyediakan fasilitas belajar yang memadai. Sehingga, ketika MK menghapus status RSBI dan mengharuskan eks sekolah tersebut melarang memungut uang kembali, justru dikhawatirkan oleh para orang tua siswa.
“Khawatir, pasti ada. Karena programnya sudah bagus. Kita ingin sekolah yang terbaik. Takutnya, turun kualitasnya,” kata Yosi, orang tua siswa SDN Kebon Jeruk 11, Rabu (9/1).
Lalu ia menjelaskan mengenai program unggulan yang ada di sekolah anaknya. Katanya, dengan sumbangan sebesar Rp 210.000 per bulan dari wali murid, maka sekolah elit itu bisa menyediakan alat pendingan (AC) di ruangan kelas.
Sekolah juga bisa mengadakan tambahan jam pelajaran, 2 jam per hari, agar anak-anak SD dapat mengikuti kegiatan English Club. Apa itu?
Semacam kegiatan kursus bahasa Inggris dengan mendatangkan guru asing yang memang sudah terlahir menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari dengan ibunya.  Istilah kerennya, native speaker, atau penutur  “asli bule”.
Artinya, dengan tanpa label RSBI, maka sekolah anaknya dikhawatirkan akan kembali pada masa-masa dulu, di zaman pra internasional.
“Programnya (RSBI) sudah bagus. Kami sih kecewa. Kalau balik lagi ke zaman dulu, kan dapat pelajaran Bahasa Inggris-nya waktu di SMP, bukan di SD seperti saat ini,” ujar Yosi.
Satu lagi, mungkin, ini yang terpenting juga. Dengan dihapuskannya RSBI, lalu sekolah dilarang memungut biaya kepada orang tua siswa, katanya, mana mungkin sekolah  bisa mendatangkan guru “asli bule”.
“(Sekarang). Di sini, kan ada guru bule-nya,” imbuh Yosi.
Ada benarnya juga, sih. Seringkali, mereka cukup berpikir sederhana saja. Ah, jadi kasihan juga tuh guru bule, bisa di-PHK, deh. Hehehe… Salam persahabatan. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar