Minggu, 10 Maret 2013

Survei PIRLS: Literasi Membaca Siswa Indonesia Peringkat 41 dari 45 Negara


Srie, - PIRLS atau studi internasional tentang literasi membaca untuk siswa kelas IV sekolah dasar menempatkan Indonesia berada pada peringkat nomor 41 dari 45 negara (negara bagian) yang menjadi peserta.

Hasil studi menunjukkan skor rata-rata yang diperoleh siswa Indonesia adalah 405, atau berada dibawah skor rata-rata siswa internasional sebesar 500, dengan standar deviasi 100.

Lima peringkat tertinggi diduduki oleh siswa di negara Rusia (skor = 565), Hongkong (564), negara bagian Alberta Kanada (560), Singapura (558), dan negara bagian Britis Kanada (558).

Skor Indonesia masih berada di atas empat negara lainnya yang ikut dalam studi tersebut, yaitu Qatar (skor = 353), Kuwait (330), Maroko (323) dan Afrika Selatan (302).

Daftar skor dan peringkat negara selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini yang bersumber dari Balitbang Kemdikbud.



Apa Itu PIRLS?

PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) adalah studi internasional tentang literasi membaca yang dikoordinasikan oleh IEA (The International Association for the Evaluation of Educational Achievement) yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda.

PIRLS diselenggarakan setiap lima tahun sekali, yaitu pada tahun 2001, 2006 dan 2011. Sejak tahun 2006 Indonesia mulai ikut berpartisipasi sebagai peserta PIRLS, yang pada saat itu telah diikuti oleh 45 negara (negara bagian) di dunia.

Bagi Indonesia, manfaat yang dapat diperoleh dari keikutsertaannya dalam PIRLS, antara lain adalah untuk mengetahui posisi prestasi siswa Indonesia bila dibandingkan dengan prestasi siswa di negara-negara lain di dunia.

Dengan ikut PIRLS juga akan diketahui faktor-faktor apa saja yang turut berpengaruh atas prestasi yang diraihnya itu. Untuk selanjtunya, hasil studi tersebut dapat digunakan sebagai masukan dalam perumusan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Hasil studi PIRLS dan hasil studi lainnya, seperti TIMSS, telah dijadikan sebagai bagian dari masukan yang penting bagi pemerintah Indonesia dalam menyusun Kurikulum 2013 yang rencananya akan mulai diterapkan pada bulan Juli 2013.

Dalam studi PIRLS, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, serta pengendalian mutu.

Pada PIRLS 2006, pengembangan tes dan angket dipusatkan di  Boston College, Boston, USA, dan penentuan sampel sekolah ditentukan oleh Statistics Canada, di Ottawa, Kanada. Sedangkan pengolahan datanya dilakukan di Data Processing Center, Hamburg, Jerman.

Metodologi Survei

Dasar dari penilaian literasi membaca dalam PIRLS 2006 adalah tujuan membaca dan proses pemahaman. Tujuan membaca dikelompokkan dalam dua bagian yang sama, yaitu (1) berpengalaman sastra (50%) dan (2) memperoleh dan menggunakan informasi (50%).

Sementara itu, proses pemahaman dikelompokkan menjadi empat bagian yang berbeda, yaitu proses pemahaman dalam (1) mengambil informasi secara eksplisit (20%), (2) membuat kesimpulan secara langsung (30%), (3) menginterpretasikan dan mengintegrasikan gagasan dan infortmasi (30%), dan (4) mengevaluasi isi, bahasa dan unsur teks (20%).

Berdasarkan atas spesifikasi itu, kemudian dituangkan menjadi soal-soal, yang selanjutnya disusun menjadi buku-buku tes literasi. Selain itu, siswa, orangtua, guru dan kepala sekolah juga diberikan angket tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan pembelajaran membaca bagi siswa.

Dalam studi PIRLS, populasinya adalah siswa kelas IV SD di Indonesia. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan tiga strata, yaitu jensi sekolah (SD/MI), status sekolah (negeri/swasta), dan lokasi sekolah (desa/kota). Tercatat, sampel yang terpilih adalah sebanyak 4.950 siswa dari 170 SD/MI negeri dan swasta, serta berlokasi di desa dan di kota.

Dari segi waktunya, pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Maret-April 2006 secara bersamaan di sekolah-sekolah yang terpilih sebagai sampel.

Dalam pelaksanaannya, para siswa dalam satu kelas utuh diberikan buku tes untuk dikerjakan selama 80 menit. Setelah itu, siswa, orang tua, guru dan kepala sekolah diminta untuk mengisi angket. *** [Srie]

1 komentar: