Minggu, 10 Februari 2013

Jusuf Kalla Bicara Kepemimpinan Ideal, Apa Itu?


Srie, - Mantan Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf kalla (JK) bicara mengenai kepemimpinan ideal di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Sabtu (9/2). 

Saat itu, dirinya akan dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) bidang kepemimpinan oleh universitas tersebut.

Dalam pidatonya, JK mengungkapkan sejumlah prasyarat kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik. 

Menurutnya, prasyarat dasar kepemimpinan itu adalah adanya visi yang jelas dan tujuan yang konkrit dari seorang pemimpin.

“Visi dan tujuan itulah yang membuat pemimpin diikuti, karena ada keinginan yang harus diraih. Ada pulau yang hendak dicapai,” tuturnya di hadapan ribuan wisudawawan/wati dan undangan yang hadir di Balairung kampus UI, sebagaimana dilansir di sini.

Syarat kepemimpinan berikutnya, kata JK, adalah pemimpin harus mau mengambil tanggung jawab penuh atas orang yang dipimpinnya. Bawahan harus dilindungi dan tidak boleh melimpahkan segala kesalahan kepada mereka.

“Pelimpahan kesalahan ke bawah, membuat bawahan akan defisit dalam insiatif, kurang dalam kreativitas dan rapuh dalam loyalitas, tetapi surplus dalam kepura-puraan,” katanya.

Hal lain dalam kepemimpinan yang diuraikan oleh mantan Wapres ini, adalah masalah keteladanan dan keikhlasan dalam bekerja. Menurutnya, orang akan mengikuti atau menuruti pemimpin tanpa syarat manakala sang pemimpin tersebut sudah diyakini sebagai jalan kebenaran.

“Keikhlasan yang membuat seseorang menjadi pemimpin yang amanah dan jujur. Sementara, kejujuran adalah ajaran moral pokok mengenai legitimasi kepemimpinan. Dengan keikhlasan, segalanya jadi otentik,” jelasnya.

Semua prasyarat kepemimpinan di atas, menurut JK, harus dilengkapi dengan kemampuan dalam melihat adanya peluang secara optimis.

“Bukan pesimis dalam menggeluti persoalan. Fokus pada kekuatan, bukan pada kelemahan. Menerawang ke depan, bukan meratapi masa silam. Serta, mengatasi masalah dan siap membayar ongkos dari segala resiko,” tegas Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) ini.

Pemimpin itu, tegas mantan Ketua Umum Partai Golkar ini,  harus pintar mengambil keputusan. Betapapun, keputusan yang akan diambil itu tidak disukai oleh semua orang.

"Karena keputusan tidak mungkin disukai semua orang, yang penting adalah tercapainya tujuan akhir yaitu untuk kepentingan masyarakat banyak," ujarnya.

Kepemimpinan Transformasional

Sementara itu, dalam sambutannya, Pjs. Rektor UI, Djoko Santoso mengatakan, penganugerahan gelar Doktor HC bidang kepemimpinan kepada JK dilakukan setelah melalui proses pengkajian selama dua tahun.

"Pemberian gelar ini melewati fase yang panjang. Setelah diusulkan dua tahun lalu, kita lalu lakukan penilaian bersama," kata Djoko, dalam keterangan pers setelah upacara wisuda pagi berakhir, sebagaimana diberitakan di sini.

Djoko menjelaskan alasan penganugerahan gelar tersebut, yaitu sosok kalla dinilai memenuhi 12 ciri kepemimpinan transformasional, antara lain visioner, pengabdian masyarakat, integritas, passion, kepercayaan, komitmen dan interpersonal inteligent.

Menurut pria yang masih menjabat sebagai Dirjen Dikti Kemdikbud ini, ciri-ciri kepemimpinan tersebut melekat pada sosok JK yang selama ini dikenal oleh publik.

Disebutkannya, ciri kepemimpinan yang visioner, dan memiliki komitmen terlihat jelas pada diri JK, di mana prioritas tertinggi adalah bangsa dan negara. 

Peran JK dalam memediasi sejumlah konflik di tanah air, serta perannya dalam bidang kemanusiaan, dinilai oleh pihaknya sebagai sosok yang sangat tepat memperoleh gelar tersebut.

"Kalla mendekati masalah secara pragmatis, tetapi pemimpin tak kehilangan muka. Atas penilaian-penilaian ini, Bapak Jusuf Kalla berhak atas gelar doktor kehormatan," simpul Djoko.

Untuk diketahui, gelar Doktor HC dari UI ini merupakan gelar yang ke-6 yang diterima oleh JK. Sebelumnya, ia telah menerima lima gelar Doktor HC, yaitu dua gelar Doktor HC pada 2007 dari Universitas Malaya, Malaysia dan Universitas Soka, Jepang.

Pada 2011, JK menerima gelar Doktor HC juga dari Universitas Pendidikan Indonesia (Bandung), Universitas Hasanuddin (Makassar), dan Universitas Brawijaya (Malang). *** [Srie]
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar