Selasa, 08 Januari 2013

RSBI Dibubarkan, Ini Tanggapan Mendikbud: Legowo!


Srie, - Hari selasa (8/1) ini, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa dasar hukum yang digunakan bagi penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) atau Sekolah Rintisan bertaratf Internasional (RSBI) dianggap inkonstitusional.
Konsekuansinya, RSBI/RSBI dinyatakan bubar, dan menjadi sekolah biasa tanpa label internasional. [Baca: Mahkamah Konstitusi:RSBI Dinyatakan Bubar!]
Lantas, bagaimanakah tanggapan dari Mendikbud, Mohammad Nuh? Mantan Rektor ITS ini menyatakan bahwa dirinya menghargai apapun keputusan MK.
"Tadi sudah diputuskan. Meski saya belum bisa mendapatkan putusan utuhnya, tapi apapun itu pemerintah sangat menghormati dan menghargai," kata Nuh dalam konferensi persnya di Kantor Kemendikbud, Selasa (8/1/2013), sebagaimana diberitakan di sini.
Nuh menjelaskan, bahwa keberadaan RSBI/SBI tak terlepas dari semangat reformasi yang hendak mengembalikan bangsa ini untuk dapat bangkit dari keterpurukan krisis ekonomi dan krisis politik di akhir kekuasaan era Orde Baru (Orba).
Semangatnya, adalah ingin mensejajarkan diri dengan negara-negara lain yang sudah maju. Oleh karena itu, diadakanlah RSBI/SBI sebagai bagian dari upaya tersebut dalam bidang pendidikan.
Namun, ketika sekarang sudah diputuskan oleh MK bahwa RSBI/SBI harus bubar, maka pihak Kemendikbud menyatakan legowo, atau menerima dengan baik keputusan itu.
"Pemerintah tidak merasa kalah menang. Tinggal menjalannkan saja. Monggo kalau nggak boleh ada RSBI," ujar Nuh.
Selanjutnya, Nuh meminta para orang tua siswa yang belajar di RSBI untuk tidak perlu khawatir dengan keluarnya keputusasn MK tersebut. Dikatakannya, meski tanpa embel-embel RSBI atau label internasional, namun siswa akan tetap bisa belajar dengan baik. Guru di sekolah eks RSBI pun diminta untuk tetap semangat dalam mengajar anak didiknya.
"Tetap saja bagi orang tua tidak perlu khawatir, anak tetap sekolah seperti biasa. Belajarnya tetap. Guru juga harus tetap semangat. Tanpa RSBI, juga bisa jadi lebih baik," kata Nuh saat jumpa pers yang sama terkait pasca putusan MK atas pembatalan RSBI, sebagaimana dikutip dari sini 
Beberapa waktu sebelumnya, Mendikbud sangat begitu bersemangat untuk membela keberadaan RSBI/SBI. Bahkan secara terang-terangan, ia menaganggap tidak ada hal yang dilanggar atau tidak ada yang salah dengan pengembangan sekolah yang dimaksudkan untuk menjadikan bangsa Indonesia dapat bersaing di tingkat internasional itu. [Baca: ApaSalahnya RSBI?].
MK sendiri memutuskan perkara RSBI ini setelah menjalani proses persidangan yang sangat panjang. Bahkan, pembacaan keputusannya sendiri dianggap oleh pemohon terkesan ditunda-tunda.
Sehingga, secara keseluruhan memakan waktu lebih dari satu tahun sejak pendaftaran perkara, pada Akhir Nopember 2011 oleh komponen masyarakat yang menamakan dirinya Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP).
Di antara pertimbangan MK dalam membatalkan pasal 50 UU Sisdiknas yang menjadi landasan hukum bagi pemerintah dalam menyelenggarakan RSBI/SBI itu adalah adanya perlakuan diskriminasi di dunia pendidikan yang bertentangan dengan prinsip konstitusi, di mana negara harus memperlakukan secara sama bagi warga negaranya.
Pertimbangan lainnya, adalah terkait penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dalam proses pembelajaran di RSBI/SBI yang dinilai MK dapat menjauhkan pendidikan dari jati diri bangsa. *** [Srie]

Catatan: Baca juga, "Usai RSBI Bubar, Apa Renacana Kemdikbud Selanjutnya? Ada Hibah Kompetensi!"





5 komentar:

  1. Jumadi, pemerhati pendididikan.12 Januari 2013 17.20

    Menurut saya keputusan MK dengan membubarkan RSBI sudah tepat. Hal ini didasarkan kepada beberapa hal. Pertama, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar di kelas-kelas RSBI/SBI tidak lebih baik daripada kelas-kelas yang non-RSBI/reguler karena guru RSBI hanya sibuk dengan memperbaiki cara mengajar dengan bahasa Inggris, yang ujung-ujungnya subtansi materi tidak tersampaikan dengan baik. Kedua, biaya kelas-kelas RSBI sangat tinggi sehingga hanya bisa dijangkau oleh anak-anak orang yang mampu; anak berprestasi dari golongan yang tidak mamupu akan tersisih. Ini jelas terjadi diskriminasi, yang jelas tidak selaras dengan pemerataan pendidikan. Ketiga, sekarang telah terjadi distorsi kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Padahal, dalam Undang-Undang bahasa disebutkan bahwa bahasa pengantar pendidikan adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa asing. Dalam hal ini kegagalan Malaysia dalam mempertahankan bahasa Melayu hendaknya menjadi tamsil bagi kita. Para pakar Malaysia sekarang mulai taubat terhadap kesalahannya yang dibuat beberapa dasawarsa yang lalu yang mewajibkan pengantar bahasa Inggris bagi sekolah-sekolah unggulan. Tolonnnnnng camkan, Pak Menteri!

    BalasHapus
  2. keputusan MK untuk membubarkan RSBI/SBi sudah tepat karena banyak sisi negatifnya. Pertama, adanya pandangan yang rendah kepada guru2 yang tidak mengajar dalam bahasa Inggris, seperti guru2 di luar MIPA. Kedua, guru2 MIPA yang berusia di atas 50-an, yang tidak bisa mengajar bahasa Inggris disisihkan bisa dengan mengajar mapel lain atau diberi jam mengajar sedikit sehingga untuk syarat sertifikasi susah dipenuhi. ketiga, yang memprihatinkan lagi adalah adanya pendampingan oleh guru bhs Inggris kepada guru MIPA. mereka hanya duduk-dudk saja dan memberi komentar yang kadang-kadang menyakitkan. Dengan tidak mengajar (memberi materi, memberi penilaian, memberi remedi dll) mendapat insentif yang besar. Keempat, adanya penghargaan yang lebih kepada guru2 MIPA dan bhs. Inggris dalam bentuk insentif. Yang anehnya, guru bhs Inggris mengajar dalam bahasa Inggris diberi insentif yang besar.Kelima. KKM yang harus diterapkan adalah 8. KKM ini sangat sulit dicapai sehingga akhirnya nilai anak banyak yang fiktif. bagi guru yang memberi nilai anak di bawah KKM akan dimarahi bahkan nilainya akan diganti tanpa sepengetahuan guru ybs. Keenam, Akreditasi sekolah yang harus diisi oleh para guru tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya agar sekolah mendapat nilai yang baik sehingga bagi guru yang mengisi penilaian sekolah dengan sejujurnya kecewa karena saat pelaporan semua data diganti, dan masih banyak lagi yang tidak menyenangkan yang dialami oleh guru2 di sekolah RSBI.

    BalasHapus
  3. Indonesia banget kalau urusan remeh meremehkan

    BalasHapus
  4. benar tuh harus dihapus agar tidak ada diskriminasi antar sekolah

    BalasHapus
  5. maksih banayk untuk informasinya nih gan!

    BalasHapus