Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Catatan Perjalanan Meraih Penghargaan



Bermula dari keasyikan saya berselancar di internet, saat mengisi waktu istirahat mengajar di sekolah, di SMPN 1 Kalimanggis Kabupaten Kuningan.  Mata saya tertuju pada salah satu situs yang memuat sejumlah lomba menulis cerpen dan lomba karya tulis yang diadakan oleh beberapa lembaga, baik lembaga pemerintahan maupun swasta.

Tentu saja, pikiran saya kembali terketuk akan kesukaan menulis yang pernah saya alami sejak kecil, khususnya saat di SMPN Cillimus, kemudian di SMAN 2 Kuningan, hingga kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Bandung.
Sayembara Karya Tulis Perpusnas RI
Maka, saya pun mencoba untuk mengikuti beberapa lomba tersebut, antara lain Sayembara Karya Tulis yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI yang dibuka sejak Oktober dan ditutup pada tanggal 27 Nopember 2010.  Panitia Sayembara menetapkan tema “Menuju Perpustakaan Nasional Ideal” dengan batasan tulisan maksimal 5.000 kata. Saya mengirim tulisan berjudul “Fungsi Ideal Perpustakaan Nasional, Menuju Indonesia Gemar Membaca”. Dalam pikiran saya, saat itu, semoga saja masuk sebagai salah seorang juara harapan. Juara I, II dan III, hampir tak terbayang sama sekali, mengingat saya harus berlomba pada kategori Dosen dan Umum, selain kategori khusus untuk Mahasiswa.
Sabtu siang, sehabis dhuhur, tanggal 4 Desember 2010, saya menerima SMS dari Panitia Sayembara yang meminta saya untuk menghubungi salah seorang panitia, terkait masalah akomodasi, untuk keesokan harinya. Saya masih belum yakin, bahwa saya adalah salah seorang nominasi juara, hingga panitia yang saya hubungi itu meyakinkan saya untuk datang ke Jakarta esok harinya, saat acara pengumuman Sayembara. Kepada saya, panitia hanya mengatakan bahwa saya merupakan salah seorang nominator pemenang Sayembara, sama sekali tidak disebutkan sebagai juara ke berapa.
Maka, Minggu pagi, saya pun berangkat ke Jakarta dengan menaiki bus AC “Sahabat”, Jurusan Kuningan-Jakarta. Tentu saja, saya tidak sendirian, tetapi dengan mengajak ketiga anak saya yang masih kecil, 1,5 tahun, 7 tahun dan 9 tahun, ditemani oleh suami.  Panitia menjanjikan akan memberikan akomodasi penginapan hotel untuk saya dan keluarga. Biaya transportasi pun dijanjikan akan mendapat penggantian setelah sampai di Jakarta. Inilah, yang membuat saya, akhirnya memaksakan diri untuk datang ke Jakarta, meski dengan menggendong Balita.
Tempat yang dituju adalah Gedung Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya Jakarta Pusat. Setelah kami sempat beristirahat beristirahat di salah satu kamar hotel Formula 1 yang telah disediakan oleh panitia, maka pada pukul 15.00 WIB, saya mulai mengikuti acara pengumuman pemenang Sayembara. Salah seorang perwakilan Juri, yakni Bapak Asrori, beliau seorang jurnalis, menjelaskan kriteria dan proses penjurian yang meliputi antara lain pada orisinilitas dan keutuhan gagasan, serta sistematika dan cara penulisan. Juri lainnya, yakni Bapak Sinansari Encip, juga jurnalis, serta perwakilan dari Perpusnas sendiri, Bapak Imam Nurhadi, beliau adalah Kepala Biro Umum Perpusnas RI.
Tak disangka, ternyata oleh panitia, saya ditetapkan sebagai Pemenang 1 (pertama)  dari 326 peserta yang mengikuti Sayembara yang berasal dari berbagai daerah se- Indonesia, bahkan ada peserta WNI yang tinggal dari Singapura dan Malaysia. Hampir tak percaya, bahwa seorang guru SMPN di suatu daerah di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ternyata dapat tampil sebagai pemenang 1. Piala pun saya angkat dengan penuh haru, namun jelas penuh dengan kebanggaan, bukan hanya sebagai pribadi, tapi juga sebagai guru yang membawa nama Kabupaten Kuningan.  
Meski acara penyerahan penghargaan tidak jadi dilaksanakan sesuai dengan rencana, yakni dilakukan oleh Mendiknas, Bapak Moh. Noeh, namun bagi saya acara pengumuman dan penyerahan penghargaan tersebut tetap begitu sangat berkesan dan menggembirakan. Maka, saya semakin terpacu untuk mengikuti lomba karya tulis yang lainnya. Tentu saja, dengan tetap memanfaatkan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Prof. Edi S. Ekajati, sebagai salah satu tempat bagi saya untuk memperoleh pinjaman buku untuk kepentingan studi literatur atau bahan pustaka.
Lomba Karya Tulis DISPENAL
Tanggal 10 Desember 2010, adalah batas akhir pengiriman naskah Lomba Karya Tulis dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera yang diselenggarakan oleh Dinas Penerangan Angkatan Laut (DISPENAL) MABES TNI AL, yang bertemakan “Dengan Semangat Pertempuran Laut Aru, Kita Tingkatkan Pemberdayaan Potensi Pulau Terluar dan Wilayah Perbatasan”. Salah satu ketentuan Lomba adalah karya tulis minimal 20 (dua puluh halaman) diketik dengan 1,5 spasi, dijilid dengan sampul warna kuning untuk kategori umum. Hari Jum’at itu, saya kirim naskah berjudul “Aktualisasi Semangat Pertempuran Laut Aru Dalam Mempertahankan Kedaulatan Wilayah NKRI : Pemberdayaan Potensi Pulau Terluar dan Wilayah Perbatasan RI”.
Tepat saat saya dan anak-anak berada di RSUD 45 Kuningan, telepon dari Jakarta masuk ke HP saya. Ternyata, berasal dari seseorang yang mengaku Letnan Sapto, dari Dispenal MABESAL. Beliau memberitahukan bahwa saya terpilih sebagai juara III untuk kategori umum dari 86 jumlah peserta, dan dimohon hadir pada acara penyerahan penghargaan yang bersamaan dengan acara peringatan hari Dharma Samudera TNI AL, bertempat di Surabaya, tanggal 15 Januari 2011. Terpilih sebagai salah seorang juara dalam Lomba sudah jelas merupakan sebuah kejutan. Namun, kali ini yang membuat lebih terkejut adalah tempatnya, yang jauh dari yang saya perkirakan. Apalagi, ternyata, Pak Letnan Sapto tidak memperbolehkan saya untuk diwakilkan dalam menerima penghargaan, yang katanya akan diserahkan langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno di atas kapal perang, KRI Surabaya.
Kembali, saya bersama ketiga anak dan suami berangkat ke Surabaya dengan menggunakan bis Malam “Coyo” jurusan Cirebon – Surabaya – Malang, yang ditempuh dalam waktu 12 jam perjalanan. Sesampainya di Surabaya, kami langsung disediakan penginapan di Wisma Welirang, sebuah penginapan yang biasa diperuntukkan bagi para perwira menengah TNI AL.  Sebuah kejutan saya peroleh saat di sore hari, bahwa kami diminta menginap di kapal perang KRI Surabaya. Sama sekali tak terbayangkan, mungkin sekali, tidur di kapal perang adalah pengalaman kami dalam seumur hidup.
Dengan dijemput oleh kendaraan dinas TNI AL, kami dijemput bersama rekan pemenang lainnya, yakni Juara 1 Bapak Prakoso, peneliti LIPI, Juara II saudara Zainal Fatah, mahasiswa ITS Surabaya, Bapak Wahyu, wartawan Kompas yang khusus meliput di istana negara, beliau juara 1 kategori wartawan, serta ketiga orang perwira TNI AL, yang menjadi Juara I, II dan III kategori TNI. Ternyata, lokasi kapal itu berada di kawasan komples Komando Armada Timur (Koarmatim), yang di sana sini tampak banyak terlihat kapal-kapal perang TNI  AL, serta berdiri sebuah patung raksasa, Jalasveva Jayamahe, yang tinggi dan besar. Kami pun memasuki KRI Surabaya itu, dan saya beserta keluarga menginap di salah satu kamar VIP, sebuah kamar dengan fasilitas hotel berbintang.
Keesokan paginya, saya mengikuti acara seremonial peringatan Hari Dharma Samudera, suatu hari saat Komodor Yos Soedarso gugur dalam pertempuran di Laut Aru 15 Januari 1962, untuk mengenang jasa para pahlawan TNI AL yang gugur dalam tugas mempertahankan kedaulatan negara. Tampak jelas, sebuah pemandangan yang berlatar belakang Jembatan Suramadu, yang menghubungkan kota Surabaya dan pulau Madura.  Dengan dipimpin langsung oleh KASAL Laksamana TNI Soeparno, acara peringatan yang dihadiri antara lain oleh sejumlah prajurit TNI AL, para perwira, veteran, para pejabat daerah, seperti Walikota dan Gubernur, pun berlangsung, yang diawali dengan mulai berlayarnya kapal menuju ke tengah Laut Jawa, menyusuri Selat Madura. Puncak acara adalah penaburan bunga ke laut Jawa oleh KASAL, para pejabat TNI AL, pejabat daerah dan para ibu Jalasenatri, istri-istri prajurit TNI AL. 
Usai acara seremonial, khusus untuk para perwira dan tamu undangan kehormatan memasuki sebuah ruangan VIP “Meeting Room” yang masih berada di atas kapal KRI Surabaya. Setelah melalui acara sambutan, akhirnya para pemenang lomba karya tulis dipersilakan tampil di depan untuk menerima penghargaan langsung dari KASAL. Jelas, saya sangat bangga menerima penghargaan tersebut. Begitu pun rekan lain yang menerima penghargaan yang sama. Satu-persatu KASAL menyalami kepada kami, para pemenang, sembari menanyakan identitas dan asal daerah.
“Ibu dari mana ?” tanya KASAL saat menyalami saya.
“Saya dari SMPN 1 Kalimanggis, Kuningan Pak” jawabku.
“Oh.. jauh sekali, dari Kalimantan ...?” tanya KASAL lagi, yang ternyata salah tangkap.
“Bukan Kalimantan, Pak. Tapi, Kalimanggis Kuningan.” jelas saya sambil agak tersenyum.
“Maksudnya, Kuningan Jakarta ?” tanya KASAL lagi, yang ternyata masih salah paham.
“Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Pak” jelas saya lagi.
“Oh, iya.... Selamat ya Ibu, cukup jauh dari Kuningan Jawa Barat” kata KASAL dengan tersenyum, dan baru mengerti asal daerah saya.
Meski KASAL sempat salah paham mengenai daerah Kalimanggis dan Kuningan, saya tetap banggsa sebagai salah seorang warga Kabupaten Kuningan dapat hadir sebagai salah satu Juara yang memperoleh penghargaan langsung dari pemimpin tertinggi di TNI Angkatan Laut tersebut. Sengaja, saat itu saya menggunakan pakaian seragam PNS warna coklat yang di sebelah bahu kirinya terdapat lambang kuda, lambang daerah Kabupaten Kuningan. Seakan, secara sengaja saya ingin memperlihatkan, bahwa inilah salah satu juara, seorang guru yang berasal dari daerah Kuningan, Jawa Barat, karena saya memang sangat bangga sebagai warga Kuningan.
Ternyata, sangat tepat dan berhasil. Lambang kuda itu terlihat jelas dan sempat menarik perhatian sejumlah perwira TNI AL, saat saya usai menerima penghargaan, dan hendak duduk kembali di salah satu kursi undangan untuk menikmati hidangan makan siang. Sedikitnya, ada lima perwira TNI AL, termasuk satu oramg perwira KOWAL, yang ternyata berasal dari Cirebon. Mereka, secara khusus dan sengaja mendekati saya untuk mengucapkan selamat, sekaligus memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari Kuningan atau Cirebon. Bahkan, satu diantara mereka itu adalah seorang perwira tinggi berpangkat bintang satu, alias Brigadir Jenderal (Brigjen) bernama Bapak Halim A. Hermanto, yang memperkenalkan dirinya secara akrab dan dalam suasana kekeluargaan. Beliau lahir di Kuningan, pernah sekolah di SMAN (kini SMAN 1) Kuningan, keluarga besarnya (termasuk orang tua) di Luragung. Beliau adalah Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Dan Lantamal) V Surabaya.
“Sampaikan salam buat Kepala Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan dan Bupati Kuningan” kata beliau sambil berdiri mengobrol dengan saya, yang dikelilingi oleh sejumlah anak buahnya.
“Insya Allah Pak” jawab saya.
“Sampaikan ke orang Kuningan, di Angkatan Laut ini, ada lima perwira yang berasal dari Kuningan. Saya adalah salah satunya” kata Pak Jenderal lagi, yang kemudian diselingi dengan ucapan kata-kata yang bercampur dengan bahasa Sunda, yang masih lumayan fasih.
“Urang Kuningan kudu maju !” pesan Pak Jenderal Halim kepada saya, yang kemudian beliau meminta salah seorang anak buahnya untuk memotret beliau bersama saya.
“Nanti, fotonya segera dicetak dan diberikan kepada ibu guru ini, ya !” perintah Pak Jenderal kepada anak buah.
“Siap, Komandan !” jawab anak buah itu dengan sigap dan bersikap hormat.
“Nanti, ibu menghubungi kami di Lantamal” lanjut anak buah itu kepada saya.
“Bukan begitu !” kata Pak Jenderal, dengan suara meninggi bermaksud mengoreksi kesalahan anak buahnya.
“Siap Komandan !” jawab anak buah lagi.
“Mana tahu, ibu guru ini LANTAMAL” jelas Pak Jenderal lagi.
“Siap Komandan !”
“Kamu cetak fotonya, dan siapkan file-nya dalam bentuk CD. Kemudian antarkan ke penginapan ibu guru ini, di Wisma Welirang” perintah Pak Jenderal.
“Siap Komandan !”
“Kapan pulangnya Bu ?” tanya Pak Jenderal kepada saya.
“Insya Alah, setelah maghrib nanti, Pak” jawab saya.
“Kalau begitu, kamu antarkan cetak foto dan CD –nya, paling lambat nanti sore !” perintah Pak Jenderal lagi.
“Siap Komandan !” balas anak buahnya lagi, yang kemudian meminta nomor Hape saya untuk nanti dihubungi.
“Luar biasa !” ucap saya dalam hati, karena memperoleh penghargaan dan bantuan yang sangat tidak disangka oleh seorang perwira tinggi, komandan Pangkalan Utama AL, Surabaya, yang merasa berasal dari satu kampung dengan saya.
Pak Jenderal pun segera pamit terlebih dahulu, untuk menemui atasannya kembali, KASAL di suatu tempat meja makan. Saya cuma bisa mengucapkan terima kasih kepada Pak Jenderal Halim itu.
“Hatur nuhun, Pak Halim” ucap saya.
“Sami-sami, Bu. Ulah hilap. Nitip salam buat urang Kuningan” balasnya dengan sangat sopan.
Tepat menjelang jam sebelasan siang, tak berapa lama, kami pun, para pemenang lomba, turun dari kapal dan hendak meninggalkan komplek KOARMATIM. Ada satu lagi keberuntungan bagi saya saat itu. Salah seorang rekan kami, yakni Pak Wahyu, wartawan Kompas, memohon ijin untuk menaiki terlebih dahulu KRI Dewa Ruci, yang kebetulan sedang bersandar di sekitar areal itu. Permohonan ijin pun dikabulkan, yang kemudian tidak disia-siakan oleh kami, termasuk saya untuk menaiki kapal layar yang sudah melanglangbuana ke berbagai mancanegara itu. Kami sempat melihat-lihat, berfoto-foto dan bertanya-tanya kepada salah seorang petugas atau awak di kapal layar tinggi yang menjadi salah satu kebanggaan para kadet TNI AL. Seperempat jam kemudian, kami pun kembali menaiki kendaraan Dinas TNI AL untuk menuju ke Wisma Welirang, beristirahat sebentar sebelum malamnya pulang ke daerah asal masing-masing.  
Ternyata benar, sekitar jam dua sore, utusan Pak Jenderal datang ke penginapan dengan membawa cetak foto, CD dan kalender LANTAMAL V Surabaya. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada utusan itu, dan tentu saja ucapan terima kasih pula kepada Pak Jenderal, melalui SMS. Sebuah bantuan dan keramahtamahan yang begitu sangat berarti dari dulur salembur, di lembur batur. Sebuah ingatan yang terus membekas, hingga empat jam kemudian saya kembali pulang ke Kuningan.
Bagi saya, hal ini lebih dari sekedar saya memperoleh penghargaan dari sebuah perlombaan. Saya memperoleh banyak hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Termasuk, perbincangan dengan rekan pemenang lain, terutama dengan Pak Prakoso, peneliti dari LIPI dan Pak Wahyu, wartawan Kompas. Dari beliau-beliau ini, saya memperoleh banyak masukan dan sekaligus semangat mengenai bagaimana seharusnya kita mendidik generasi muda agar cerdas dan unggul.
“Kembangkan terus kebiasaan membaca dan menulis di kalangan pelajar di Kuningan, Bu” kata Pak Prakoso atau biasa disapa akrab Pak Koko.
“Insya Allah, saya siap membantu untuk memberi motivasi, jika diminta untuk hadir di hadapan para pelajar di sana” lanjutnya.
“Maksudnya, Pak Prakoso siap datang ke Kuningan, jika diundang ?” tanya saya agak heran.
“Insya Allah, Bu. Jangan kan di Kuningan, di Papua pun saya pernah hadir saat  diundang untuk menghadiri sebuah acara Workshop dengan para pelajar di sana” jawabnya meyakinkan.
“Hal itu, telah menjadi komitmen saya dan beberapa rekan saya yang lain di LIPI, khususnya bagi para peneliti muda seperti saya” imbuhnya lagi.
“Insya Allah, Pak. Nanti akan saya tindak lanjuti setelah saya sampai di Kuningan” balas saya dengan optimis, meski secara jujur saya belum dapat gambaran sedikitpun kira-kira bagaimana tindak lanjut dari kata-kata peneliti LIPI muda itu.
Kami pun pulang kembali dengan menggunakan bis malam yang sama, “Coyo” bersama keluarga. Saat itu, belum terasa capek atau lelah. Justru, setelah Minggu pagi sampai kembali di rumah, barulah capek dan lelah itu dirasa. Untungnya, saya masih terngiang selalu pengalaman di Surabaya itu, termasuk kata-kata dari wartawan Kompas.
“Lanjutkan terus, tugas mulia Ibu dalam mencerdaskan anak bangsa di negeri ini. Kami tunggu selalu karya-karya ibu yang memberikan inspirasi bagi perbaikan dan kemajuan bangsa” pesannya saat beliau berpamitan hendak pulang ke Jakarta, melalui Bandara Juanda, Surabaya.
“Insya Allah, Pak Wahyu. Terima kasih” balas saya.
“Mungkinkah ?” tanya saya selanjutnya, hanya dalam hati.*****
(Oleh Sri Endang Susetiawati)








Baca Juga

Komentar

  1. Apa kabar bu??? masih aktif menulis??? sudah lama tidak berjumpa,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kbar sy baik. Apa kbr mas Koko? Bgm kegiatan di LIPI? Sy msh aktif menulis, cm lama ga ikutan lomba2 karya tulis lg.

      Trims, brkenan hadir.

      Hapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).