Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Arti Sahabat



Sambil terbaring di atas kasurnya, malam minggu itu, Zaza terlihat sedang menelepon sahabatnya. Ucapan salam telah ia sampaikan, yang kemudian mendapatkan jawaban salam pula dari seseorang yang ia ajak bicara. Dengan nada yang agak malas-malasan, percakapan Zaza melalui telepon itu terus berlanjut.
  “Ada apa malam mingguan telepon ? Gak ada acara nih ?”
“Gak ngapa-ngapain, gak ada acara apapun ?”
“Kenapa ?”
“Nih, aku lagi bete.”
“Ooh... sekali-kali refreshing dong...”
“Mau sih, tapi gak ada yang mau nemenin.”
“Besok kan hari minggu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ?”
“Setuju saja sih, tapi mau temenin aku gak ?”
“Siap, neng Zaza... “
“Terus... kita mau jalan-jalan kemana ?”
“Yang deket-deket aja. Bagaimana kalau ke Lembang atau Cikole ?”
“Boleh juga. Terus kita ketemuan dimana, sebelum berangkat ke Lembang ?”
“Ana yang ngalah deh. Besok pagi ana sudah sampe di Kebon Sirih. Bagaimana ?”
“Setuju.  Ditunggu ya ... Makasih ...”
“Sama-sama. Sampe ketemu besok”
“Assalamu ‘alaikum”
“Wa ‘alaikum salam”

Besok paginya, Lili sudah sampai di depan rumah kost Zaza. Kemudian, ia menelepon untuk memberitahukan atas kehadirannya.
“Assalamu ‘alaikum”
“Wa ‘alaikum salam”
“Ana sudah sampai nih, di depan”
“Oh ya ... masuk saja dulu ...nih aku lagi masih siap-siap”
“Oke”
“Asslamu ‘alaikum”
“Wa ‘alaikum salam. Silakan masuk. Kamarku lagi berantakan. Sory ya...”
“Segini sih ... rapi banget”
“Makasih ... pagi-pagi sudah dapet pujian... lagi hoki kali ya...”
“Koki kali ...”
“Eh, bagaimana ... mau dibuatin teh atau susu dulu ?”
“Enggak perlu, nanti keburu kesiangan lagi”
“Bener ... nih aku sudah siap semua kok”
“Iya... kita langsung saja berangkat”
“Ayo ...”
Mereka lantas keluar dari kamar. Zaza mengunci pintu kamarnya. Terus langsung menuju kendaraannya. .......
“Bismillahirrohmanirrohim”
“Bismillahi majreha wamursaha .........”
Avanza hitam itu mulai meluncur menyusuri Jl. Wastukancana, Jl. Cipaganti hingga Jl. Setiabudhi untuk seterusnya menuju Lembang.
“Tumben, Jl. Setiabudhi lumayan lancar begini”
“Belum Non. Masih pagi, hari libur. Sebentar lagi juga, pasti macet”
 “Eh, sudah sarapan belum ?”
“Alhamdulillah sudah. Zaza sudah belum ?”
“Mana ada anak kost sempat sarapan.”
“Kalau maksain sih bisa saja”
“Itulah enaknya jadi anak mamih. Di rumah sendiri, ada yang bantuin...”
“Siapa bilang, pasti enak juga anak kos ... bebas mau ngapain saja”
“Sekali-kali kita tukeran saja deh ... bagaimana ?”
“Ha..ha..ha..boleh juga tuh idenya ...”
“Itu Boscha... berarti kita sudah sampai dong... di Lembang”
“Iya... nanti kita ke L.A. saja ... bagaimana ?”
“Apaan itu L.A. ?”
“Lembang Asri, sekarang banyak mainannya”
“Boleh ... memang ada apaan di sana ?”
“Banyak deh, ada susu sapi murni, yoghurt, roti bakar, jagung bakar, kebun stoberi. Juga tempat outbond, flyingfox, ATV dan macam-macam deh. Pemandangannya juga bagus banget”
“Sudah sering kesana ya...?”
“Enggak juga ... cuma baru dua kali. Tuh di depan, sebelah kanan. Kita langsung masuk”
“Oke..”
Mereka langsung masuk ke tempat wisata itu. Pelayan telah siap di hadapan mereka menunggu konsumen memesan sesuatu..
“Enak juga ya tempat ini”
“Nanti, pas di belakang akan lebih enak lagi ...”
“Oh ya .... ?”
“Selamat pagi, ... silakan mau pesan apa ...?”
“Mau pesan apa ya ...?”
“Zaza, isi dulu tuh perut ... kan anak kos belum sarapan”
“Baik bu guru .... kalau gitu aku pesan roti bakar dan susu murni hangat dulu...”
“Kalau ana ... susu murninya saja deh..”
“Maaf teh,... roti bakarnya pakai keju, coklat atau stroberi”
“Keju saja deh ... ”
“Terus, susu murninya ... ditambah coklat atau stroberi ?”
“Coklat saja ... “
“Sama, coklat ..”
“Terima kasih... “
“Zaza, ... semalam apa yang membuatmu bete ...?”
“Banyak deh ... dari soal tugas kuliah, PLN yang sering mati, baju banyak belum dicuci, sampai soal temen lagi...”
“Temen yang mana ... ?”
“Ya temenku ... memang mau bantuin gitu ...?”
“Apa masalahnya .... ?’
“Masalahnya sih sederhana, tapi kemudian dibikin rumit oleh sendiri...”
“Memang, masalahnya apa ...?”
“Persisnya, masalah apa ya ...?”
“Ini pesanannya ... silakan dinikmati.”
“Terima kasih mbak ...”
“Eh,  sampai mana tadi aku bicara ...?”
“Sampai Zaza bingung, mau katakan masalah temennya tuh apa ...?”
“Oh ya ... kita nikmati dulu deh roti bakar dan susu murninya ?”
“Ana ... susu murninya saja ..”
“Ayo dong... ambil roti bakarnya. Sekedar tunjukin sikap solider...”
“Baik  non.... ana ambil satu potong saja”
“Begitu dong... entar nambah lagi temen yang bikin aku bete ...”
“Temenmu itu ikhwan atau akhwat ...?”
“Ikhwan dan akhwat ...”
“Apa masalahnya ... ?”
“Itu dia ... yang lagi aku cari tau ... apa persisnya ...?”
“Macam detektif saja ...”
“Memang cuma Thomson & Thompson saja yang bisa jadi detektif ...?”
“Oh ... jadi suka baca komik Tintin juga ya ... ha..ha..ha.. sama”
“Apa yang suka dari Tintin ... ?”
“Snowy dan jambulnya Tintin. Ha.ha.ha.ha...”
“Kalau menurut Profesor Calculus, masalah temenku itu, lebih pada soal komunikasi ...”
“Mana ada Profesor Calculus sempet datang ke Bandung”
“Tidak harus ke Bandung. Via chatting juga bisa. Chatting imajiner. He.he.he..”
“Oh ya ... apa kata Profesor ?”
“75 persen masalah yang terjadi antar teman, itu lebih disebabkan oleh faktor komunikasi antar mereka...”
“Terus ... “
“Terutama, antar teman yang berlainan jenis ...”
“Terus ...”
“Seorang pria ... lebih sering menggunakan rasionya, sedangkan perempuan lebih suka pake perasaan”
“Terus ...”
“Terus mengalir sampai jauh. Emangnya aku tukang parkir. Teras ... terus ...” 
“Maksud ana ... terusin saja kuliah psikologi komunikasi dari Profesor Calculus itu ...”
“Memang menarik ya ... materi kuliahnya ?”
“Lumayan, menarik juga ...”
“Kalau begitu, kita ke belakang deh ... biar makin tambah menarik.”
“Ayo,  kita ke kebon stroberi dulu atau ke tempat outbound”
“Ke tempat outbound saja, setelah itu ke kebon stroberi ...”
“Oke...”
Mereka masuk ke lokasi outbound yang berada di sekitar bagian belakang setelah membeli tiket masuk Rp 50.000 per orang. Tampak sudah ada puluhan pengunjung lain yang sedang menjajal permainan yang teredia. 
“Wow ... asyik juga ...”
“Kita kemana dulu ...?”
“Tuh, lihat... ayo kita balapan naik  panjat tambang”
“Siapa takut ... Go !”
Segera saja, mereka berdua beradu cepat lari menuju tempat dimana rangkaian tambang yang berdiameter satu centimeter itu berdiri agak tegak, kira-kira dengan kemiringan 85 derajat  dan setinggi enam meter.
Keduanya sudah memegangi bagian dari tambang itu. Lantas,  mereka beradu cepat memanjatnya hingga ke atas. Sebentar saja, tampak Lili lebih sedikit cepat sampai di atas.
“Hore ... ana jadi pemenangnya ..”
“Iya deh selamat ...!”
Kemudian, mereka duduk dibagian atasnya. Ada tempat duduk yang sengaja dibuat untuk bisa beristirahat sebentar dan memandangi pemandangan lokasi dari atas.
“Lumayan capek juga ya ... nafas jadi ikutan berlari”
“Kata Profesor Calculus, itulah kehidupan sesungguhnya”
“Oh, .. jadi sudah dimulai lagi nih kuliahnya...?”
“Kalau kau mau, maka kemenangan itu akan dapat kau raih juga. Meski dengan perjuangan yang melelahkan. Katanya, itu hanya soal waktu. Seperti perlombaan memanjat tambang, dan akhirnya kaupun bisa menang”
“Apa kaitannya, menang panjat tambang dengan materi kuliah itu ...?”
“Dengarkan dulu ... Perempuan itu sering menganggap dirinya telah melakukan banyak hal bagi pasangannya”
“Namun, ia masih bisa simpan rapat-rapat, dan tidak terlalu banyak menuntut apapun, kecuali perhatian dan pengertian”
“Tambah menarik nih, kuliahnya ...”
“Sementara itu, dengan kacamata rasionalitasnya sang pria justru menganggap sebagai sesuatu yang biasa saja, kecuali tahu bahwa pasangannya itu memberikan perhatian yang lebih pada dirinya, dibandingkan dengan teman-teman perempuannya yang lain”
“Sejak kapan mahasiswa kimia pinter juga soal psikologi ....?”
“Sejak berguru ke Profesor Calculus tahu ...?”
“Profesor Calculus kan bukan ahli psikologi, tapi ahli kimia ...?”
“Memangnya cuma satu, nama Profesor Calculus di dunia ini ... ? Nama yang sama, yang ahli  Psikologi juga ada. Yang ahli Matematika juga ada”
“Iya deh, lanjutkan kuliahnya ...!”
“Masalah itu muncul, seiring berlalunya waktu tatkala sang perempuan tetap tidak melihat sang prianya serius memberikan tanda-tanda yang diharapkannya”
“Yang terjadi, justru sebaliknya. Harapan akan munculnya tanda-tanda kejelasan, ternyata tertutupi oleh munculnya kekhawatiran yang dibalut oleh rasa cemburu, yang mungkin menurut sang pria itu berlebihan”
“Ketika kekhawatiran itu mulai tampak jelas, apa yang terjadi antar mereka berdua, Bu Dosen ... ?”
“Bukan Bu Dosen ... tapi Profesor Calculus ....”
“Iya deh ... terus apa yang terjadi Profesor ..?”
“Sebuah perbincangan yang seru terjadi, saling bantah dan saling adu argumentasi yang tak jelas, campur aduk, antara rasionalitas dan emosionalitas, yang akhirnya menyebabkan banyak hal yang tak terduga dan bisa jadi, disesalkan oleh keduanya. Dalam hatinya, mereka bertanya, mengapa itu semua harus terjadi ?”
“Lalu ...?”
“Selanjutnya, putuslah komunikasi itu. Mereka kemudian berjalan dengan persepsi, dugaan dan kesimpulannya masing-masing”
“Kesimpulan apa yang diambil oleh masing-masing mereka ?”
“Sang perempuan, menganggapnya hubungan itu sudah menjadi bagian dari masa lalunya. Lalu, ia pun merancang jalannya sendiri. Sebuah jalan, yang pasti menimbulkan kesan adanya suatu keganjilan di antara para teman-teman lainnya”
“Terus, teman yang laki-lakinya ?”
“Yang laki-laki, dia terjerembab pada perasaan bersalah yang dalam hingga tak tahu persis apa yang sebaiknya ia lakukan. Memutuskan komunikasi dengan teman-teman lainnya telah menjadi pilihan. Bahkan, untuk, sementara ia pun akan berlari menjauh, terus hingga menuju Pakistan”
“Zaza ... itulah yang membuatmu semalaman jadi bete ...?”
“Benar..!”
“Siapa nama temanmu itu ?”
“Mar’atushholihah dan Laksono Prawira .... !”
Sejenak, keduanya terdiam. Raut muka Lili tampak lebih tegang menyiratkan banyak tanda tanya dan keheranan.
“Apa saran Profesor Calculus pada kedua nama itu ?”
“Kita turun dulu yuk ...”
“Boleh. Kita langsung saja ke Kebon Stroberi ...”
Mereka kemudian berjalan menuju kebon stroberi yang terletak di sebelah utara, tak jauh dari tempat mereka semula.
“Subhanallah ... lihatlah ! Makin tampak indah kebun stroberi ini”
Zaza bergerak mendekati salah satu tanaman stroberi. Lalu, ia memegangi daun dan memetik buahnya, sambil matanya sesekali diarahkan ke wajah sahabatnya.
“Kata Profesor Calculus, tanaman stroberi ini akan tampak indah kalau kita mampu merawatnya. Disirami, dipupuk, dan dijauhkan dari hama tanaman. Maka, ia akan menjadi indah dan menyenangkan. Buahnya pun bermanfaat, jadi enak dimakan”
“Ini Profesor Calculus yang lain lagi, ahli biologi ...”
“Aku berharap, teman-temanku itu tetap bisa menjadi pasangan yang terawat, sehingga memberi pemandangan yang indah menyenangkan, serta bermanfaat bagi mereka, teman-temannya yang lain, sebagai contoh teladan yang dibanggakan”
“Zaza, ... katakan,  apa maksud sebenarnya dari kata-katamu itu ... ?”
“Apa kali ini, sahabatku telah siap menerima sebuah intervensi terhadap masalah pribadi ?”
“Insya Allah, kali ini ana siap ... katakan saja ...!”
“Aku mau .... Lili dan Lakso kembali menjadi pasangan yang indah, dan segera memastikan untuk melanjutkan kembali sebuah jadwal rencana penting yang pernah tertunda !”
“Zaza ... sejauh itukah pendapatmu itu ...?”
“Ya, ... ! Tidak ada keraguan sedikitpun di aku”
“Pusaran air itu telah membawaku pada sebuah keputusan yang baru, Zaza !”
“Itu keputusan yang sangat emosional, Lili. Justru akan membawamu makin terseret dan tenggelam oleh kuatnya pusaran”
“Iya. Tapi,  bukankah Zaza juga ada didalamnya .... di dalam pusaran itu ?”
“Aku sudah berusaha keluar dari pusaran itu, ... agar arus bisa berbalik menjadi tenang kembali”
“Zaza... jarum waktu itu tidak bisa diputar kembali...”
