Rabu, 20 Februari 2013

Anggaran Kurikulum 2013 Membengkak, Peneliti ICW: Siasat Kemdikbud


Srie, - Peneliti dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Siti Juliantari Rachman menduga, terjadinya pembengkakan anggaran perubahan kurikulum dilakukan secara sengaja oleh pihak Kemdikbud.
Tujuannya, kata Tari, sapaan Siti Juliantari Rachman, untuk menyiasati agar dalam pembahasan dengan Komisi X DPR, anggaran yang sebenarnya sangat besar itu dapat lolos dan disetujui oleh DPR.
Ia menduga, Kemdikbud sejak awal telah mengantongi anggaran Kurikulum 2013 sebesar Rp 2,491 triliun.
Namun, lanjutnya, karena anggaran sebesar itu dinilai terlalu mencolok dan diprediksi akan sulit memperoleh persetujuan DPR, maka angkanya sengaja dipangkas terlebih dahulu menjadi Rp 684 miliar saja.
Pada tahap berikutnya, secara bertahap angka itu dinaikkan menjadi Rp 1,4 triliun, dan terakhir naik lagi menjadi angka yang sebenarnya, yaitu Rp 2,491 triliun.
“Yang ini sangat mungkin terjadi. Pemerintah sudah tahu bahwa perubahan kurikulum butuh biaya besar. Tapi, karena takut tidak disetuji oleh DPR, dibuat dulu dengan anggaran yang minim,” kata Tari, saat jumpa pers Koalisi Tolak Kurikulum 2013, Jum’at (15/2), di kantor ICW, Kalibata, Jakarta.
Tari menambahkan, siasat anggaran yang dilakukan oleh Kemdikbud itu terkait dengan peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN 2013.
Menurutnya, sebelum ada program perubahan kurikulum ini, Kemdikbud hanya berencana untuk melakukan penataan ulang dan penguatan atas kurikulum KTSP dengan anggaran biaya sebesar Rp 300 miliar untuk waktu selama tiga tahun.
Agar ada alasan untuk menaikkan anggaran pendidikan dengan angka yang tinggi, kata dia,  maka rencana penguatan kurikulum KTSP diubah menjadi pergantian kurikulum.
“Dengan perubahan kurikulum secara menyeluruh, ini kan berarti mengganti buku dan lain-lain. Jadi, butuh biaya besar yang dampaknya menaikkan anggaran pendidikan,” tandasnya.
3 Kemungkinan
Sebelumnya, dalam penjelasan terkait anggaran kurikulum ini, Tari menguraikan mengenai berbagai kemungkinan mengapa sampai terjadi pembengkakan anggaran.
Ia menyebut tiga kemungkinan terjadinya anggaran kurikulum yang berubah-ubah dan akhirnya dinilai publik sebagai pembengkakan anggaran yang luar biasa.
Kemungkinan pertama, Kemdikbud ingin mengubah kurikulum dengan cara melakukan uji coba terlebih dahulu, sehingga pada tahap awal hanya memutuhkan dana Rp 648 miliar, dan selanjutnya anggaran bertambah sesuai dengan pelaksanaan tahapan berikutnya.
Kemungkinan kedua, Kemdikbud telah melakukan kesalahan penyusunan anggaran, sehingga terjadi anggaran kurikulujm yang terus berubah-ubah, dan terkesan tidak ada kepastian berapa sebenarnya anggaran yang dibutuhkan.
Tari memastikan, kemungkinan pertama telah dibantah sendiri oleh Kemdikbud, yang secara tegas mengatakan tidak ada proyek uji coba dalam kurikulum baru.
Untuk kemungkinan kedua, ia pun  memastikan sulit untuk bisa terjadi pada lembaga sekelas Kemdikbud yang banyak diisi oleh orang-orang yang sangat kompeten dengan masalah penyusunan anggaran.
Maka, dugaan pembengkakan anggaran kurikulum baru disebabkan oleh kemungkinan ketiga, yaitu Kemdikbud memang sengaja melakukannya untuk menyiasati anggaran yang sangat besar itu agar lolos dan disetujui oleh Komisi X DPR.
Untuk diketahui, pada awal Februari lalu, anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mengaku sempat kaget atas anggaran Kurikulum 2013 yang berubah-ubah dan membengkak secara spektakuler. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar