Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

PSSI, Kami Butuh Sportifitas Bukan Kekisruhan !

Ada kebanggaan saat Timnas PSSI bermain bagus di piala AFF yang lalu. Meski, akhirnya hanya menjadi runner up, toh hampir seluruh rakyat di negeri ini memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap perjuangan mereka di lapangan hijau. Kita sepakat, mereka bak pahlawan yang berjuang untuk mengharumkan nama bangsa.
Ada keharuan, ketika Timnas PSSI berlaga. Ketika Christian Gonzalez yang begitu bangga mencium lambang Garuda di dada. Bukan hanya bagi orang dewasa, namun bagi mereka yang masih berstatus sebagai pelajar sekolah, termasuk pelajar Sekolah Dasar (SD). Saat Irfan Bachdim, dan kawan-kawan akhirnya menjadi pemenang di pertandingan terakhir, namun gagal menjadi juara AFF. Namun, toh mereka semua mau memahami, Garuda di dada tetap menjadi kebanggaannya.
Ada nilai-nilai sportifitas yang diajarkan bagi mereka. Perjuangan untuk menang harus dilakukan sekuat tenaga. Namun, semuanya harus tetap mentaati aturan dan mekanisme yang berlaku di sepak bola. Dan, ketika hasil akhir telah diketahui, termasuk saat akhirnya Tim Garuda kalah merebut juara dari Malaysia, mereka pun menerimanya. Tanpa sedikitpun mereka berkurang hormat terhadap Gonzales, Firman Utina, Bambang Pamungkas dan kawan-kawan.
Sebuah pertunjukkan yang indah dan sangat edukatif bagi anak-anak muda, khususnya para pelajar di sekolah. Tentang perjuangan yang pantang menyerah, tentang kerjasama tim yang rapi dan kompak, tentang sportifitas yang jujur dan bersahabat, dan tentang nasionalisme yang menggelora di dada. Sepakbola merupakan bagian dari alat perjuangan bangsa, dan sarana pendidikan yang konkret dan efektif bagi pembentukan karakter anak bangsa.
Itu, yang selalu kami harapkan dari sepak bola dan PSSI yang kami cintai. Bukan sebaliknya, sebuah tontonan yang tidak layak menjadi tuntunan, bukan pula menjadi hiburan yang menyehatkan.   Bukan kekisruhan yang selalu engkau suguhkan, wahai para pengurus PSSI dan pegiat sepak bola di tanah air. Bukan pula, tarik-menarik politik, intrik berbalas becik, hingga saling serang antar pribadi yang jauh dari nilai-nilai sportivitas yang seharusnya dikembangkan dalam dunia olahraga. Apalagi, oleh sepakbola, sebuah cabang olah raga yang paling populer se dunia, termasuk di Indonesia.
Kami, tidak mau tahu siapa yang akan menjadi Ketua Umum PSSI atau pengurus sepak bola lainnya. Yang kami tahu, secepatnya mengembalikan sepak bola sebagai sarana hiburan yang menyehatkan, sebagai media pendidikan nasionalisme, dan sebagai alat perjuangan bangsa yang membanggakan.  Yang kami tahu, bagaimana caranya agar standar nilai-nilai normatif yang berlaku universal, pun dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan sepak bola nasional. Termasuk, standar normatif atas calon Ketua Umum PSSI dan pengurus lainnya, sesuai dengan standar kepatutan dan ketentuan peraturan terkait yang berlaku.
Tak lebih, dan tak kurang. PSSI, jadilah lembaga yang mampu menyumbangkan kebanggaan bagi negeri ini. Kami akan bertepuk tangan menggema, tersenyum lebar mengembang, lalu secara serempak dan khusyu’ kami dapat menyanyikan lagu Indonesia Raya,.. HIDUPLAH INDONESIA RAYA .... sembari menepukkan dada : KAMI BANGGA INDONESIA !
Oleh Sri Endang S.
Baca Juga

Komentar