Rabu, 06 Februari 2013

Dianggap Tidak Adil, Orang Tua Siswa Kena Blacklist SNMPTN Gugat Aturan Panitia


Srie, - Kebijakan Panitia SNMPTN 2013 yang mengatur tentang sanski atas tindak pemalsuan data nilai rapor saat mendaftar SNMPTN digugat oleh orang tua siswa.
Pasalnya, aturan ini dinilai tidak adil bagi anaknya dan bagi siswa lain yang tidak bersalah namun ikut kena hukuman juga, alias tidak boleh mendaftar SNMPTN tahun ini.
Arief Jayadi, adalah salah satu orang tua siswa di SMAN 84 Jakarta Barat yang mengaku tidak menerima anaknya ikut dilarang mendaftar SNMPTN gara-gara ada salah seorang siswa di sekolahnya telah melakukan kecurangan data nilai rapor.
Ia merasa terkejut saat mengetahui  bahwa sekolah anaknya ternyata masuk dalam daftar hitam (blacklist) Panitia SNMPTN 2013. Menurutnya, sistem yang diterapkan oleh Panitia itu dinilai buruk dalam mengantisipasi adanya tindak kecurangan data.
"Yang saya sayangkan kalau ada kecurangan kenapa korbannya semua siswa sekarang? Anak-anak itu dikasih pengumuman sekolahnya di-blacklist dan enggak boleh ikut SNMPTN kan itu pada nangis. Dia enggak ada kesalahan apa dan enggak tahu apa-apa malah dibebankan ke mereka," tutur Arief, sebagaimana diberitakan di sini.
Ia berpendapat, seharusnya kesalahan yang dilakukan oleh seorang siswa jangan ditimpakan kepada sekolah, tapi cukup kepada siswa yang bersangkutan saja yang telah melakukan kecurangan.
Akibat aturan yang dinilai tidak adil ini, lanjutnya, harapan siswa lain agar bisa masuk PTN tanpa tes menjadi hilang.
"Jangan dibebankan ke sekolahnya, tapi ke orang dong. Akhirnya anak-anak yang enggak tahu apa-apa pada sedih. Yang berharap bisa masuk SNMPTN tanpa tes kan hilang kesempatan semua," protesnya.
Arief mengaku, dirinya telah melakukan komunikasi dengan pihak sekolah dan perwakilan Panitia SNMPTN 2013 di kampus UNJ, Jakarta. Harapannya, agar kebijakan yang dinilai tidak adil bagi siswa yang tidak bersalah itu dapat ditinjau ulang.
Ia mengkritisi adanya jatah masuk PTN tanpa tes atau melalui jalur undangan yang pada tahun ini lebih tinggi, yaitu mencapai 60 persen dari total mahasiswa yang diterima PTN.
Namun, kenaikan jatah tersebut tidak diiringi dengan perubahan aturan mengenai sanksi atas kesalahan pengisian data nilai rapor yang dilakukan oleh seorang siswa.
“Kalau aturannya begitu, coba ditinjau kembali. Hatinya dibuka. Apakah wajar anak-anak yang enggak kenal dosa tahu-tahu dikasih pengumuman SMA-nya tidak boleh ikut jalur undangan? Apa adil?,” gugatnya.
Sayangnya, gugatan yang dilakukan oleh Arief atau orang tua lain yang anaknya menjadi korban blacklist kurang mendapat tanggapan yang sesuai harapan dari pihak sekolah.
"Sekolah ya seperti itu. Mereka bilang tetap enggak bisa. Regulasinya sudah seperti itu," ujar Arief kecewa.
Begitu pula, saat dirinya menghubungi pihak perwakilan Panitia di UNJ melalui sambungan telepon, cuma ditanggapi dengan janji akan disampaikan informasinya terlebih dahulu ke panitia yang di atasnya.
"Tadi sempat telepon juga ke salah satu panitia di UNJ. Saya minta tolong sampaikan masalah ini sebelum tanggal 8. Kalau setelah itu ya no meaning. Tanggapannya, katanya dia mau sampaikan informasi itu terlebih dulu," imbuhnya.
Dihubungi secara terpisah, pihak Kemdikbud dan Panitia SNMPTN 2013 tetap bersikap tegas untuk menerapkan sanksi atas sekolah yang siswanya diketahui melakukan praktek kecurangan saat mengisi data nilai rapor tersebut.
Dirjen Perguruan Tinggi, Kemdikbud, Djoko Santoso menegaskan, sanksi itu merupakan pelajaran bagi sekolah atau siswa yang ketahuan melakukan tindak kecurangan saat mendaftar SNMPTN.
Menurutnya, sanksi semacam ini telah diterapkan pada setiap pelaksanaan SNMPTN  yang berlangsung setiap tahun.
“Kami hanya melakukan tugas. Ini kan pelajaran bahwa tidak bisa berbuat curang karena akibatnya (terkena) pada satu sekolah,” kata Djoko.
Sementara itu, Ketua Panitia SNMPTN 2013, Akhmaloka mengatakan, pada tahun ini jumlah sekolah yang melakukan praktek kecurangan kemudian masuk daftar hitam mencapai lebih dari 20 sekolah di Indonesia.
Angka ini meningkat dua kali lipat dari jumlah sekolah yang di-blacklist pada tahun sebelumnya yang berjumlah 12 sekolah.
“Benar. Jumlah sekolah yang masuk daftar hitam naik dua kali lipat dari tahun lalu.” kata Akhmaloka, Selasa (5/2), sebagaimana dikutip dari sini.
Menurut dosen yang kini masih menjabat sebagai Rektor ITB ini, penerapan sanksi berupa blacklist atas sekolah beserta seluruh siswanya, termasuk yang tidak bersalah juga, dimaksudkan untuk memberikan pelajaran agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang serupa.
Meski begitu, saat ditanya mengenai nama-nama sekolah tersebut, pihaknya tidak bersedia untuk membeberkan daftar nama sekolah yang di-blacklist itu.
 "Untuk daftar sekolah mana saja yang terkena sanksinya, kami tidak akan merilis itu," pungkasnya.
Untuk diketahui, pelaksanaan SNMPTN tahun 2013 ini agak sedikit berbeda. Antara lain, biaya pendaftaran gratis dan jatah mahasiswa yang diterima melalui jalur undangan lebih banyak dari tahun sebelumnya. [Selengkapnya, baca di sini]. *** [Srie]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar