Senin, 18 Februari 2013

Masih Ada Penolakan Kurikulum 2013, Ini Tanggapan Presiden SBY


Srie, - Meski, Senin (11/2) lalu implementasi Kurikulum 2013 sudah dicanangkan secara resmi oleh Wapres Boediono, namun faktanya masih saja belum berkurang reaksi penolakan dari masyarakat terhadap kurikulum pengganti KTSP itu.

Bahkan, hingga kini, Panja Kurikulum Komisi X DPR RI masih bersikap menahan anggaran yang diajukan oleh Kemdikbud untuk perubahan kurikulum.


Lantas, bagaimana tanggapan Presiden SBY? Ternyata, Presiden ikut memantau pula mengenai perkembangan rencana pergantian kurikulum yang hingga saat ini masih menimbulkan kontroversi.

“Saya mengikuti, wacana atau diskursus menyangkut kurikulum baru yang akan ditetapkan oleh pemerintah. Yang telah disusun, dikembangkan dan disempurnakan oleh Mendikbud,” kata Presiden SBY, Senin (18/2), saat menyampaikan salah satu bagian pengantar pada sidang paripurna kabinet, di kantornya, Jl. Medan Merdeka  Utara, Jakarta.

Presiden menilai, reaksi penolakan sebagian masyarakat terhadap Kurikulum 2013 lebih terletak pada masalah komunikasi dan sosialisasi yang masih perlu terus dilakukan oleh Kemdikbud.

“Saya harap komunikasikan dan sosialisasikan dengan baik. Jelaskan, mengapa perlu dilakukan pengembangan dan penataan kurikulum,” ujar SBY.

Menurut SBY, pengembangan kurikulum bukan hanya untuk menciptakan siswa Indonesia yang cerdas. Namun, lanjutnya, anak-anak juga harus memliki mental yang tangguh dan mempunyai tingkat toleransi yang tinggi terhadap saudara-saudaranya yang berbeda suku, agama, daerah dan identitas lainnya.

“Ini penting dan sangat mendasar, agar bangsa yang majemuk ini bisa hidup rukun, tenteram dan damai,” ujarnya.

Presiden mengingatkan, kemampuan seseorang untuk bisa bertoleransi bisa menimbulkan kerugian, termasuk terjadinya konflik-konflik antar golongan.

Sehingga, kata SBY, masalah tersebut sangat relevan dengan kurikulum pendidikan, dimana metodologi, dan evaluasinya harus mencakup pula untuk menyiapkan anak-anak Indonesia menjadi manusia yang rukun, toleran dan mencintai perdamaian.

“Saya kira, itu maknanya saudara-saudara. Oleh karena itu, khusus mengenai kurikulum ini, Mendikbud, Menkokesra, teruslah dijelaskan, dikomunikasikan agar dimengerti dan nanti mendapatkan dukungan,” pungkas presiden.

Lobby Politik

Untuk diketahui, Mendikbud beserta jajaran di Kemdikbud sangat aktif melakukan sosialisasi Kurikulum 2013 hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kunjungannya itu, Mendikbud, Mohammad Nuh selalu menyampaikan keyakinannya bahwa para pelaku utama pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, pengawas, dan dinas pendidikan di daerah telah siap melaksanakan Kurikulum 2013, mulai Juli mendatang.

Namun, demikian ia pun masih perlu untuk terus melakukan upaya lobby atau pendekatan politik, terutama kepada anggota DPR yang hingga kini masih belum secara resmi memberikan persetujuan  anggaran yang telah diajukan.

Akhir pekan lalu, Mendikbud mengunjungi Ketua DPR RI, Marzuki Alie, dan pimpinan DPR lainnya. Hari ini (18/2), meski, masih bersifat politis, Mendikbud memperoleh dukungan terkait implementasi Kurikulum2013 dari Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie.*** [Srie]



4 komentar:

  1. Setiap perubahan kurikulum pasti ada reaksi pro dan kontra. Masalah penolakan bukan pada sosialisasi yang kurang efektif, tetapi pada sikap terburu-buru dan amat sangat "memaksakan" yang ditunjukkan pemerintah (terutama wapres dan mendikbud). Kalau saja para akademisi dan guru yang terlibat dalam perumusan kurikulum ini "boleh" jujur...maka akan tampak jelas bahwa perubahan kurikulum ini dipaksakan oleh ambisi satu dan dua orang saja yang bukan kebetulan memiliki kekuasaan. Argumentasi logis dan akademis yang disampaikan oleh para guru dan akademisi yang diminta untuk menyusun kurikulum 2013.. kerap kali "dipatahkan" dengan kata2 "pokoknya...."
    Kalau saja masayarakat luas mengetahui latar belakang sesungguhnya di balik pembuatan kurikulum 2013 ini.... semakin berkabung lah dunia pendidikan di negeri ini.
    Sebagai "guru" yang kebetulan semapat berkubang di awal penyusunan kurikulum 2013 ini hanya bisa menangis..."ya Tuhan ampunilah kami..." "anak-anak ku..maafka Ibu.."

    BalasHapus
  2. KTSP yang dijalankan disekolah-sekolah daerah terutama di desa-desa aja baru mulai mengeliat, para guru sudah mulai giat-giatnya menyusun perangkat pembelajarannya, sudah baru mulai menyadari kewajibannya sebagai pengajar. proses pendidikan dan pembelajaran tidak bisa "kun fayakun" tapi ada proses. KTSP baru seumur jagung sudah muncul lagi kur.13, emangnya negara ini kecil apa, emangnya peningkatan fasilitas di sekolah sudah merata, emangnaya negara ini hanya satu suku, emangnya negara ini hanya satu pulau, kok begitu mudahnya "mengganti". peoses belajar mengajar kuncinya tidak hanya di kurikulum saja tapi tenaga pendidik yang lebih utama, jika tenaga pendidiknya memiliki profesionalisme tinggai tidak hanya materi tapi juga kewibawaan pasti akan disegani peserta didik dan tunduk jika seperti ini peserta didik pasti memiliki sopan santun dan akhlak yang sholeh. emang benar pak pak orang-orang diatas sana kalo sudah "pokoknya..." semua harus jalan. negara dikacaukan dengan kasus-kasus korupsi dengan beberapa dalih "proyek". kur.13 ini juga salah satu proyek yang mungkin bisa dijadika sebagai media untuk korupsi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan karena biayanya sangat besar sekali... saumpama mereka bisa merasakan perasaan hati kami apalagi guru yang mapelnya akan dihapus uh... tak tega rasanya...siang malam terpikir "kemana aku nanti..?" sungguh kejam mereka....."Semoga Allah SWT membukaan hati mereka... Amin.."

    BalasHapus
  3. KURIKULUM 2013 MEGA PROYEK PAK MENTERI. DIA GAK AKAN MUNDUR DARI PEMAKSAAN KURIKULUM 2013.

    BalasHapus
  4. Tingkat toleransi antar RAS yang jelas lebih dirasakan jaman dulu yaitu pakek kurukulum JADUL alias jaman dulu. Sistem yang membuat pendidikan kita amburadul segala cara ditempuh agar mulai dari kepala sekolah, kepala pemda, profinsi dapat predikat baik. mana ada sih yang mau berpredikat sebaliknya. Ini realita peserta didik bebas ber sms ria dengan gurunya, aduh-aduh ini membangun siswa berakhlak mulia apa sebaliknya. Tentang Kurk 2013: Contoh unik saja kalo si pakar pendidikan saat ini g sepakar orang dulu (he e pakar di atas pakar), baru 3 tahun di SMK diadakan IPA nih malah dihapus. Artinya pemikiran mereka itu cekak alias pendek kayak barang rombeng, ya ialah masak di SMK ada IPA? itu benak saya sewaktu pertama kali mengajar IPA di SMK eh BENER teryata usianya cuman 3 tahun. Berarti saya lebih dari pakar pendidikan sekarang donk he he he............

    BalasHapus