Kamis, 14 Februari 2013

Mendikbud: RSBI Bubar, Ganti Nama “BUKAN RSBI”


Srie, - Tampaknya, Mendikbud, Mohammad Nuh, bisa bercanda juga terkait alternatif solusi sekolah eks RSBI. Terinspirasi oleh nama sebuah acara talkshow TV swasta, Nuh mengatakan solusi praktis pasca RSBI bubar secara bergurau.
“RSBI bisa berganti nama, menjadi ‘BUKAN RSBI’ atau bisa juga ‘DULU SEKOLAH RSBI’,” kata Nuh, saat melakukan sosialisasi Kurikulum 2013 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (10/2).
Pastinya, candaan sang menteri langsung diiikuti dengan terdengarnya suara tawa ribuan guru yang hadir pada acara tersebut.
Pasca pembubaran RSBI oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada awal Januari lalu, kata Nuh, hingga kini Kemdikbud masih terus menggodok model baru sebagai penggantinya.
Dikatakannya, meski sudah dinyatakan bubar oleh putusan MK, namun  tidak bisa serta-merta RSBI bubar begitu saja.
Masa Transisi
Nuh menceritakan, bahwa dirinya telah bertemu langsung dengan Ketua MK, Mahfud MD untuk memastikan implikasi dari keputusan lembaga yang dipimpinnya itu.
Menurut Nuh, Ketua MK masih memberikan toleransi berupa adanya masa transisi bagi Kemdikbud untuk menyesuaikan sekolah eks RSBI dengan amar putusan MK.
"Saya telah menghadap ke Pak Mahfid MD, untuk mendiskusikan masalah RSBI yang tidak mungkin bisa langsung dibubarkan. Karena, RSBI adalah salah satu proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional," ujar Nuh.
Artinya, lanjut mantan Rektor ITS ini, segala program pembelajaran di sekolah eks RSBI tidak bisa begitu saja langsung diberhentikan.
Namun, kata dia, masih diperlukan masa transisi untuk masa persiapan, hingga saat tahun ajaran baru dimulai, nantinya sekolah tersebut benar-benar dapat melaksanakan sepenuhnya model baru pengganti RSBI.
Sholat, Salah Kiblat
Ia menambahkan, saat berdiskusi dengan Mahfud MD itu, dirinya mencontohkan seseorang yang sedang sholat. Pada saat sholat berlangsung, orang lain mengetahui bahwa sholatnya salah menghadap kiblat.
Lalu, orang itu menegurnya dan memberitahu arah kiblat yang sebenarnya. Dalam hal ini, menurut Nuh, tidak perlu membubarkan seseorang yang sedang sholat. Namun, setelah ditegur, orang yang sholat cukup menggeserkan ke arah kiblat yang benar.
“Untuk mengoreksi kesalahan itu, orang tersebut tidak perlu membubarkan sholatnya. Tetapi, cukup menggeser ke arah kiblat yang benar, dan melanjutkan sholatnya,” jelasnya.
Nuh menggunakan perumpamaan itu untuk kasus RSBI. Menurutnya, meski MK sudah memutuskan, namun program RSBI tidak bisa langsung dibubarkan.
Sambil mencari model baru sebagai pengganti yang tepat, kata Nuh, program RSBI bisa dilanjutkan hingga semester sekolah berakhir.
“Yang paling penting, keputusan MK tersebut jangan sampai mengorbankan kualitas pendidikan nasional,” tandasnya.
Nuh menambahkan, nantinya model baru pengganti RSBI akan dibuat tidak hanya berlaku bagi anak-anak orang kaya saja.
Namun, bagi anak-anak dari kalangan kurang mampu juga bisa diberikan keleluasaan untuk bisa masuk sebagai siswa sekolah eks RSBI itu.
Tanpa Biaya
Bahkan, ia sempat mencontohkan SMA Banua, sebagai sekolah eks RSBI yang dinilainya sangat layak untuk terus dikembangkan dan patut ditiru oleh daerah lain.
Mantan Menkominfo ini menjelaskan, SMA Banua milik Pemprov Kalsel ini menampung siswa yang berprestasi dari seluruh daerah di Kalsel, tanpa dipungut biaya apapun.
Namun, imbuhnya, sekolah ini menyediakan fasilitas yang sangat lengkap dan memadai, termasuk tersedianya asrama bagi siswa.
"Pada saat saya mengunjungi sekolah tersebut, saya coba buktikan dengan bertanya langsung kepada beberapa siswa putra apakah sekolah di sini gratis, dia bilang gratis, kemudian saya coba tanyakan kepada beberapa siswi secara acak apakah benar gratis, tetap dijawab gratis," pungkasnya.
Untuk diketahui, pasca pembubaran sekolah RSBI oleh putusan MK, Mendikbud masih belum ikhlas menerima alasan pembubaran sepenuhnya. [Baca: RSBI Bubar, Mendikbud Masih Belum Ikhlas].
Namun begitu, saat acara Rembuknas 2013 berlangsung pada awal pekan ini, Kemdikbud telah mempunyai model pengganti sekolah RSBI.
Disebutkan, terkait dengan sistem pengelolaan keuangan sekolah yang nantinya masih memungut biaya pada orang tua siswa itu, Kemdikbud akan menerapkan pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). [Baca: Agar Pungutan “Halal”, Eks RSBI Gunakan BLUD]. *** [Srie]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar