Jumat, 11 Januari 2013

Usai RSBI Bubar, Apa Rencana Kemdikbud Selanjutnya? Ada Hibah Kompetensi!


Srie, - Hari Selasa (8/1) lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan mengenai landasan hukum penyelenggaraan RSBI/SBI sebagai tidak konstitusional. 
Akibatnya, sekolah yang diarahkan bertaraf internasional ini dinyatakan bubar. [Baca: MK: RSBI Bubar!]
Mendikbud, Mohammad Nuh sendiri telah menyatakan penerimaannya secara legowo atas keputusan MK itu. Dikatakannya, pelarangan sekolah yang berlabel internasional itu bukan merupakan kekalahan bagi pemerintah.
"Pemerintah tidak merasa kalah menang. Tinggal menjalankan saja. Monggo kalau nggak boleh ada RSBI," ujar Nuh. [Baca: RSBI Dibubarkan, Ini Tanggapan Mendikbud!].
Lantas, usai pembubaran RSBI/SBI, bagaimanakah rencana Kemendikbud selanjutnya? Nuh menandaskan, saat ini pihaknya masih akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan MK, dan dinas pendidikan di daerah.
“Saat ini, koordinasi dengan MK, Dinas Pendidikan Provinsi, kabupaten/Kota untuk menyelesaikan tindak lanjut putusan itu,” jelas Nuh, saat memberikan jumpa pers di Kantor Kemendikbud, Selasa (8/1), sebagaimana diberitakan di sini.
Namun, ia juga mengemukakan rencananya yang baru pasca putusan MK membubarkan RSBI. Yaitu, kemendikbud akan menerapkan hibah kompetensi sekolah.
Menurut Mendikbud, penerapan hibah ini merupakan solusi alternatif peningkatan kompetensi sekolah. Dengan demikian, lanjutnya, pembubaran RSBI tidak akan menyurutkan semangat Kemendikbud untuk terus meningkatkan mutu sekolah.
“Meskipun tidak ada RSBI, semangat untuk meningkatkan kualitas sekolah, akses pendidikan, tidak boleh turun,” ujarnya.
Ditambahkannya, pada taraf implementasi, semua sekolah akan mengikuti proses penyaringan program peningkatan kualitas pendidikan yang dijalankan oleh sekolah masing-masing. Adapun masa berlaku hibah adalah satu tahun, dan akan diperbaharui pada setiap tahunnya.
“Jadi, sekolah yang sama tidak akan serta merta menerima hibah pada tahun berikutnya,” jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan dasar, Suyanto mengatakan, untuk memperoleh dana hibah kompetensi itu, sebanyak 1300-an bekas RSBI di seluruh Indonesia akan bersaing juga dengan sekolah-sekolah non eks RSBI.
Saat ditanya mengenai status RSBI usai dinyatakan bubar, Suyanto menganggap sebagai bukan masalah yang mendesak. Dikatakannya, pihak kementerian masih memikirkan bentuk yang tepat untuk sekolah bekas RSBI yang ada di seluruh Indonesia.
Hingga saat ini, lanjut ia, pembahasan terkait hal tersebut terus dilakukan agar tidak salah langkah.
"Belum menentukan. Yang pasti program unggulan di sekolah-sekolah tersebut harus tetap berjalan," kata Suyanto, Rabu (9/1), sebagaimana diberitakan di sini.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus untuk membenahi berbagai masalah regulasi yang selama ini menanungi keberadaan RSBI. Di antaranya, meliputi tata kelola RSBI, maupun pengaturan anggaran dan penyaluran bantuan.
Sebelumnya ia menjelaskan, bahwa pada awal pendirian RSBI, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 500 juta per sekolah per tahun, dan untuk selanjutnya besar bantuan adalah Rp 200 juta per sekolah RSBI per tahun.
Terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah bekas RSBI usai putusan MK, ia menegaskan agar tetap berjalan sebagaimana biasa.
"Kualitas tidak boleh turun. Sistem belajar-mengajarnya tetap diteruskan. Bahasa Indonesia harus hebat. Bahasa asing juga tetap jalan. Bukan berarti bisa bahasa asing lalu nasionalisme berkurang. Nasionalismenya tetap hebat seperti banyak tokoh bangsa," tegas Suyanto. *** [Srie]
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar