Kamis, 28 Februari 2013

Uang Tabungan Dipakai Bayar Guru Les Bahasa Asing, Siswa SMKN 48 Jakarta Demo


Srie, - Gara-gara uang tabungannya digunakan oleh pihak sekolah untuk membayar gaji guru bahasa asing, ratusan siswa SMKN 48 Klender, Jakarta Timur, berunjuk rasa di lapangan sekolah pada hari Selasa (26/2).
Sedianya, uang yang ditabungkan sejumlah Rp 360.000 per siswa Kelas XI itu akan digunakan untuk biaya karya wisata saat naik kelas XII. 
Tapi, oleh pihak sekolah uang tersebut dipakai untuk pelunasan tunggakan selama lima bulan biaya honor guru (native speaker) bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.
“Masalah uang tabungan BOP menjadi bahan pertanyaan bagi sebagian besar kalangan siswa kelas XII. Kami bingung soal rincian biaya kelas bahasa Inggris itu seperti apa,”kata Tridi Handayani, Ketua OSIS SMKN 48, Selasa (26/2), saat usai berunjuk rasa.
Tridi mengatakan, para siswa baru mengetahui uang tabungannya digunakan untuk keperluan lain setelah sekolah mengadakan pertemuan dengan orangtua murid, pada Sabtu (23/2), pekan sebelumnya.
Aksi unjuk rasa siswa, kata Tridi, adalah murni dilakukan spontan secara perorangan saja, bukan karena adanya penggalangan massa oleh OSIS. Informasi akan adanya demo tersebut diketahuinya dari media sosial Twitter milik teman-temannya.
“Ya, kalau dari saya sebenarnya sih kurang mendukung (demo). Semestinya bisa dikomunikasikan terlebih dahulu dengan guru. Tapi, mungkin teman-teman merasa sungkan atau takut jawaban yang diberikan guru berbeda. Jadi protes itu dilakukan,” ujar Tridi.
Aksi unjuk rasa, pada awalnya hanya dilakukan oleh sekitar 250 siswa Kelas XI saja, dimulai saat jelang waktu istirahat siang. Namun, kemudian diikuti pula oleh siswa lainnya dari kelas X dan XII. Aksi ini berakhir saat bel berbunyi pertanda pelajaran baru akan dimulai.
Sementara itu, saat berunjuk rasa, perwakilan siswa sempat diterima oleh Kepala Sekolah, Hasanuddin, untuk memperoleh penjelasan terkait masalah yang disoroti selama demo berlangsung. 
Pada pertemuan dengan perwakilan siswa itu, Hasanudin mengatakan sekolah memiliki tunggakan biaya sekitar 180 juta kepada lembaga pendidikan yang mempekerjakan pengajar bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.
Tunggakan terjadi, kata dia, karena iuran bulanan selama 5 bulan, yakni Juli-November yang seharusnya dibayar oleh siswa terhenti terkait status RSBI yang sudah dicabut.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pada pertemuan sebelumnya dengan orangtua murid, sekolah meminta persetujuan untuk memakai uang tabungan siswa yang jumlahnya sekitar Rp 90 juta. *** [Srie].
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar