Kamis, 14 Februari 2013

RSBI Bubar, Mendikbud Masih Belum Ikhlas


Srie, - Ternyata, Mendikbud, Mohammad Nuh masih belum ikhlas menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada awal Januari (8/1) lalu yang menyatakan landasan hukum penyelenggaraan R/SBI dicabut.

Meski saat itu Nuh telah menyatakan sikap legowo terhadap putusan MK, namun ia masih saja sering mempertanyakan alasan yang menyebabkan sekolah RSBI bubar. [Baca: RSBI Bubar, Mendikbud Legowo]

Menurutnya, R/SBI merupakan landasan cita-cita bangsa untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

“SBI di Indonesia belum ada. Tapi, anehnya kok itu gak boleh. Padahal, itu untuk memajukan pendidikan bangsa. Kita kepengen membuat sekolah yang baik dan bisa bersaing di dunia internasional,” kata Nuh, Rabu (13/2), saat acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di gedung DPD, Jakarta.

Bahkan, Nuh menyesali landasan berpikir pembubaran SBI. Menurutnya, yang dilarang itu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Namun, ia menyayangkan kenapa kabupaten/kota dan provinsi justru tidak boleh menyelenggarakan SBI.

“Masa salah, membuat sekolah baik di daerah? Itu sama saja membunuh cita-cita,” protesnya. [Baca juga: Mendikbud: Apa Salahnya RSBI?]

Dikatakannya, sekolah RSBI lebih unggul dibandingkan dengan sekolah yang bukan RSBI atau regular. Antara lain, dilihat dari segi raihan nilai UN dan tingkat kelulusan siswa.

“Dari segi nilai UN dan kelulusan, RSBI/SBI lebih tinggi ketimbang yang bukan,” dalih Nuh.

Meski tetap protes, namun dirinya tetap berharap agar penghapusan R/SBI tidak menurunkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

Nuh menambahkan, bangsa ini butuh pencerahan untuk dapat membedakan antara cita-cita dan realitas. Cita-cita, kata Nuh, harus terus dikejar agar pada akhirnya dapat meraih apa yang dicita-citakan itu.

Sementara itu, pembubaran RSBI merupakan realitas. Namun demikian, lanjut Nuh, pembubarannya tidak serta-merta langsung bubar begitu saja.

Kegiatan belajar mengajar sekolah yang menggunakan sistem RSBI atau SBI tetap akan berjalan hingga sisa semester yang ada.

“Bukan RSBI”

Nuh mengaku, pihaknya telah berkonsultasi dengan Ketua MK, Mahfud MD, yang membenarkan adanya transisi pembubaran sekolah R/SBI hingga pergantian tahun ajaran baru, Juli tahun ini.

“Jadi, namanya saja yang tidak ada. Tapi, sistem masih berjalan sampai akhir semester nanti,” tandasnya.

Dalam kesempatan lain, bahkan Mendikbud sempat becanda, jika RSBI dilarang, maka diganti saja menjadi “Bukan RSBI”. Sebuah sebutan yang merujuk pada sebuah nama acara talkshow di televisi swasta yang sempat dilarang oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

“RSBI bisa berganti nama menjadi ‘Bukan RSBI’ atau bisa juga ‘Dulu Sekolah RSBI’,” canda Nuh saat berada di Banjarmasin, akhir pekan lalu, yang disambut tertawa oleh para hadirin. [Baca: Mendikbud: RSBI Bubar, Ganti Nama 'BUKAN RSBI']

Untuk diingat, pada awal Januari lalu, MK memutuskan untuk menghapus pasal yang dijadikan rujukan penyelenggaraan RSBI/SBI. [Baca: MK:RSBI Bubar!]

Pertimbangan MK, antara lain RSBI telah menciptakan diskriminasi atas hak warga untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama di sekolah RSBI dinilai berpotensi merusak jatidiri bangsa. *** [Srie]

Catatan: Baca juga "Agar Pungutan "Halal", RSBI Gunakan Pola BLUD".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar