Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

5 Tip Berteman, Agar Kamu Disukai



Tip ini hanya berlaku buat kamu yang masih suka berteman, lho... “Ha..ha.. !” Pasti, kamu akan langsung bertanya. “Memangnya ada orang yang tidak suka berteman, gitu ?”.  Sst... jangan bilang-bilang ya, katanya sih, ada begitu. He..he..
Pernahkah kamu mendengar seseorang yang berkata, “Aku sih, cuek aja..!”. Coba kamu tanya ke dia, “Memangnya kenapa ?”. Kira-kira apa jawabnya ? “Buatku, EGP, emang gue pikirin ?” jawabnya, terkesan sekenanya saja. Kamu boleh memberikan tanggapan kepadanya, seperti “Oh, iya ?”. Biasanya, mungkin dia akan langsung menjawab, “ Ya iyalah... Aku tak mau peduli, orang mau suka sama aku atukah tidak. Gak ngaruh tuh...”.
Jangan langsung tersinggung, ya... Lebih baik, kamu sampaikan saja, kalimat seperti ini, “Luar biasa ! Aku salut sama sikap kamu itu. Makanya, sebagai teman, aku suka sama kamu”. “Oh, iya...?” ucap teman kamu yang masih berlagak cuek itu. Jangan kasih kesempatan telinganya hilang dari kata-kata pujianmu. Segera lanjutkan saja, dengan kamu mengucapkan, “sebenarnya, banyak lho teman-teman lain yang suka kamu..”. Ucapkan kalimat itu dengan meyakinkan, meskipun kamu tahu, mana ada teman yang suka sama sikap dia yang seperti itu. Bukankah begitu, teman ?
Perhatikan baik-baik, kira-kira bagaimana reaksi dia saat mendengar rentetan kalimat pujian itu ! Jika kamu mengucapkan pujian itu dengan tulus, pasti dia yang mendengarnya akan suka. Perhatikanlah, bagaimana reaksi mimik wajahnya. Pandangilah, bagaimana tatapan matanya, gerak-gerik tubuhnya, posisi tangannya, dan seterusnya. Kini, adakah sesuatu yang telah berubah pada sosok teman yang katanya suka cuek dan gak mau ambil peduli itu ?
Pastinya, jelas ada perubahan ! Mengapa ? Tanyakan pada seorang psikolog atau ahli jiwa mengenai hal ini. Mungkin, jawabnya adalah, “setiap orang yang normal, pasti membutuhkan teman. Kecuali, bila dia memiliki suatu kelainan dalam jiwanya”. Nah, lho... bagaimana ? Kalau belum cukup, coba tanyakan hal yang sama pada Pak Ustadz. Kira-kira, apa jawaban Pak Ustadz ? Katanya dengan enteng, “Allah saja yang menciptakan kita, suka dipuji oleh hamba-hambaNya, melalui ucapan asmaul husna, betul enggak ?. ”Lha, kalau kita tidak suka dipuji oleh orang lain, lalu kita ini ciptaan siapa ?” lanjut Pak Ustadz sembari tertawa kecil, namun penuh arti.
Sekarang, kamu sudah paham, bukan ? Berteman merupakan sesuatu yang normal dalam pergaulan hidup manusia, tak terkecuali bagi kamu yang masih berstatus sebagai pelajar di sekolah. Masalahnya, tidak semua orang dapat menjadi teman yang disukai oleh orang lain. Apakah kamu termasuk orang yang ingin menjadi teman yang disukai oleh rekan-rekanmu di sekolah ? Jika iya, berikut ini adalah beberapa tip singkat agar kamu disukai oleh temanmu.
Pertama, terimalah teman kamu itu apa adanya. Maksudnya apa ? Agar kamu disukai teman, maka kamu perlu tahu mengenai teman kamu itu, antara lain seperti kesukaannya, atau kebiasaannya. Lalu, jangan pernah kamu berharap secara berlebihan, agar teman kamu menjadi seperti apa yang kamu inginkan, menurut persepsi, pendapat atau selera yang kamu punyai sendiri. Jangan pernah kamu mendikte keinginan kamu kepada teman. Apalagi, tidak dibenarkan bila kamu suka memaksakan kehendakmu agar temanmu mengikuti apa yang kamu mau. Ada baiknya, kamu ingat-ingat kalimat berikut ini :
“Masalah berteman, sesungguhnya bukan berasal dari keadaan seorang teman. Namun, seringkali berawal dari “pemaksaan” kehendak, kemauan, selera atau citra diri seseorang terhadap orang lain”.
Agar kamu disukai oleh temanmu, maka kamu harus menempatkan dan memperlakukan temanmu seperti apa adanya, seperti apa yang ia sukai dan ia maui. Bukankah, kamu juga tidak suka bila teman kamu suka “cerewet” agar kamu mengikuti kemauannya ? Bagaimana kalau teman kamu, suka memaksakan kemauan, kebiasaan atau seleranya sendiri terhadap kamu ? Pasti, kamu pun akan tidak suka, bukan ?.
“Jadikanlah teman kamu menjadi dirinya sendiri, bukan sebagai bayang-bayang fotokopian dari harapan dan kemauan kamu. Perlakukan teman kamu sebagaimana adanya, seperti halnya kamu ingin diperlakukan oleh teman kamu sendiri”
Kedua, buatlah teman kamu merasa nyaman berteman, dengan cara menghargai teman kamu dan memberi rasa hormat kepadanya. Sama persis, sebagaimana halnya kamu pun mau dihargai dan sangat suka bila dihormati oleh teman-teman kamu. Penghargaan dan penghormatan merupakan faktor penting yang membuat seseorang merasa nyaman dan menjadi suka pada temannya.
Sapalah teman kamu, dengan sapaan yang disukai olehnya, dan membuat rasa bangga bila kamu menyebutnya. Berarti, jangan sekali-kali kamu menyapa atau memanggil teman kamu dengan sapaan atau sebutan yang membuat ia tidak suka atau menyinggung perasaan dan harga dirinya. Perkenalkan teman kamu dengan kata-kata yang disukai dan membanggakan kepada teman-teman kamu yang lain, yang dianggap belum mereka kenal atau diketahui.
Beri pujian, penghargaan atau ucapan selamat, bila teman kamu memperoleh atau memiliki sesuatu yang sangat ia sukai atau membanggakan. Sesekali ingatkan dia atas sesuatu yang kecil, namun cukup menyenangkan buat seorang teman, antara lain seperti hari ulang tahun, lagu favorit, hobi, kenangan yang menyenangkan dan seterusnya. Bukankah, kamu juga suka diperlakukan dengan cara yang demikian ?
“Hargai dan hormati teman kamu, karena sesungguhnya hal itu berarti menghargai dan menghormati diri kamu sendiri”.
Mungkin, kamu ada yang bertanya : “Bagaimana, jika teman itu kurang layak untuk dihargai atau dihormati ?”. Ini jawabannya : Tidak ada ruginya, bila kamu tetap menghargai dan menghormatinya. Bagaimana, bila kamu telah dibuat kesal atau tidak nyaman oleh olehnya ? Setidaknya, kamu tidak perlu untuk memperlakukan teman kamu itu dengan cara menghina atau merusak kehormatan dan harga dirinya. Jalan terbaik, adalah kamu menghindar saja untuk sementara waktu.
“Tidak ada kerugian sedikitpun, bila kamu menghargai dan menghormati seseorang. Kecuali, bila kamu tidak memiliki harga diri dan kehormatan. Karena, hanya orang yang sungguh memiliki harga diri dan terhormatlah, yang dapat menghargai dan menghormati orang lain !”
Ketiga, jadilah pendengar yang baik, bila teman kamu sedang berbicara. Berusahalah untuk memperhatikan dan menyimak apa yang ia katakan. Jika waktunya dianggap telah tepat, berikan komentar yang positif atas apa yang ia ungkap atau ceritakan. Tanyakan beberapa hal yang dianggap akan membuat teman kamu akan merasa lebih bersemangat dan senang dalam menjelaskan apa yang kamu tanyakan.
“Terkadang, kita perlu bertanya pada seorang teman, bukan karena kita belum tahu atau kita tidak dapat untuk menjawabnya. Akan tetapi, lebih karena kita bermaksud untuk memberi kesempatan agar teman dapat mengungkapkan apa yang ingin ia katakan, yang membuatnya ia suka dan merasa bangga setelah ia berbicara”.  
