Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Mengajar Itu, Seni Berkomunikasi (2)


Oleh Srie

Mengajar adalah salah satu bentuk komunikasi. Dengan demikian, masalah kesulitan mengajar, pada hakikatnya adalah berkaitan dengan masalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan para muridnya. Untuk dapat mengajar sejarah dengan baik, maka diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik pula. 


Jika pengajaran sejarah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan menarik, maka jelas diperlukan lebih dari sekedar guru mampu berkomunikasi dalam pengertian yang standar atau minimal. Tapi, lebih jauh lagi diperlukan apa yang selanjutnya disebut dengan seni berkomunikasi.

Dalam suatu proses komunikasi yang bersifat standar atau minimal, keberhasilan lebih dilihat dari sejauh mana materi atau pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator telah diterima dengan baik oleh para audien. Sementara itu, dalam seni berkomunikasi, di samping masalahmateri atau pesan yang ingin disampaikan, juga mencakup efek atau pengaruh yang berkenaan dengan rasa atau perasaan, yakni menghibur dan menyenangkan bagi audien dan sang komunikator itu sendiri. Efek rasa yang bersifat menghibur dan menyenangkan itu adalah seni, dalam hal ini seni berkomunikasi.

Kesulitan dalam mengajar secara efektif dan menarik, amat mungkin disebabkan oleh kekurangmampuan guru dalam seni berkomunikasi dengan para siswanya. Pengajaran sejarah yang standar dan minimal, lebih mengandalkan pada tersampaikannya pesan atau materi pelajaran berdasarkan kurikulum yang telah dibakukan. Untuk satu atau dua kali proses pengajaran semacam ini, mungkin masih dapat diterima dengan cukup baik.

Akan tetapi, apabila model pengajaran ini dilakukan secara terus-menerus dan berulang, maka kejenuhan pun akan segera muncul. Jika rasa jenuh telah muncul, maka sejumlah respon negatif dari murid akan dengan sendirinya mengikuti. Mulai dari sikap pasif, dan apatisme siswa di kelas selama proses pengajaran berlangsung, hingga sikap-sikap tak acuh dan “pembangkangan terselubung” yang mungkin mulai mengusik kesabaran guru selama dalam mengajar.

Masalah ini terus berlanjut, ketika sikap-sikap negatif dari siswa tersebut ditanggapi oleh guru dengan sikap yang negatif pula. Guru bukannya fokus pada upaya bagaimana memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam mengajar, tetapi justru yang terjadi malah mengembangkan upaya-upaya pembelaan diri dalam arti yang sempit. 

Mulai dari upaya untuk menunjukkan wibawa dan disiplin secara artifisial, sikap kurang bersahabat, suka memarahi, mengancam, hingga menghukum berlebihan secara fisik, yang sebenarnya tidak ada relevansinya sama sekali sebagai sebuah solusi. Bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru sebaliknya, makin menambah masalah selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas. ***[Srie]

(Bersambung ...)
Baca Juga

Komentar