Selasa, 08 Januari 2013

Kelompok Peminatan Dimulai Kelas X SMA, Guru BK SMP Makin Berperan Penting


Srie, - Usai pelaksanaan tahap uji publik yang berakhir pada 23 Desember 2012 lalu, Kemendikbud telah memutuskan untuk menggunakan pola pengelompokan siswa SMA berdasarkan peminatan, menggantikan pola penjurusan yang berlaku saat sekarang.
Penerapan kelompok peminatan sudah dimulai sejak siswa menginjak di bangku kelas X, atau saat awal mula menjadi siswa SMA. Sebagai konsekuensinya, persiapan penjurusan harus telah dilakukan sejak siswa masih duduk di kelas VIII SMP.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Kemendikbud, Hamid Muhammad, mengatakan bahwa agar siswa tidak salah pilih dalam menentukan kelompok peminatan, maka peran guru SMP dalam membimbing siswanya jelang masuk SMA, perlu lebih diperkuat.
Dijelaskannya, pemberian bimbingan pada siswa wajib dilakukan oleh para guru SMP, terutama bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK), untuk mengantisipasi siswanya yang akan masuk SMA tidak salah memilih minat.
“Pembimbingan harus diperkuat. Ini menjadi tugas utama daru guru bimbingan konseling,” ujar Hamid, saat berada di Jambi, Senin (7/1) kemarin, sebagaimana diberitakan di sini.
Dalam hal ini, lanjut Hamid, guru BK memegang peran penting dalam mengarahkan para siswa untuk mengetahui minatnya masing-masing. Pernyataan ini, sekaligus pula untuk meyakinkan kepada para guru BK yang sebelumnya merasa tidak mendapatkan peran yang penting dalam kurikulum 2013.  
Dengan adanya tambahan tugas dalam mempersiapkan siswa menentukan kelompok peminatan di SMA, diharapkan pula makin memperkuat kesan positif siswa bahwa guru BK tidak identik dengan guru yang suka mengurusi siswa bermasalah saja.
Kepala Sekolah, juga dianggap berperanan penting dalam memberikan pengarahan bagi siswa-siswinya. Sehingga, ia dapat mendukung persiapan siswa saat akan melanjutkan pada jenjang sekolah menengah atas.
Ia menambahkan, berkaitan dengan hal tersebut, maka Kemendikbud akan menatar terlebih dahulu para kepala sekolah dan guru agar memiliki kesiapan dalam mengarahkan siswa dengan baik dan benar.
“Kepala sekolah dan guru akan ditatar duluan, sehingga bisa mengarahkan anak dengan tepat,” ujarnya.
Seperti diketahui, perubahan dalam pola pengelompokan siswa SMA merupakan dampak dari penerapan  kurikulum baru yang akan dimulai pada pertengahan tahun 2013 ini. Pada pengelompokan peminatan masih terdapat tiga kelompok yang sama, yaitu IPA, IPS dan Bahasa.
Bedanya, pada pengelompokan peminatan, di samping siswa memperoleh materi wajib, juga dibebaskan untuk memilih materi pilihan yang disukai, di luar materi wajib berdasarkan kelompok peminatan yang dipilihnya. [Baca: Kurikulum Baru, SiswaSMA Bebas Pilih Mapel yang Disukai]
Pada pola penjurusan, siswa jurusan IPA, misalnya, hanya terbatas menerima materi pelajaran yang terdapat pada jurusan IPA. Sementara itu, pada pengelompokan peminatan, siswa IPA dapat memilih materi lain di luar kelompoknya.
Misalkan, siswa IPA berminat mengikuti pelajaran Ekonomi, maka ia boleh memilih Ekonomi dan ikut belajar pada kelas Ekonomi. Begitupun sebaliknya, bagi siswa IPS atau Bahasa, diperbolehkan memilih materi pilihan yang sebenarnya termasuk dalam kelompok peminatan IPA.
"Jadi yang ambil IPA tapi suka ekonomi boleh ambil itu mata pelajaran. Yang pasti tidak ada lagi stigma IPA itu anak pintar, IPS yang santai atau bahasa yang tidak diterima dua-duanya. Semuanya sama dan anak-anak bisa ambil apa yang jadi minatnya," pungkas Hamid. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar