Minggu, 17 Februari 2013

Sekjen FSGI: Kurikulum 2013 Lucu dan Bingung, Ajarkan Disiplin Tiru Elektron


Srie, - Kurikulum 2013 yang rencananya mulai diterapkan di sekolah-sekolah mulai bulan Juli mendatang masih terus menuai kritikan dan penolakan. [Baca: Ada 8 Kejanggalan Kurikulum 2013]

Pendekatan tematik integratif yang menjadi ciri kurikulum baru dan diandalkan oleh Mendikbud, Mohammad Nuh, justru mendapatkan cibiran sebagian kalangan.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti mengaku, dirinya telah mengupas tuntas kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) yang terdapat pada Kurikulum 2013.

Kesimpulannya, kedua kompetensi itu justru dinilai serba tidak nyambung dan memberikan kesan lucu bagi mereka yang mengkritisinya.

“KI dan KD yang dibangga-banggakan Mendikbud dalam Kurikulum 2013 yang terintegrasi itu lucu-lucu, tak nyambung,” kata Retno, saat mengikuti jumpa pers Koalisi Tolak Kurikulum 2013, Jum’at (15/2), di Jakarta.

Retno menjelaskan, sebuah dokumen kurikulum sedikitnya harus memuat lima hal pokok. Yaitu, ketentuan pokok kurikulum, deskripsi mata pelajaran dan sistem pembelajaran, pedoman penilaian, pedoman bimbingan dan konseling, serta manajemen dan budaya sekolah.

Akan tetapi, lanjutnya, kelima hal pokok itu tidak ditemukan dalam berbagai dokumen terkait Kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh pihak Kemdikbud.

“Tapi, lima hal ini tidak pernah kami temukan dalam berbagai dokumen yang kami dapatkan,” ujarnya.

Ia mengakui, kajian yang dilakukan oleh pihaknya terbatas pada dokumen draft Kurikulum 2013 yang dikemukakan oleh Kemdikbud kepada publik.

Dari hasil kajian tersebut, FSGI menemukan banyak hal yang lucu, terutama menyangkut masalah KI dan KD yang terdapat pada kurikulum pengganti KTSP itu.

Bingung

Guru PKn di SMAN 13 Jakarta ini mencontohkan KI dan KD yang terdapat pada pelajaran Matematika Kelas X SMA yang dinilai lucu dan tidak nyambung itu.

Disebutkannya, dalam materi ini, guru mengajarkan pengembangan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif sesuai kompetensi dasar bidang aljabar dan geometri.

Ia mempertanyakan bagaimana mengintegrasikan tema tersebut dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru di kelas.

“Bagaimana bisa diintegrasikan. Kami bingung, kalau kompetensi dasar macam begini dianggap sebagai kurikulum hebat yang dibutuhkan oleh semua anak di Indonesia,” tandas Retno.

Tidak Relevan

Hal lain yang disoroti oleh Retno adalah terkait dengan empat kompetensi inti yang dinilainya tidak memiliki relevansi dengan materi pelajaran.

Dalam Kurikulum 2013, kata dia, terdapat empat kompetensi inti yang lebih mengacu pada pendidikan moral. Yaitu, semangat religius, sikap sosial sebagai anggota masyarakat, memiliki pengetahuan yang faktual, konseptual, prosedural, dan meta kognitif.

Aplikasi kompetensi inti ini, terangnya, menjadi satu kesatuan yang terpadu (terintegrasi). Ia mengkritisi kompetensi semangat religius yang terkesan dipaksakan dimasukkan pada materi pelajaran.

“Kompetensi pertama, mengutamakan semangat religius. Ini memberikan kesan memasukkan dogma agama ke dalam pelajaran-pelajaran,” kritiknya.

Disiplin, Tiru Elektron

Retno menambahkan, penyusunan Kurikulum 2013 dilakukan dengan cara mengambil salah satu kalimat yang ada pada kompetensi inti. Untuk selanjutnya, kompetensi itu dikait-kaitkan dengan materi yang diajarkan.

“Misalnya, dalam Matematika Kelas X, disiplin, konsisten, dan jujur, dikaitkan dengan aturan eksponen dan logaritma. Bagaimana caranya menyatukan aturan logaritma dengan kedisiplinan seseorang,” ujarnya.

Hal yang lucu, tambahnya, pun ditemukan pada pelajaran Kimia. Misalnya, berperilaku disiplin dengan meniru elektron yang selalu beredar menurut garis edar atau lintasannya.

