Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Mengajar Itu, Seni Berkomunikasi (5-Habis)

Oleh Srie

Mengajar adalah salah satu bentuk berkomunikasi. Untuk dapat melakukan pengajaran yang baik, tentu saja harus melakukan komunikasi yang baik pula. Langkah awal berkomunikasi bagi guru dalam memulai mengajar adalah berusaha memahami persepsi seluruh siswa dalam sebuah kelas. Dalam dunia pendidikan, tahapan ini biasa disebut sebagai tahap apersepsi.
Yakni suatu tahap yang dimaksudkan sebagai pengkondisian kolektif atas persepsi apa saja yang sebaiknya ada dan terbentuk sehingga siswa dianggap telah siap untuk menerima materi pelajaran baru.

Pengkondisian persepsi kolektif siswa amat penting dilakukan karena persepsi yang terjadi dalam alam pikiran dan rasa para siswa tidak saja terhadap guru dan materi pelajaran yang akan diajarkan. Aka tetapi, meliputi juga persepsi atas apa-apa yang sebelumnya dialami oleh para siswa, apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh masing-masing siswa hingga sesaat pelajaran baru akan dimulai. Pengkondisian persepsi kolektif merupakan langkah awal untuk keberhasilan guru dalam penguasaan dinamika kelas.

Pada jenjang pendidikan setingkat SMP, misalnya, persepsi kolektif amat dipengaruhi oleh persepsi yang bersifat personal, yaitu persepsi siswa terhadap guru itu sendiri. Persepsi siswa atas suatu mata pelajaran masih amat tergantung atas persepsinya terhadap guru yang mengajarkannya. Persepsi siswa yang bersifat positif atau negatif atas suatu mata pelajaran tertentu pada dasarnya mencerminkan persepsi siswa terhadap gurunya itu sendiri. Faktor lain yang mempengaruhi persepsi kolektif sesaat sebelum pelajaran dimulai adalah rangkaian informasi dan peristiwa yang dialami siswa sejak berangkat dari rumah hingga menjelang dimulainya pelajaran baru.

Persepsi positif siswa terhadap guru akan muncul manakala setiap melakukan proses pengajaran, guru selalu mengembangkan sikap dan kepribadian yang positif pula. Begitu pula akan berlaku sebaliknya. Kebiasaan untuk memulai mengajar dengan menyapa beberapa nama siswa, kemudian menanyakan beberapa hal yang ringan, seperti menanyakan kabar, apa yang dilakukan semalam, atau menanyakan mengenai kesukaan, sikap dan perasaannya sekarang adalah bagian dari kebiasaan positif yang akan mampu membantu pembentukan persepsi kolektif dari siswa terhadap guru. Dilengkapi dengan sikap yang bersahabat, murah senyum dan terbuka, mungkin dalam jangka waktu yang panjang, persepsi itu akan membentuk citra positif siswa terhadap gurunya.

Kebiasaan guru untuk mencoba memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh siswanya sesaat sebelum pelajaran dimulai merupakan langkah awal dari keberhasilan guru dalam membentuk persepsi kolektif yang positif. Guru sebaiknya memahami apa yang ada dalam pikiran dan perasaan siswa, yang biasanya masih terkait, misalnya dengan pelajaran yang diikuti sebelumnya, dengan kejadian di sekitar yang diketahuinya, atau dengan informasi yang diterimanya.

Pelajaran yang baru saja diikuti, peristiwa terkini yang kiranya menjadi pengetahuan publik, khususnya yang diketahui oleh kebanyakan siswa, acara televisi atau berita yang dianggap menarik bagi siswa, konser musik atau even olahraga di daerah setempat, mungkin dapat dijadikan sebagai bahan sapaan yang efektif untuk memulai pembentukan persepsi kolektif yang positif. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berekspresi dengan mudah, memuji siswa dan memunculkan kebanggaan pada diri siswa adalah kunci sukses dari sebuah sapaan yang baik dan efektif.

Jika diperlukan dan memungkinkan, ajak dan arahkan siswa untuk berdiri bersama-sama, bertepuk tangan bersama, menyanyi bersama-sama, hingga tertawa bersama-sama pula. Buatlah kondisi psikologis siswa menjadi rileks dan senang, tapi masih tetap dalam koridor kewajaran sebagai seorang pelajar yang siap mengikuti pelajaran.

Entertainer
Setelah persepsi kolektif yang positif telah terbentuk, biasanya memakan waktu kurang dari 15 menit, guru melangkah pada pokok pengajaran. Praktekkanlah suatu pengajaran yang efektif dan menarik. Suatu pengajaran yang mencerminkan dari suatu bentuk komunikasi yang memiliki seni, pengajaran yang tepat sasaran sesuai dengan target kurikulum, sekaligus juga bermanfaat, menyenangkan dan menghibur siswa. Saat ini, sepertinya sudah saatnya agar guru perlu mengembangkan fungsinya, yakni selain sebagai pendidik, juga sebagai entertainer, penghibur yang tetap bersifat mendidik bagi siswanya.

Untuk mendukung seni berkomunikasi, biasakanlah guru untuk tidak terpaku selalu berada di depan kelas, apalagi cuma mengambil posisi duduk di kursi guru dengan sesekali berdiri di depan papan tulis. Guru harus membiasakan diri untuk tidak segan-segan berdiri di tengah-tengah siswa, menyebut nama, menanyakan atau meminta komentar secara langsung di hadapan siswa yang bersangkutan.

Begitu seharusnya posisi guru di dalam kelas, agak menyerupai seperti seorang entertainer yang bertugas menghibur para tamu, undangan atau penggemarnya sendiri. Dengan cara berkomunikasi yang tanpa jarak, menghargai secara personal, dan tetap mengkombinasikan bentuk pengajaran yang bersifat efektif dan menarik, secara praktis guru sudah menguasai dinamika kelas selama proses belajar mengajar berlangsung. *** [Srie]

( HABIS).
Baca Juga

Komentar

  1. I do agree..teaching is an art..but remember if we teach, people will never learm.. In this case, the art of teaching will take part..the art of dealing with people..

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).