Kamis, 07 Februari 2013

Anggota DPD: Guru di Daerah Belum Siap Terapkan Kurikulum 2013


Srie, - Boleh saja Mendikbud, Mohammad Nuh, mengungkapkan optimismenya terkait kesiapan para guru di daerah dalam menyambut penerapan kurikulum baru.
Akan tetapi, hasil pemantauan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Padang dan Bengkulu mengenai hal yang sama diperoleh informasi yang agak berbeda.
Dalam sebuah pertemuan antara anggota Komite III DPD, Emma Yohana, dengan unsur pelaku pendidikan di Padang, Sumatera Barat, Rabu (6/2) kemarin, terungkap bahwa sebenarnya para guru di daerah ini belum siap melaksanakan pergantian kurikulum yang dimulai pada pertengahan Juli nanti.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PGRI Sumbar, Zainal Akil secara tegas menyatakan bahwa para guru di wilayahnya belumlah memahami sepenuhnya substansi dari kurikulum baru.
Menurutnya, banyak guru yang cuma tahu “kulitnya” saja, terutama pada saat dilakukan uji publik Kurikulum 2013 pada Desember tahun lalu.
"Memang ada road show, tapi itu tidak efektif. Sebab, diadakan dengan peserta yang banyak, hanya diselenggarakan di sebagian daerah yang pesertanya tidak menangkap dengan baik dan tidak membagikan pengetahuannya tentang kurikulum baru itu pada guru lainnya," kata Zainal, sebagaimana diberitakan di sini.
Ia pun menyangsikan efektifitas pelatihan guru melalui model master teachers, mengingat waktunya yang sangat pendek jelang tahun ajaran baru yang rencananya secara bertahap sudah dimulai penerapan kurikulum baru.
Sehingga, lanjutnya, dengan waktu yang masih tersisa sekitar empat bulan lagi, andaikan pelatihan guru harus terpaksa  dilaksanakan, maka hasilnya diperkirakan tidak akan maksimal.
Menanggapi hal tersebut, anggota DPD, Emma Yohana, berjanji akan menyampaikan aspirasi para pelaku pendidikan itu ke Jakarta untuk disampaikan ke DPR RI dan pemerintah pusat sebagai bahan evaluasi.
“Apa yang kita dapatkan tadi merupakan aspirasi yang akan kita perjuangkan di pusat. Sehingga, penerapan Kurikulum 2013 ini bisa sesuai tujuan tanpa ada yang dirugikan,” kata Emma.
Bengkulu Siap 30-40 Persen
Hal yang hampir sama terungkap pula saat anggota DPD asal Bengkulu, Mahyudin Sobri, meninjau kesiapan daerahnya jelang penerapan kurikulum baru melalui acara diskusi dengan sejumlah pihak yang terkait dengan pendidikan.
Mahyudin mengatakan, berdasarkan paparan dari pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu, daerah ini dinyatakan siap melaksanakan kurikulum baru. Namun, kesiapannya masih berada pada tingkatan yang rendah.
“Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu menyatakan siap melaksanakan kurikulum baru. Tapi secara keseluruhan, hasil pertemuan tadi kesiapannya masih rendah,” ungkapnya, Selasa (5/2), di Bengkulu, sebagaimana diberitakan di sini.
Kepala Bidang Kurikulum Disdik Provinsi Bengkulu, Budianta mengakui kenyataan tersebut. Ditegaskannya, bahwa kesiapan guru di wilayahnya belumlah maksimal.
“Para pelaku pendidikan daerah itu pada dasarnya siap melaksanakan kurikulum baru. Tapi persentase kesiapan pelaksanaan tersebut tidak akan maksimal 100 persen. Mungkin hanya 30 sampai 40 persen saja,” jelas Budianta.
Ia menambahkan, untuk saat ini saja pihaknya, dan para guru masih disibukkan untuk persiapan ujian akhir dan berbagai kegiatan lain yang sudah diprogramkan terlebih dahulu. Untuk semuanya itu, kata dia, sudah memakan banyak waktu hingga Juni 2013.
Menanggapi temuan itu, anggota DPD, Mahyudin mengatakan, bahwa kondisi kurang siapnya pelaksanaan kurikulum baru di daerah seperti itu tidak hanya terjadi di Bengkulu. Namun, lanjutnya, hal yang sama terjadi secara merata di hampir seluruh daerah di Indonesia.
Menurutnya, keadaan ini disebabkan oleh belum maksimalnya sosialisasi yang dilakukan oleh Kemdikbud. Rencana Kemdikbud yang akan melatih guru daerah ke Jakarta melalui model master teachers juga dinilai tidak akan maksimal.
Alasannya, anggaran untuk keperluan itu di APBN belum disediakan oleh pihak DPR. Ia berjanji, bahwa hasil kunjungan yang dilakukan oleh pihaknya akan dijadikan sebagai dasar masukan kepada Kemdikbud.
“Bila mayoritas daerah belum siap menerapkan kurikulum baru, sebaiknya ditunda saja,” simpulnya.
Pekan lalu, Mendikbud, Mohammad Nuh mengungkapkan optimismenya mengenai implementasi kurikulum 2013 yang secara bertahap akan dimulai pada pertengahan Juli nanti.
Saat berada di Jepara, Jawa Tengah, hari Minggu (3/2) lalu, Nuh menyatakan bahwa para guru di daerah terlihat antusias dalam menyambut penerapan kurikulum baru.
Dikatakan oleh Nuh, banyak guru yang ditemuinya di berbagai daerah telah menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan kurikulum 2013, bahkan ada yang merasa sudah tidak sabar lagi.
“Guru-guru ini malah antusias sekali. Para guru ini kan pelakunya. Yang jadi pelaku saja siap, kenapa yang di atas masih bermasalah,” kata Nuh.
Bahkan, Nuh sempat mengatakan bahwa kalangan politisi yang selama ini dinilai kritis atas rencana implementasi Kurikulum 2013 dianggap kurang memahami apa yang sebenarnya terjadi di daerah.
“Kawan-kawan politik tidak melihat itu. Pemain utamanya saja enggak apa-apa kok,” ujarnya. [Baca:Tanpa Bikin Silabus, Mendikbud Klaim Guru Antusias Terapkan Kurikulum Baru]. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar