Rabu, 20 Februari 2013

Mendikbud Bantah Anggaran Kurikulum Membengkak Spektakuler


Srie, - Mendikbud, Mohammad Nuh, membantah pernyataan para politisi dan praktisi pendidikan yang menilai anggaran Kurikulum 2013 berubah-ubah dan membengkak secara spektakuler.

Menurut Nuh, anggaran pergantian kurikulum yang diketahui publik berubah-ubah, dari semula Rp 684 miliar, kemudian naik menjadi Rp 1,4 triliun, dan berubah lagi membengkak menjadi Rp 2,491 triliun, bukanlah pembengkakan anggaran.

“Angka-angka ini sudah melalui pembahasan dengan Komisi X DPR. Jadi, tidak ada pembengkakan,” kata Nuh, di sela-sela Diskusi Publik Kurikulum 2013, Senin (18/2), yang diadakan oleh FPG, di gedung DPR, Jakarta.

Nuh menandaskan, anggaran murni yang dimunculkan untuk kurikulum dalam APBN adalah Rp 684 miliar. Namun, kata dia, Kemdikbud juga memiliki anggaran yang lain, seperti anggaran untuk pelatihan guru.

Anggaran inilah, lanjutnya, yang salah satunya akan digunakan untuk pelatihan guru yang terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.

“Yang kami sampaikan, anggaran kurikulum memang sekitar Rp 684 miliar. Ngapain kita anggarkan pelatihan guru tersendiri, kalau anggaran itu sudah ada. Itu tidak bengkak, sudah ada semua dalam APBN,” tandas mantan Rektor ITS, Surabaya ini.

Beberapa waktu lalu, anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mengaku sempat kaget saat mengetahui anggaran untuk perubahan kurikulum yang diajukan oleh Kemdikbud terus berubah-ubah dan membengkak, dari semula Rp 684 miliar menjadi Rp 2,491 triliun.

“Awalnya perubahan kurikulum 2013 itu disepakati Rp 684 miliar. Waktu Raker dengan Wamen naik jadi Rp 1,4 triliun. Lantas, kenapa akhirnya jadi Rp 2,491 triliun? Ini perubahan spektakuler dan harus dibahas lagi,” kritik Ferdiansyah, Kamis (7/2), di Jakarta.

Ia pun menegaskan bahwa masalah anggaran kurikulum belum dibahas tuntas oleh Komisi X DPR belum. [Baca: Anggaran Kurikulum Membengkak Spektakuler, Belum Clear!].

Sementara itu, peneliti ICW, Siti Juliantari Rachman menduga, pembengkakan anggaran terjadi secara disengaja oleh Mendikbud untuk menyiasati agar lolos dalam pembahasan Komisi X DPR.

“Yang ini sangat mungkin terjadi. Pemerintah sudah tahu bahwa perubahan kurikulum butuh biaya besar. Tapi, karena takut tidak disetujui oleh DPR, maka dibuat dulu dengan anggaran minim,” kata Siti, Jum’at (15/2), saat jumpa pers Koalisi Tolak Kurikulum 2013, di kantor ICW, Jakarta. [Baca: Anggaran Kurikulum 2013 Membengkak, ICW: Siasat Kemdikbud]

Rekan Siti lainnya yang tergabung dalam Koalisi, Jerry Sumampow, bahkan menuding pembengkakan anggaran kurikulum hingga Rp 2,491 triliun itu terkait dengan upaya penggalangan dana untuk kepentingan politik jelang Pemilu 2014. *** [Srie].

1 komentar:

  1. kalo katanya kurikulum 2013 berbasis ICT, pertanyaannya dana sekian triliun tersebut mampukah merubah kompetensi gurunya yg selama ini saja dari jaman komputer mahal sampai komputer sudah amat terjangkau masih sangat memprihatinkan kemauan untuk sekedar mau belajar apalagi sampai mahir untuk penerapan ICT dalam pembelajarannya...???

    BalasHapus