Sebaliknya, hindari sejauh mungkin kamu memotong pembicaraan teman, mendebatnya atau bahkan mencemoohkan apa yang teman katakan. Karena, hal itu akan menciptakan gambaran yang kuat mengenai siapa diri kamu dibenak ingatan atau pikiran teman kamu tersebut.  Apakah kamu termasuk teman yang menyenangkan dan disukai, atau teman yang biasa menjengkelkan dan tidak disukai.
“Jangan pernah rampas kebanggaan seseorang saat sedang berbicara, apalagi di depan banyak orang, meskipun menurut kamu apa yang dibicarakannya itu sebenarnya biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang baru, atau bahkan dianggap cukup “menggelikan” buatmu”
Keempat, agar kamu disukai, jadilah teman yang meringankan atau menjadi solusi bagi temanmu, bukan justru sebaliknya menjadi teman yang memberatkan atau membebani bagi teman kamu. Mengapa ? Karena, seseorang mau berteman, pada dasarnya adalah untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan, bukan mencari masalah atau cari perkara yang membuatnya menjadi tambah pusing, tidak menyenangkan dan tidak membahagiakan.
Apa artinya buat kamu, hayo ...? Sejauh mungkin, hindari kamu meminta bantuan dalam bentuk apapun (apalagi dalam bentuk uang, he..he..) yang membuat teman kamu merasa keberatan, terbebani atau bahkan akhirnya ia tidak mungkin untuk dapat membantu. Sejauh mungkin, jadilah diri kamu menjadi teman yang lebih banyak memberikan bantuan kepada teman. Kecuali, bila teman kamu memang benar-benar menawarkan bantuan secara ikhlas, senang hati dan penuh pengertian kepada kamu. Itu pun, tidak boleh terlalu sering kamu memperoleh bantuan dari teman kamu. Kecuali, bila kamu telah mengganti bantuan itu dengan bantuan yang setimpal dari kamu kepada teman kamu.
“Bantuan seorang teman akan turut berpengaruh dalam membentuk persepsi seseorang kepada temannya, apakah ia suka ataukah tidak suka ?”
Kelima, jika teman kamu perlu curahan hati (curhat), dengarkanlah dengan baik-baik, penuh perhatian dan rasa simpati. Tak perlu kamu terbawa langsung untuk ikut mengomentari secara lebih mendalam atau menawarkan sesuatu yang dianggapnya sebagai solusi. Percayalah ! Lebih dari 90 % dari isi curhat, biasanya hanya sekedar untuk berbagi rasa, sekedar kamu tahu apa yang dirasakan oleh teman. Betapapun, ia meminta saran atau masukan, sesungguhnya bukanlah saran atau masukan yang sebenarnya ia perlukan. Namun, ia hanya perlu dukungan pembenaran dari kamu, mengenai apa yang ia rasakan dan apa yang ia katakan.   
“Seorang yang curhat, sebenarnya hanya ingin agar apa yang di-curhat-kan itu dapat diketahui, dirasakan dan dibenarkan oleh teman yang mendengarnya !”
Jadi, apa artinya buat kamu ? Jangan biasakan kamu curhat-curhatan pada teman kamu. Apalagi, curhat yang jelas-jelas hanya akan menambah beban pikiran atau masalah bagi teman kamu. Bagaimana bila teman kamu curhat kepada kamu ? Pernahkah kamu mengalaminya ? Ini tip-nya : dengarkan saja curhatnya, dari awal sampai akhir, hingga ia merasa plong, dikeluarkan semua yang ada di hatinya.  Berilah komentar seperlunya yang akan membuat teman kamu merasa lebih nyaman dan tenang. Sejauhmungkin, hindari kamu masuk atau terlibat ikut campur secara langsung atas masalah yang ia curhat-kan. Mengapa ? Karena, pada dasarnya, solusi itu sudah ada pada apa yang ia curhatkan sendiri.
“Tak jarang, di kemudian hari, seseorang malah bermasalah dengan temannya, justru setelah ia merasa telah ikut membantu untuk mengatasi secara lebih mendalam mengenai apa yang ia curhat-kan. Maka, tetaplah bersikap wajar dalam menanggapi curhat dari teman kamu itu”.
Selanjutnya, bagaimana ? He..he.. Cukup saja, lima tip dulu ya... Cobalah, kamu praktekkan dengan baik-baik, semoga kamu dapat menjadi seseorang yang disukai oleh teman-teman. Amiin.... ***






        
Baca Juga

Komentar