Menurutnya, pengaitan materi seperti itu lebih tepat ditujukan untuk mereka yang sudah mengikuti jenjang pendidikan lebih tinggi, atau di atas program magister (S2), dan bukan untuk anak sekolah tingkat SMA.

“Lucu ya, bagaimana bisa murid-murid kami disuruh meniru elektron dalam kehidupannya? Kalau ini ditelaah, sebenarnya pelajaran seperti ini bukanlah untuk anak sekolah, tapi untuk orang-orang yang sudah S2,” tambahnya.

Kembali KTSP, Bukan KTKP

Berkenaan dengan hal itu, Retno bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Koalisi Tolak Kurikulum 2013 menyarankan Kemdikbud untuk mengurungkan pelaksanaan kurikulum baru itu.

Selanjutnya, ia meminta agar pemerintah kembali saja pada kurikulum tingkat satuan pendidikasn (KTSP) dengan lebih memperioritaskan pembenahan terhadap guru dan LPTK.

“Bukan malah ngotot menjalankan Kurikulum 2013 yang lebih tepat disebut kurikulum tingkat kementerian pendidikan (KTKP),” pungkasnya. 

Untuk diketahui, meski masih banyak pihak yang keberatan atau menolak Kurikulum 2013, namun Mendikbud tetap bersikukuh untuk menerapkannya mulai Juli mendatang dengan segala resikonya.

Bahkan, implementasi kurikulum pengganti KTSP ini sudah dicanangkan secara resmi oleh Wapres Boediono, saat pembukaan acara Rembuknas 2013, Senin (11/2) lalu di Depok, Jawa Barat. [Srie]

6 komentar:

  1. tidak ada yang tidak bisa dan tidak ada yang tidak mungkin. Maaf yaa sepertinya anda (Srie) terlalu mengada-ada. siapapun kalo dia seorang guru pasti membutuhkan inovasi dan setiap inovasi bisa dilakukan oleh orang yang selalu berinovasi. saya sepakat yang harus segera di inovasi selanjutnya adalah personil dilingkungan satuan pendidikan tidak hanya kurikulumnya saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Artikel ini adalah berita, yg mengatakan hal itu adalah bu Retno, guru dan sekjen FSGI, dan ditulis di Blog Srie secara seimbang dg artikel berita lainnya yg mndukung kurikulum 2013.

      Siapapun punya hak untuk menilai dan bpendapat tkait isi berita.

      Artikel ini, bukan opini dari saya.

      Terima kasih, salam persahabatan.

      Hapus
  2. yang pertama harus kita pahami adalah perubahan itu ada dan harus ada. tidak mungkin sebuah perubahan tidak memiliki tahapan. tahapan inilah yang sedang kita lakukan hari pada bidang pendidikan di Indonesia. jadi berbicara sola pergantian dan penerapan kurikulum yang baru itu sudah seharusnya dilakukan buaknlah hal yang dipaksakan. Tidak seperti aladin yang memiliki jin utnuk merubah sesuatu.

    BalasHapus
  3. Ketika mencermati alasan yang mendasari kurikulum 2013 ternyata sangat rasional. Pertama ketertinggalan materi yg diajarkan pada TIMSS dan PISA, kedua tuntutan kompetensi tenaga kerja yg kreatif dan inovatif dan ketiga karakter dan jati diri bangsa. Semuanya menuntut penyesuaikan materi ajar dan pendekatan pembalajaran yg saintifik shg dapat mengembangkan aspek kognitif, keterampilan dan afektif sec integratif. Dg SKL yg baru ketiga ranah dpt dikembangkan secara simultan. Semoga Indonesia bisa mengejar negara-negara maju.

    BalasHapus
  4. ada indikasi kementrian salah pilih orang-orang penyusun draf kurikulum 2013

    BalasHapus
  5. saya harap pemerintah hrs berfikir lebih jauh lagi mengenai dampak yang akan terjadi ketika kurikulum 2013 digunakan untuk pendidikan di indonesia.banyak sekali para guru yang dirugikan ..terutama mp tik yang dihilangkan dari kurikulum.apakah indonesia akan kembali ke jaman majapahit?sehingga teknologi infomasi dan komunikasi di hilangkan dari kurikulum di indonesia?coba pikirkan lagi lebih mendalam nasib para guru yang bergerak dalam bidang tersebut!!!

    BalasHapus