“Benar. Namun, apakah hal itu sudah menjadi harga mati bagimu saat ini ...?”
“Ana sudah mengambil keputusan, Zaza...”
“Keputusan itu sangat tidak berdasar, Lili ....!”
“Itu adalah bagian dari upayaku, Zaza... ! Dalam menebus kembali sebuah kepercayaan yang telah terkoyak, yang kini sudah meruntuhkan segenap harga diriku...!”
“Dan kau anggap, kepercayaan yang terkoyak dan harga diri yang runtuh itu terjadi ketika aku telah masuk arus pusaranmu, begitu ... Lili ?”
“Subhanallah ... kenapa ini semua bisa terjadi ?”
“Karena seorang sahabat dilarang memasuki area yang dianggapnya wilayah pribadi, walau untuk sekedar berbagi saling mengetahui”
“Apakah ada yang salah dari keputusanku, Zaza ...?”
“Tidak ada yang salah, bahkan itu halal .... ”
“Lalu, apa masalahnya dengan keputusanku itu ... ?”
“Lili tidak berlaku jujur pada diri sendiri ....”
“Sebuah tuduhan yang cukup serius, cenderung berbau fitnah dan bisa menyakitkan”
“Kita terlalu lama berdiri, bagaimana kalau duduk dulu di saung itu ...?”
“Boleh ... sekalian kita minta tolong ke pelayan itu memetikkan stroberi buat kita”
“Kang, punten tolong ambilkan buah stroberi itu ya.... Lalu bikinkan jusnya untuk dua orang”
“Mangga. Ditunggu ...”
“Ana ingin kembali tenang. Jangan ciptakan kembali pusaran arus itu, Zaza...!”
“Sebuah ketenangan yang semu, dan aku tidak akan lagi masuk pusaran itu. Karena aku, kini sudah tahu semuanya...”
“Lalu, kenapa Zaza terus mempersoalkan keputusanku itu ?”
“Mangga. Ini stroberinya ...”
“Terimakasih, kang ...”
“Oleh penjual, ...  stroberi ini selalu dihidangkan dengan rasa manis, Lili”
“Namun, seorang sahabat bukanlah penjual stroberi, Lili. Yang penting asal laku dibeli dan dinikmati. Suatu waktu, bila dianggap perlu, stroberi harus pula dihidangkan dengan rasa yang pahit, untuk berfungsi sebagai obat” 
“Menurutmu, Zaza... Obat apa yang tepat buatku ...?”
“Batalkan rencanamu jadi madunya Ummi dan kembali ke Lakso !”
“Zaza.... ! Bagiku, kata-katamu itu sudah berlebihan !”
“Sudah kukatakan, kata-kata seorang sahabat tidak selalu harus manis, demi kebaikan sahabatnya sendiri. Itulah bedanya sahabat dan penjual stroberi, Lili !”
“Astaghfirullahal ‘adzim .... ”
“Obat hatimu itu ada di Lakso, sahabatku ... Begitu juga sebaliknya. Obatilah hatimu dengan obat yang tepat, insya Allah pusaran arus itu akan kembali tenang”
“Antum anggap, hati ana tidak akan tenang bila meneruskan keputusanku itu ? Tidak, Zaza...!”
“Aku bukanlah pihak yang tepat untuk menanggapi pernyataanmu, Lili. Soal keputusanmu itu, tanyakan langsung pada hati kecilmu sendiri...”
“Maksudnya, seorang akhwat yang bersedia dimadu itu berarti tidak sesuai dengan suara hati kecilnya sendiri, begitu ...?”
“Untuk kasusmu, ya Lili...!”
“Terlalu berani, berkesimpulan seperti itu.... , Zaza !”
“Karena, kini aku tahu bagaimana rangkaian keputusanmu itu diambil !”
“Itu, multitafsir, Zaza... !”
“Tidak, karena aku juga tahu dari sorotan matamu, Lili. Dan terpenting, dari sorot mata Lakso.”
“Kapan sorot mata Lakso itu, Zaza ketahui ... ?”
“Kemarin sore, tiga jam sebelum dia menghadap Amir terkait soal keputusanmu”
“Dimana ... ?”
“Di tempat kos nya ...”
“Berdua... ?”
“Ya... kemudian jadi bertiga, dengan teman Caca”
“Apa yang Zaza katakan kepada dia ...?”
“Kembali ke Ukhti Lili... dan katakan kepada Amir bahwa Lili masih sebagai calon tunangannya !”
“Itu sudah masuk ke bagian wilayah keyakinan jamaah, Zaza...!”
“Ya, sebuah keyakinan yang perlu mendapat pencerahan, Lili ... !”
“Astaghfirullhal ‘adzim...”
“Sekarang aku tanya, jika Lili mempercayai keyakinan itu sebagai sebuah kebenaran, mengapa kau ungkapkan secara jelas rasa cemburu itu di hadapan Ikhwan Lakso ? Kenapa cemburu itu harus ada, Lili ...?
”Kenapa engkau tidak bersikap pasrah dan menerima begitu saja, sejak awal, sahabatku ? Tapi kepasrahan itu baru kau tunjukkan setelah rasa cemburumu puas ditumpahkan ...?”
“Kenapa namaku, harus selalu kau bawa-bawa dalam panasnya api cemburu itu, Lili ?”
“Kepasrahan itu mendinginkan hati, dan mendamaikan perasaan, Lili... Bagaimana kau dapat jelaskan padaku, sebuah sikap kepasrahan namun berbuah api panas kecemburuan ?”
“Kau tawarkan namaku ke Amir untuk dinikahi. Bagiku, itu bukanlah wujud dari sikap kepasrahan, tapi jelas-jelas berasal dari api kecemburuan. Dimana kepasrahan itu berada, sahabatku ...?”
“Stop, ... Zaza !”
 “Tidak. Tidak ada alasan yang kuat bagiku, bahwa itu adalah bentuk dari sikap kepasrahan. Tidak juga tiket surga yang pernah kau tawarkan kepadaku, Lili ...”
“Ini akan berakibat serius, Zaza...”
“Apa maksudnya berakibat serius ....?”
“Kita sudah lama bersahabat, Zaza.... Kini kata-katamu telah banyak melukai hati ana...”
“Ooh.... Inikah yang kau sebut kepasrahan itu, Lili ? Hati yang masih bisa terluka ...?”
“Silakan, Lili ! Kalau menurutmu, aku ini sudah dianggap tidak layak lagi sebagai sahabatmu, lakukan apa saja, sesuai yang kau mau !” 
“Astaghfirullahal ‘adzim...”
“Lili, ... Hatimu itu bukan terluka karena kata-kataku. Tapi sedang merasakan sakit akibat reaksi dari pengaruh obat yang telah mulai kau terima. Saatnya nanti, sakit itu akan hilang, dan luka yang sesungguhnya, insya Allah akan sembuh”
“Tiket Surga semacam itu tidak cocok dijadikan sebagai obatmu. Itu bukan penyembuh luka hatimu, sahabatku... Obatmu itu adalah jujur pada diri sendiri...!”
“Zaza... bolehkah ana bisa diantar pulang lebih cepat...?”
“Pasti boleh... apa yang kau rasakan, Lili ...?”
“Ah, biasa... ana cuma kena sakit kepala saja. Tapi, sekarang lumayan cukup mengganggu”
“Oke. Kalau begitu, kita sekarang langsung pulang saja. Ayo langsung ke arah mobilku saja. Biar nanti aku yang urus tagihannya, menyusul”
“Syukron, Zaza... Jazakallahu khoiron katsiron”.

(Diambil dari bagian cerita pada Novel "Meraih Tiket Surga" karya Abdurrachman al Hakim)
Baca Juga

Komentar