Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Jadi Sopir Bos !


 Ada keganjilan yang dirasakan oleh Zaza dari sikap yang ditunjukkan oleh sahabatnya, Lili. Rasa penasaran membuat Zaza tidak cukup berhenti sampai disitu. Ia pun segera bertindak untuk menyelidik, apa sesungguhnya yang telah terjadi ? Tangannya terlihat sedang memegang Handphone miliknya. Sebuah nomor seseorang, kini sedang ia panggil, dan ternyata diterima langsung oleh orang yang dituju.
“Ini dengan pak Hamzah, ya... ?” tanya Zaza
 “Oh iya, betul... maaf ini dengan siapa ?”
“Saya, rakyat miskin Pak. Mohon sumbangan dari Bapak...” ucap Zaza lagi
“Oh iya silakan... datang saja.. butuh berapa milyar...?” balasnya
“Ha..ha..ha..ha... Ini sedang dimana bapak pejabat BEM ?” tanya Zaza sambil tertawa
“Hamba lagi di kampus tuan putri.... ”
“Kampus yang mana ...?” tanya Zaza
“Ya, kampus  FISIP.  Ada apa gerangan ... ? Apa yang bisa hamba bantu..?”
“Sekarang, lagi sibuk enggak ... ?” tanya Zaza lagi
“Untuk yang satu ini, tidak ada kata sibuk buat hamba... he..he..he..”
“Kalau begitu, jemput dong aku di depan perpustakaan” pinta Zaza
“Perpustakaan yang mana... ?”
“Perpustakaan nasional ...” jawab Zaza
“Ha... lagi di Jakarta !”
“Ya perpustakaan kampus kita lah... mana lagi ... ? Buruan ya ditunggu !”  ucap Zaza
“Siap... laksanakan !”
“Trims, ya... Assalamu alaikum”
“Wa ‘alaikum salam”
Zaza terlihat menunggu sambil duduk di dalam mobilnya. Selang 10 menit kemudian, ia telah melihat Caca sedang mendekat ke arahnya, dari tempat parkir sepeda motor. Zaza pun turun dari mobilnya, dan berdiri di samping pintu depan mobil. Beberapa saat kemudian, Caca pun sudah sampai di hadapannya.
“Assalamu ‘alaikum ....” ucap Caca
“Wa ‘alaikum salam...” balas Zaza
“Cepet banget... sudah datang. Bukan dari FISIP ya..?” tanya  Zaza
“Ya dari FISIP lah... apa untungnya pake bohong segala” jawab Caca
“Iya, .. tapi bisa secepat itu ...?” balas Zaza
“Ini, lebih lambat 4 menit 26,75 detik dari yang seharusnya direncanakan” ujar Caca
“Ce ileh... kayak rider Moto GP saja...” balas Zaza lagi
“He..he..he.. belum tau ya... Ini kembarannya Valentino Rossi !” ujar Caca kembali, sambil diselingi tertawa
“Sudah tahu kok... kembar siam ... tapi ketuker saat operasi pemisahan” balas Zaza
“Ketuker dengan siapa ... ?” tanya Caca
“Ketuker sama orang yang sekarang ngaku kembarannya Rossi..” jawab Zaza, sambil menunjuk ke arah Caca
“Ha..ha..ha..ha.. bisa saja...” ucap Caca sambil tertawa
“Nih, aku mau perlu bantuan... boleh enggak ?” pinta Zaza
“Siap, komandan ...!” jawab Caca berlagak tegas, sambil mengangkat tangan memberi hormat.
“Bener...?” tanya Zaza lagi
“Kok nanya lagi... ya pasti bener ... Katakan segera apa perintahnya....” jawab Caca
“Pertama, ... coba lacak teman kita Laksono lagi ada dimana ..?” perintah Zaza
“Yang kedua... apa komandan ?” tanya Caca  
“Sudah, yang pertama dulu ... Laksanakan, nanti ada perintah berikutnya...” jawab Zaza
“Siap komandan... tapi ngapain sih harus ngelacak dia segala..?” ujar Caca
“Dia itu, sudah beberapa hari ini, gak pernah bisa dihubungi via telepon. SMS ku juga, gak pernah dibalas” ujar Zaza
“Siapa bilang, sulit dihubungi...?” komentar Caca
“Aku  yang bilang.... ! Zaza.... ! Zara Zativa ! Do you know ...?” balas Zaza sambil menunjuk ke arah dirinya dan berlagak  memelototkan mata
“Yes, I know...”  ucap Caca
“Lanjutkan ... !” kata Zaza
“Pagi tadi, barusan saya kontak dengan dia” jelas Caca
“Oh ya... ? Ngobrolin apaan..?” tanya Zaza
“Ya... macam-macam. Termasuk  dia minta do’a, rencana mau ke Pakistan selama satu bulan, mulai minggu depan” jawab Caca
“Ke Pakistan.... ? Ada apa di sana...?” tanya Zaza lagi penasaran
“Katanya sih, mau ada training dari organisasi dakwah di sana” jawab Caca lagi
“Oh... begitu ya...  moga aja enggak ganggu kuliahnya”
“Katanya, dia sudah bicarakan dengan Dekannya” jelas Caca
“Iya, tapi kenapa enggak pernah kasih tahu ke Aku, ... sulit dihubungi lagi...” balas Zaza
 “Ya cari saja .... orang yang mudah dihubungi dan gampang balas SMS gitu... apa susahnya ?” tanggap Caca
“Memangnya, siapa ... ?” tanya Zaza
“Ya, aku atuh neng... Kang Hamzah Ghazali, si Caca tea... he..he..he..” jawab Caca, sambil tertawa, menunjuk ke arah dirinya
“Kan sudah aku hubungi,... sekarang lagi kopi darat lagi...” balas Zaza, tetap serius
“Oh iya... yah...? Kok jadi pilon begini ...?” ujar Caca
“Baru tau ya... pilon ?” komentar Zaza
“Betul..betul..betul.. ” ucap Caca
“Sekarang coba deh telepon dia...” pinta Zaza
“Kalau sudah telepon dia... ?” tanya Caca
“Tanya, posisinya lagi ada dimana... ?” jawab Zaza
“Terus bilang mau kesana, ada hal yang penting” tambah Zaza
“Tapi,  jangan bilangin dengan Aku...” tambah Zaza lagi
“Memang ada apa sih dengan kalian.... ? Enggak mau telepon dan enggak balas SMS segala.. ?” tanya Caca lagi.
“Kalau sudah tahu... ngapain aku mau minta dibantu ....?” jawab Zaza, balik bertanya
 Sudah, sekarang telepon dia, cepetan...!” lanjut Zaza
“Siap komandan... laksanakan...!” ucap Caca
“Begitu dong... entar ta’ pecat nih... prajurit !” komentar Zaza
Caca lalu melakukan panggilan telepon ke seseorang, melalui HP miliknya. Beberapa saat kemudian, terdengar nada panggilan telepon telah masuk.
“Nih... masuk teleponnya...” ujar Caca
“Teleponku juga suka masuk... tapi enggak pernah diangkat... tahu...?” balas Zaza agak sewot
“Diangkat....” ucap Caca
Selanjutnya, Caca  melakukan hubungan telepon dengan Laksono. Ia membalas sapaannya.
“Wa ‘alaikum salam”
“Bos... nih aku mau ada perlu penting ama ente...” kata Caca
“Nanti atuh... enggak enak bilang via telepon” kata Caca lagi
“Nah gitu dong... sekarang posisi lagi dimana... ?”
“Oh...lagi di kosan ya...?”
“Terus gak kemana-mana kan...? Maksudnya tidak ada rencana keluar ?” tanya Caca lagi
“Oke.. kalau begitu... aku sekarang langsung ke sana”
“Assalamu’alaikum” ucap Caca mengakhiri pembicaraan.
Segera saja, Caca memasukkan kembali HP di sakunya. Kini, ia kembali menghadap ke arah Zaza, yang sejak tadi memperhatikannya saat menelepon.
“Tuh, teleponnya diangkat kan... ? Dia lagi di tempat kos” ujar Caca
“Apa Laksono bisa didatangi sekarang juga... ?” tanya Zaza
“Bisa... kebetulan gak ada acara keluar” jawab Caca
“Bagus” ucap Zaza
 “Terus apa rencana selanjutnya ?” tanya Caca
“Oke, ... selanjutnya, aku minta bantuan yang kedua...” jawab Zaza
“Bantu nelpon siapa lagi...?” tanya Caca
“Bukan ! Sekarang bantu jadi sopirku...” jawab Zaza
“Yes. Siap komandan ... ! Memang mau kemana...?” balas Caca, kembali dengan sikap berlagak menghormat ala militer.
“Pastinya, ke tempat kos Lakso, atuh Kang......” jelas Zaza terlihat sambil berlagak geregetan
“Baik komandan... !” balas Caca sambil langsung masuk ke mobil Zaza, duduk di depan kemudi.
Beberapa saat kemudian, Zaza pun terlihat menyusul masuk ke mobil, duduk di  jok kursi sebelah Caca.
“Kalau begini jadi nyesel aku...” komentar Caca, sambil mulai memegangi stir mobil
“Kenapa...?” tanya Zaza
“Gak kenapa-napa....” jawab Caca enteng
“Gak mau ya nganter aku, pake nyesel segala...?” balas Zaza
“Kalau iya, terus bagaimana...?” tanya Caca lagi
 “Ya sudah gak apa-apa...  Turun lagi saja!” jawab Zaza, tiba-tiba agak kesal
“Jangan langsung sewot begitu dong non...” pinta Caca
“Habisnya... pake nyesel segala... memang kenapa...?” tanya Zaza
“Maksudku... aku nyesel, kenapa enggak dari tiga setengah tahun yang lalu... aku jadi sopir pribadimu ?” jelas Caca
“Ha..ha..ha..ha..” suara tertawa Caca
“Mulai ngaco lagi nih... langsung cabut deh...!” ujar Zaza, dengan mimik wajah yang masih tampak kesal.
“Siap Boss... sopir pribadi siap mengantar kemana Bos mau...” balas caca, sambil menghidupkan mesin mobil.
Mobil pun segera saja berjalan, meluncur meninggalkan halaman perpustakaan. Caca terlihat menikmati tugas barunya sebagai sopir mobil Zaza.
“Eh... tapi bagaimana dengan motormu...?” tanya Zaza
“Biarin saja... pasti dia ngerti kok” jawab Caca santai
“Ngerti apaan...?” tanya zaza lagi
“Motorku, pasti mengerti. Sahabatnya lagi ada tugas spesial...he..he..he..” jawab Caca sambil tertawa.
“Ngaco lagi ....” komentar Zaza
Mobil itu terus berjalan, sudah melewati daerah Cileunyi. Hingga satu kilometer mendekati Bunderan Cibiru, mobil mulai tersendat oleh kemacetan lalu lintas yang cukup padat. 
“Enak juga ya... nyetir kayak gini...?” ucap Caca
“Ah... biasa saja tuh...  mobil kayak ginian...” balas Zaza
“Bukan enak karena mobilnya ...” ucap Caca lagi
“Karena apa...?” tanya Zaza
“Karena ... jadi sopir dari perempuan yang sangat cakep ! Ha..ha..ha..” jawab Caca, sambil tertawa.
Zaza tidak menanggapi komentar dari Caca itu. Ia tetap diam menunggu Caca berhenti dari tertawanya.
“Sudah puas tertawanya....?” tanya Zaza
“Belum... Ha..ha..ha..ha..” jawab Caca, dan ia kembali tertawa
“Sudah ah...!” ucap Zaza, sambil memukulkan kertas tisu yang ada di depannya, ke arah lengan Caca.
“Iya deh... Aku berhenti tertawa...” balas Caca
“Kalau ketemu, kenapa sih suka komentar ngaco begitu ...?” tanya Zaza
“Ya, habisnya... mau komentar apa lagi. Memang bener, Zaza cakep kok...” jawab Caca
“Oh... begitu ya...?” kata Zaza
“Yoi... Zaza...!” balas Caca lagi
“Eh... pa sopir... apa tidak pernah diajarin soal sopan santun ya...?” ujar Zaza
“Sudah...Bos !”
“Iya... tapi kenapa sopir berlaku tidak sopan semacam itu kepada Bos-nya ?” tanya Zaza, berlagak seperti Bos yang sedang marah
“Oh iya, ya... ? Lupa... Sorry Boss !” jawab Caca dengan enteng
Mobil terus berjalan, melaju kembali setelah berhasil melewati kemacetan di sekitar Bunderan Cibiru. Mereka pun terus mengobrol di sepanjang jalan.
“Dimana sih, tempat kos-an Lakso ?” tanya Zaza
“Masa belum tahu...?” jawab Caca
“Bener, Aku belum tahu... sekarang menuju kemana...?” tanya Zaza lagi
“Ya, menuju ke tempat kosan dia atuh... di belakang Pasar Gedebage” jawab Caca lagi
“Ooh... yang suka banjir itu ya... ?” komentar Zaza
“Biasanya sih begitu...  tapi, katanya sih sekarang sudah enggak lagi” timpal Caca
“Ooh... syukur  deh, kasian dia kalau terus kena banjir... mau ngungsi kemana lagi” tambah Zaza
“Ngungsi ke Kebon Sirih” ujar Caca
“He..he..he... Terus, aku nya ngungsi kemana...?” balas Zaza, sambil mulai tertawa
“Enggak perlu ngungsi... menetap saja selamanya di rumahku” ujar Caca
“Weleh... maksudnya jadi pembantumu begitu... sorry ya... no way...” balas Zaza lagi.
“Memangnya, ... mau dijadiin siapanya aku gitu...?” tanya Caca
“Jadi bos mu ... tahu..?” jawab Zaza berlagak tegas.
“Ha..ha..ha..ha.. !” suara mereka tertawa
“Nih, sudah sampe...” kata Caca sambil menghentikan mobil di pinggir jalan, di daerah belakang Pasar Induk Gedebage
“Dimana kos-an nya...?” tanya Zaza
“Tuh... yang catnya warna hijau...” jawab Caca sambil menunjukkan ke arah sebuah rumah kos-kosan.
“Oke... ayo kita ke sana...” balas Zaza, sambil hendak keluar dari mobilnya, yang juga diikuti oleh Caca.
“Eh... entar dulu..” ujar Zaza lagi
“Ada apa lagi...?” tanya Caca
“Sopir, tugasnya jagain mobil tahu...?” jawab Zaza
“Siap komandan... jadi mau nemuin sendirian..?” balas Caca, membatalkan niatnya keluar dari mobil.
“Betul... nanti kalau aku misscall .. entar nyusul... oke..?” ujar Zaza
“Siap Bos...! Ini sih bener-bener jadi sopir ...!” balas Caca
“Ssst... jangan banyak protes !... entar aku pecat nih... nanti aku jelaskan, oke ?” kata Zaza lagi
“Oke Bos...!” jawab Caca
Kemudian, segera saja Zaza berjalan menuju ketempat yang ditunjuk oleh Caca tadi. Sementara itu, Caca hanya bisa memandangi langkah Zaza berjalan, dengan tetap sambil menunggui mobil miliknya ......

(Seri Novel Meraih Tiket Surga (MTS) Oleh Sri Endang S)

Baca Juga

Komentar