Minggu, 24 Februari 2013

Wamendikbud Akui Anggaran Kurikulum 2013 Berubah-Ubah, Apa Alasannya?


Srie, - Kemdikbud akhirnya mengakui secara terbuka mengenai adanya perubahan anggaran yang terkait dengan pergantian kurikulum.

Akan tetapi, pihaknya tetap membantah adanya permainan anggaran dibalik perubahan anggaran yang terjadi berkali-kali itu.

Wamendikbud, Musliar Kasim mengatakan, perubahan anggaran Kurikulum 2013 terjadi terkait dengan pengadaan buku dan pelatihan guru untuk persiapan implementasi kurikulum baru yang dimulai Juli tahun ini.

"Memang berbeda, karena kalau dari segi buku ada jumlah halaman buku yang ikut berubah. Kalau dummy buku (buku contoh sebelum dicetak banyak,- red) sudah jadi maka semuanya jelas," kata Musliar, Jum’at (22/2), di Jakarta.

Musliar menjelaskan, masalah pengadaan buku memang sempat dipersoalkan oleh Panja Kurikulum Komisi X DPR terkait harga satuan buku yang dinilainya terlalu tinggi hingga mencapai Rp 42.000,- per eksemplar.

Padahal, lanjutnya, berdasarkan salah seorang pengamat pendidikan yang juga memahami seluk beluk pengadaan buku, untuk buku yang sama dengan kualitas kertas yang bagus dan isi penuh warna, harga satuannya hanya berkisar Rp 8.000,- per eksemplar.

Mantan Rektor Unand Padang ini mengakui, ketika memperoleh masukan seperti itu, pihaknya tidak tinggal diam, lalu mengadakan pemeriksaan ulang atas harga pengadaan buku tersebut.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dan penghitungan ulang, didapati harga satuan buku berkisar sekitar Rp 8.000,- saja dengan jumlah eksemplar yang lebih banyak,” ujarnya.

Musliar juga menjelaskan seperti apa yang pernah disampaikan oleh atasannya, Mendikbud, Mohammad Nuh, beberapa waktu sebelumnya terkait adanya anggaran melekat yang ada setiap tahun di kementeriannya untuk pengadaan buku dan pelatihan guru.

Menurutnya, anggaran buku dan pelatihan guru sebenarnya selalu masuk dalam anggaran tahunan pemerintah, namun sifatnya masih umum.

Saat ada perubahan kurikulum, kata Musliar, pengadaan buku dan pelatihan guru pun membutuhkan anggaran biaya tambahan, karena jumlah dana yang dibutuhkan jauh lebih banyak lagi.

“Seperti yang pernah diterangkan, ada anggaran melekat yang ada atau tidak ada kurikulum baru, anggaran itu (tetap) ada. Kemudian, anggaran tambahan yang memang ada untuk kurikulum baru,” tukasnya.

Bantah Tudingan

Seperti diberitakan sebelumnya, Mendikbud, Mohammad Nuh sempat membantah adanya anggaran kurikulum baru yang berubah-ubah itu. [Baca: Mendikbud Bantah Anggaran Kurikulum 2013 Membengkak Spektakuler].

Akhir pekan lalu, peneliti dari ICW, Siti Juliantary Rachman, pernah menduga berbagai kemungkinan yang meneyebabkan anggaran Kurikulum 2013 berubah-ubah dan nilainya membengkak spektakuler.

Menurut Tari, sapaan Siti Jualiantary Rachman, terdapat sejumlah kemungkinan mengapa anggaran itu berubah-ubah.


“Yang ini sangat mungkin terjadi. Pemerintah sudah tahu bahwa perubahan kurikulum butuh biaya besar. Tapi, karena takut tidak disetuji oleh DPR, dibuat dulu dengan anggaran yang minim,” kata Tari, saat jumpa pers Koalisi Tolak Kuirikulum 2013, Jum’at (15/2), di kantor ICW, Kalibata, Jakarta.


“Kami melihat proyek kurikulum ini hanya penggalangan dana Pemilu saja. Apalagi, anggaran Rp 2,49 triliun hanya untuk proyek buku. Sementara kurikulumnya tidak jelas, hanya Menteri dan wapres saja yang ngerti,” kata Jerry, pada saat acara yang sama.

Tudingan dari anggota Kolisi itu sempat dibantah oleh Wamendikbud, beberapa waktu yang lalu. [Baca: Tidak Ada Hubungan, Pergantian Kurikulum Dengan Pemilu 2014]. *** [Srie]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar