Sabtu, 23 Februari 2013

Anas Tersangka, Rakyat Bernyanyi


Oleh Srie

Jum’at (22/2) sore, Anas akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus, yang oleh juru bicara KPK, Johan Budi, terkait dengan proyek Hambalang dan proyek lainnya.

Secara hukum, benar atau tidak sangkaan KPK itu masih perlu dibuktikan di pengadilan Tipikor nanti. Namun, suatu hal yang pasti, Anas menambah panjang daftar nama para politisi yang tersangkut korupsi.

Kekuasaan, memang kerap cenderung dimanfaatkan untuk melakukan tindak pidana korupsi. Ketika hukum masih belum benar-benar tegak secara adil, maka kekuasaan adalah pemegang kendali sesungguhnya.

Saat itu, korupsi adalah praktek nyata sehari-hari bagi para politisi. Mereka yang tersangkut hukum hanyalah buah dari adu kekuasaan belaka, atau nasib sial yang sedang apes sedang menimpa dirinya.

Ibarat sebuah permainan, korupsi hanyalah bentuk lain dari latar panggung adu kartu truf kekuasaan antar sesama para koruptor sejati. Mereka yang terjerembab korupsi, tak lain lebih sebagai pemain yang kalah memainkan kartu truf yang dimiliki.

Mereka yang menang, tunggulah saatnya untuk menunggu giliran ketika wajah sebenarnya sang koruptor terbuka dari topeng yang selama ini setia menutupinya.

Tentu saja, adu ketangkasan permainan itu menyajikan pula orkestra dari sebuah tim temporer atas nama kepentingan politik yang bertali temali dengan nafsu penguasaan materi.

Ada nyanyian tentang kisah Century, ada cerita mumi BLBI, ada epik Hambalang, ada balada pajak yang ngemplang, ada lantunan kitab suci al-Qur’an, dan ada sajian daging sapi.

Semuanya disuguhkan, untuk mempertontonkan sebuah atraksi pembenaran atas klaim diri sebagai pahlawan, dan lawannya adalah sang pecundang.

Tujuannya, adalah agar rakyat bersorak, terpesona, lalu kembali terpedaya, untuk merelakan mandat kekuasaan kepada para wakilnya.

Lima tahun sekali. Atas nama, demokrasi. Padahal, sejatinya adalah praktek nyata dari sebuah ritual akrobat korupsi.

Seolah saling berkompetisi, nyatanya mereka berkolaborasi. Berlomba menjarah uang negara, bersama-sama bancakan uang rakyat.

Cukuplah rakyat untuk menikmati sisa-sisa remah pesta santapan mereka. Atas nama keberpihakan, dan kepedulian. Lagu itu terus dilantunkan, tentang kemajuan negeri, tentang kesejahteraan masa depan.

Entah, sampai kapan nyanyian itu sungguh-sungguh menjadi kenyataan! Atau, rakyat keburu muak, di negeri yang kian terasa sengak. Untuk kemudian berdendang, menyanyikan lagunya sendiri, tentang apapun…

Tentang reformasi, tentang revolusi, tentang tirani, tentang anarki, tentang frustrasi yang nyaris tiada bertepi. Hingga, tentang negeri yang hendak bunuh diri… *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar