Kamis, 28 Februari 2013

Penuhi 24 Jam Per Pekan, Guru Gunakan Sistem Arisan Mengajar. Mungkinkah?


Srie, - Mendikbud, Mohammad Nuh mengatakan tidak mungkin ada sistem arisan yang dapat memenuhi kuota mengajar guru sebanyak 24 jam per pekan.

Menurut Nuh, sistem arisan yang digunakan oleh para guru dalam menyiasati persyaratan jam mengajar minimal guru tersertifikasi agak susah diterapkan, karena dipastikan ada guru ysang tetap tidak kebagian minimal 24 jam mengajar.

“Kalau sistem arisan, rasa-rasanya agak susah. Karena ada yang tidak dapat. Rasa-rasanya tidak mungkin ada arisan kuota mengajar. Tapi nanti akan kita cek ke lapangan untuk memastikannya,” kata Nuh, Rabu (27/2), di Jakarta.

Pernyataan Nuh ini merupakan tanggapan atas adanya arisan mengajar yang dilakukan oleh para guru yang telah memperoleh sertifikat profesional di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Sesuai dengan aturan Kemdikbud, guru yang sudah tersertifikasi harus mengajar minimal 24 jam per pekan. Bila tidak demikian, maka tunjangan sertifikasi yang seharusnya didapat, akan tertahan atau bahkan tidak bisa dicairkan sama sekali.

Namun begitu, Nuh mengingatkan, bahwa secara administratif laporan pemenuhan jam mengajar dilakukan pada setiap tahun.

“Namun, hal itu akan diverifikasi per semester untuk menentukan jumlah tunjangan profesi yang  didapat,” ujarnya.

Sebelumnya, berita mengenai adanya arisan mengajar tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bukittingi, Ellia Makmur.

“Jika tidak seperti itu, kewajiban 24 jam mengajar dalam sepekan tak akan merata, karena guru bersertifikasi sudah mencapai 1.232 orang,” kata Ellia, Rabu (27/2), di Bukittinggi.

Ellia menjelaskan, sebelum dibentuk sistem arisan mengajar, dari total 1.232 guru bersertifikasi ada 70 guru yang kesulitan memenuhi kewajiban 24 jam mengajar dalam sepekan. Pasalnya, kata dia, jadwal mengajar di semua sekolah sudah penuh.

“Karena tidak mampu memenuhi kewajiban mengajar 24 jam dalam sepekan, akhirnya tunjangan sertifikasi bagi 70 guru itu tidak dapat dibayarkan,” ujarnya.

Kebijakan yang mensyaratkan kewajiban minimal 24 jam mengajar per pekan bagi guru tersertifikasi berdampak positif terhadap penyebaran guru, yang selama ini biasa terdapat penumpukan di sekolah-sekolah tertentu saja.

Meski demikian, dalam prakteknya tak jarang menimbulkan persoalan tersendiri antar guru yang sama mata pelajarannya, ketika jam pelajaran yang tersedia terbatas. Akhirnya, yang terjadi adalah rebutan jam mengajar antar mereka. *** [Srie]



4 komentar:

  1. Mohon dipikirkan lagi, mengapa kwantitas yang dicari, (harus 24 jp) bukannya kwalitas yang dikejar. Ni, dari pihak atas yang terkait semoga menjadi pemikiran. "Apalah artinya mengajar 24 jp, jika hasilnya 'sembarang', kalau kata sunda mah 'PURAGA TAMBA KADENDA' , percuma kan? " Coba geser arahan sertipikasi bukan 24jp tapi walau hanya 10 jp asal hasilnya terhadap anak didik benar-benar memuaskan. JADI, HASILNYA DONG.... YANG DINILAI. BUKAN BANYAK DAN SEDIKITNYA MENGAJAR. Tul,ga, tul, ga.?????? hasilnya, hasilnya.............demi masa depan bangsa yang berkarakter dan pinter, penter agar tak keder hadapi koruptor dan berbagai maksiator.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo guru sudah sertifikasi dan ngajar 10 jam artinya guru tersebut lebih banyak waktu luangnya. dengan waktu luang yang ia miliki dan uang sertifikasi yang ada ia akan memulai usaha atau bisnis sampingan. kalo sudah sibuk ngurus usahanya, maka ia akan menyepelekan jam ngajar yang cuma 10 jam. mengajar 10 atau 24 jp itu sama saja karna waktunya dibatasi. soal bermutu atau memuaskan tidaknya hasilnya nanti itu tergantung pada banyak hal.

      Hapus
  2. mohon maaf,aturan mana yg mewajibkan guru ngajar 24 jp /minggu ? kok saya blm menemukan ? tlong minta infonya kalau ada. krn yg sy tahu pd UU no 15 th 2005 ttg guru & Dosen, maupun PP no 74 th 2008, dan permendiknas 30 th 2011 kewajiban guru memenuhi beban kerja minimal 24 jam/ minggu , maks. 40 jam . disini beban kerja guru meliputi membuat perencn pemb, melaks. pemb, membimbing, menilai, melatih dan tambah tugas tambahan Pd pedoman penghitungan beban kerja sudah sangat jelas konversinya. kok beban kerja bisa berubah jadi jam mengajar dari mana ? beda jauh antara beban kerja dg jam mengajar itu.

    BalasHapus
  3. mohon dipertimbangkan dan dikaji ulang dengan secara mendalm tentang ketentuan atau persyaratn memprofesionalkan seorang guru. Suatu kasus dan fakta dilapangan seorang guru bersertifikat guru profesional pad bidang studi yang berbeda dengan bidang studi ijazah yang diperolehnya. persoalan ini menurut hemat saya sesuatu yang sangatsangat mustahil terjadi. bagaiman tidak, seseorang yang telah menempuh pendidikan diperguruan tinggi (bangku kuliah) sekitr 5 atau 6 tahn untuk mendapatkan ijzah tetapi toh juga belum diakui sebagai seorang guru yng profesional. Sementra hanya karna faktor situasi dilapangan (sekolh t4 tugs) seorang guru PKn (misal) akan menyandang guru profesional sejarah(misal) setelah ikut PLPG kurung waktu 2 minggu. Ini berarti status profesional diperoleh hanya dalam kurung waktu 2 minggu. inikn sesuatu hal yang aneh kalo dibanding dengn lama waktu kuliah. Kalo bidang studi di Ijasah sejalan dengan bidang studi yang disertifikasi ya... itu sesatu hal pantas dan harus.

    BalasHapus