Jumat, 15 Februari 2013

Pemerintah AS Sumbang Rp 807,5 M untuk Pengembangan Kurikulum di Indonesia

Dubes AS, Scot Marciel

Srie, - Pengembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, ternyata tidak hanya mengandalkan dana yang berasal dari APBN. 

Namun, pembiayaannya dibantu pula oleh pemerintah negara sahabat, seperti Amerika Serikat (AS).

Duta Besar (Dubes) AS untuk Indonesia, Scot Marciel mengatakan, pemerintahnya telah menyumbangkan dana senilai 85 juta dolar AS (sekitar Rp 807,5 miliar) untuk membantu pengembangan pendidikan di Indonesia.

Dana itu, kata Marciel, dikucurkan melalui program USAID dalam bentuk kerja sama pemerintah AS dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Sedangkan penggunaannya, adalah untuk membiayai banyak kegiatan pendidikan, terutama dalam hal pengembangan kurikulum dan pelatihan bagi guru.

“Dana tersebut digunakan untuk membiayai banyak kegiatan, terutama dalam hal pengembangan kurikulum, baik untuk sekolah umum maupun sekolah kejuruan. Termasuk juga, untuk pelatihan guru-guru,” kata Marciel, Rabu (13/2) saat mengunjungi SMKN 1, di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ia berbicara hal tersebut di hadapan Dewan Guru SMKN 1 Balikpapan, yang memperoleh tanggapan, serta tepuk tangan yang cukup meriah.

Marciel menjelaskan, bantuan itu merupakan bagian dari bentuk kepedulian pemerintahnya terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.

Alasannya, karena hal ini merupakan cara yang terbaik untuk saling memahami antar kedua negara dan bersama-sama menciptakan kemajuan.

Terkait dengan hubungannya antara sekolah kejuruan dan pasar kerja, ia mengakui telah mendorong perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di Indonesia untuk ikut membantu dalam masalah tersebut.

Sebelum menyampaikan sambutan, Duber Marciel sempat mengunjungi terlebih dahulu bengkel kerja sekolah menengah kejuruan yang pertama di kota Balikpapan itu.

Dalam kunjungannya, ia sempat menyaksikan para siswa melaksanakan kegiatan praktek di bengkel alat berat dan otomotif, serta di bengkel bubut.

Ia sangat mengapresiasi atas apa yang dikerjakan oleh para siswa SMKN 1 itu di bengkel, kemudian memberikan sebuah komentar yang bernada pujian.

“Tidak heran, lulusan SMKN 1 langsung terserap pasar kerja,” komentarnya.

Saat kunjungan ke bengkel itu, Kepala SMKN 1 Balikpapan, Mansur, menjelaskan kepada Marciel, mengenai cepatnya lulusan terserap ke pasar kerja.

Dikatakannya, bila siswa yang telah lulus tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, maka dalam 3 bulan saja biasanya telah ada sekitar 35% dari seluruh siswa yang lulus itu sudah memperoleh pekerjaan.

“Dalam setahun, hampir seluruh siswa yang lulus sudah bekerja,” tutur Mansur.

Untuk diketahui, SMKN 1 Balikpapan bermula dari STM Pertamina, yang kemudian berubah menjadi berstatus sekolah negeri pada tahun 1968. 

Saat ini, sekolah mempunyai 100 orang guru yang membimbing 12 program keahlian bagi seluruh siswa yang berjumlah 1.118 orang. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar