Selasa, 26 Februari 2013

Guru Asal Belanda: Bahasa Indonesia Lebih Unggul Dibanding Bahasa Inggris

Annie Makkink, Pemerhati Pendidikan asal Belanda

Srie, - Masih ingat, bahasa Inggris pernah digunakan sebagai bahasa pengantar utama dalam pengajaran di sekolah bekas RSBI?
Kini, bahasa pengantar asing itu tidak lagi digunakan pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mencabut landasan hukum penyelenggaraan RSBI, pada awal Januari lalu.
Namun, ada baiknya untuk masih mau mendengar pendapat dari guru, pemerhati dan praktisi pendidikan dari Belanda, Annie Makkink, mengenai bahasa pengantar tersebut.
Menurut Annie, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah dinilai lebih unggul bila dibandingkan dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Sarjana psikologi dari Universitas Groningen Belanda ini, menjelaskan keunggulan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dibandingkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
Ia mencontohkan, bahasa Indonesia lebih unggul digunakan sebagai bahasa pengantar pada mata pelajaran Matematika. Misalnya, kata dia, untuk menjelaskan perkalian dalam Matematika, anak cukup mengetahui kata dasar “kali”.
“Kata ini mudah terdengar jika diberikan imbuhan, seperti menjadi ‘beberapa kali’, atau ‘berkali-kali’,” terang Annie, Senin (25/2), saat berkunjung ke kantor Kemdikbud, Jakarta.
Hal berbeda, kata Annie, justru terjadi bila bahasa Inggris dijadikan sebagai bahsa pengantar pada materi pelajaran yang sama. Dalam hal ini, bahasa Inggris lebih sulit untuk digunakan.
Ia memberikan contoh lagi, misalnya untuk menjelaskan ungkapan “tiga kali empat”, yaitu dengan menyebutkan “three times four”. Saat itu, kata dia, guru juga harus menjelaskan bahwa itu adalah perkalian atau multiplication.
Dalam hal ini, menurutnya, terdapat perbedaan antara kata-kata yang tertulis dengan apa yang dibunyikan melalui ucapan.
Guru Matematika, Gunakan Bahasa Inggris
Selanjutnya, ia pun sempat menceritakan pengalamannya saat menyaksikan secara langsung bagaimana seorang guru mengajarkan Matematika dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
“Waktu saya melihat guru mengajar Matematika dengan bahasa Inggris, sangat menyedihkan. Guru juga tidak lancar bahasa Inggris. Dia sibuk dengan menjelaskan kata-kata yang ditulis,” ceritanya sembari tersenyum.
Lalu, ia menceritakan pula hasil dari pengajaran Matematika dengan menggunakan bahasa Inggris itu. Katanya, bahasa Inggrisnya jelek, dan nilai Matematika juga jelek.
“Guru mengajar menggunakan bahasa Inggris, yang dia sendiri tidak begitu paham. Menerjemahkan kalimat bagi anak-anak itu makan waktu,” tandasnya.
Konsisten dan Mudah
Ia menjelaskan, banyak kata yang dibentuk dalam bahasa Indonesia berasal dari sebuah kata dasar, yang kemudian diberi awalan, dan atau akhiran. Sehingga, menurutnya, jika seseorang telah mengenal beberapa kata dasar saja, maka sudah dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
“Penulisan dalam bahasa Indonesia mempunyai struktur yang sangat jelas. Setiap hurup mempunyai bunyi tersendiri. Apa yang ditulis, itulah yang diucapkan,” kata Annie.
Annie mencontohkan, penulisan huruf b u k u akan diucapkan seperti apa yang tertulis, yaitu b/u k/u. Hal ini berbeda, kata dia, dengan bahasa Inggris yang dinilainya tidak konsisten.
“Karena tidak ada hubungan murni antara huruf dan suara atau bunyi (saat diucapkan). Karena itu, tidak mudah mengucapkan apa yang tertulis,” ujarnya.
Kemudian, ia menunjukkan sejumlah contoh kata yang berakhiran “ough”, seperti bough, rough, though, dan through, yang bila diucapkan akan terdengar seperti cow, off, puff, no dan too.
Inilah yang dibilang Annie, bahasa Inggris tidak konsisten dan kata-kata itu tidak mudah untuk diucapkan dari apa yang tertulis.
Hal sebaliknya, kata dia, justru terjadi pada bahasa Indonesia yang tampak konsisten dan cukup mudah untuk dipelajari saat mengucapkan kata dari apa yang tertulis. Ia mencontohkan anaknya sendiri yang saat belajar bahasa Indonesia baru berumur enam tahun.
Waktu itu, ujarnya, sang anak baru saja datang ke Indonesia. lalu, ia menyuruh anaknya belajar bahasa Indonesia dengan terlebih dahulu memberitahu mengenai perbedaannya dengan bahasa Belanda.
“Dia langsung bisa membaca dan mendapat nilai delapan untuk bahasa Indonesia di rapor. Walaupun belum bisa bicara bahasa Indonesia, tetapi bisa membaca, karena strukturnya sederhana,” tuturnya.
Jangan Buang
Annie merasa beruntung dapat mengerti bahasa Indonesia. Bahkan, ia sempat begitu memuji bahasa persatuan di negeri ini, dengan mengatakan bahwa banyak negara akan merasa iri dengan bahasa Indonesia.
Karena, menurutnya, bahasanya jelas, dan tepat digunakan terutama untuk mengajarkan Matematika dan IPA.
“Hanya beberapa kata saja sudah jelas. Tidak perlu banyak cerita. This is cery good (implement) in Math. Siswa kelas satu di Indonesia setingkat dengan kelas dua di Inggris. Jangan membuang bahasa yang begitu bagus,” pungkasnya.
Menurut cerita Annie, dirinya mengenal Indonesia sejak 1980 saat mengikuti suaminya yang bekerja sebagai konsultan teknik untuk sekolah menengah kejuruan di Indonesia.
Dia mulai meneliti pengguanaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah sejak dirinya diminta membantu untuk mengajarkan Matamatika di sekolah Indonesia.
Pada tahun 1983, ia pulang kembali ke negeri asalnya, Belanda, namun diakuinya masih terus berhubungan dengan Indonesia.
Sejak tahun 1998 dia menjadi pegiat program Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI), suatu program untuk meningkatkan mutu Matematika di Sekolah Dasar (SD). *** [Srie].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar