Senin, 18 Februari 2013

Angka Putus Sekolah Masih Tinggi, Mendikbud Ajak Pemda Buka Posko


Srie, - Mendikbud, Mohammad Nuh, mengatakan angka putus sekolah di Indonesia masih tergolong cukup tinggi. 

Ia menyebutkan, untuk data pada tahun 2007, dari total anak yang masuk SD, hanya 80 persen saja yang sampai tamat, sisanya 20 persen putus sekolah.

Sementara itu, dari 80 persen anak yang tamat SD, hanya 61 persen saja anak yang melanjutkan ke jenjang SMP, sisanya 39 persen tidak sekolah lagi. Dari total anak yang masuk SMP itu, hanya 48 persen saja yang masih berlanjut hingga tamat memperoleh ijazah SMP.

"Tentu, ini adalah jumlah yang sangat memprihatinkan, mengingat pendidikan SD--SMP merupakan pendidikan dasar yang seharusnya dimiliki oleh seluruh generasi muda Indonesia saat ini," kataNuh, Sabtu (9/2) di Banjarmasin, Kalsel.

Selanjutnya, dari total 48 persen anak yang tamat SMP itu, kurang separuhnya yang melanjutkan ke jenjang SMA, atau sekitar 21 persen saja.

Dari total 48 persen itu pula, jumlah anak yang sampai lulus SMA hanya 10 persen, sedangkan mereka yang melanjutkan hingga ke perguruan tinggi hanya sekitar 1,4 persen saja.

Pada tahun 2011, terdapat kenaikan, yaitu dari angka 61 persen anak yang lanjut ke SMP menjadi 70 persen. Sedangkan, mereka yang memasuki perguruan tinggi, naik dari 1,4 persen menjadi 4,4 persen.

Gerakan Serempak

Menurut Nuh, upaya menekan angka putus sekolah memerlukan gerakan yang serempak, bukan hanya dilakukan oleh pemerintah kabupaten, provinsi, maupun  pusat. Namun, juga oleh guru, kepala sekolah, dan pihak lainnya.

Setiap sekolah, kata Nuh, harus memiliki data anak didiknya, dan mengawal mereka hingga lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sehingga, bila ada anak yang tidak melanjutkan sekolah, maka kepala sekolah atau guru wajib mendatangi ke rumahnya, dan ikut mengantarkan untuk mendaftar ke sekolah yang diinginkan.

“Karena, telah ada jaminan beasiswa yang secara otomatis berkesinambungan. Jemput anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah dan antar, serta daftarkan. Ini adalah tanggung jawab sosial kita,” ujarnya.

Buka Posko

Masalah masih tingginya angka putus sekolah, diungkapkan kembali oleh Mendikbud saat berlangsungnya acara Rembuknas 2013 di Depok, pada tanggal 10-13 Februari lalu.

Bahkan, kali ini ia mengajak para kepala dinas provinsi dan kabupaten/kota untuk membuka posko untuk secara bersama-sama menguranginya.

“Karena jenjang pendidikan dasar adalah wajib, maka saya mengajak para kepala dinas bekerja sama dengan para kepala sekolah dan guru di masing-masing untuk membuka posko memantau siswanya yang tidak melanjutkan ke sekolah atau putus sekolah, kita harus mencarikan jalan keluar agar mereka tetap sekolah, tidak putus sekolah,” tegasnya.

Mantan Rektor ITS ini berharap, dengan adanya posko itu, angka putus sekolah pada jenjang SD, SMP dan SMA dapat ditekan semaksimal mungkin.

Ia pun kembali mengingatkan, bahwa pendidikan merupakan jalur terbaik untuk memperbaiki kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Kerena, menurutnya, biasanya anak orang miskin yang tidak sekolah akan menikah dengan orang miskin juga. Selanjutnya, mereka akan melahirkan anak-anak yang lebih miskin lagi yang membentuk rantai kemiskinan.

“Rantai kemiskinan ini yang harus kita putus, melalui pendidikan,” pungkasnya.

Data BPS, hasil Sensus Ekonomi Nasional (Susenas) 2008 menunjukkan siswa pria memiliki kecenderungan putus sekolah lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan, di mana untuk jenjang SD perbandingannya 044% (pria) : 0,43 % (perempuan), untuk SMP, 3,25 % : 3,14%, dan untuk SMA, 9,38 % : 7,44 %.



Angka putus sekolah merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan bidang pendidikan. Penyebab putus sekolah, antara lain kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan sebagai investasi masa depannya, keadaan ekonomi yang miskin, dan keadaan geografis yang kurang mendukung. *** [Srie].

Catatan: Baca juga, "Peringkat 5 Besar Provinsi Berdasarkan Angka Putus Sekolah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar