Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Aksi Bom Bunuh Diri, Mengapa Mereka Lakukan ?

Mengapa, mereka mau melakukan aksi bom bunuh diri di negeri ini ? Sebutlah, misalnya Asmar Latin Sani, M. Salik, atau yang paling akhir, entah siapa yang tewas di Masjid Mapolresta Cirebon, saat pelaksanaan Sholat Jum’at kemarin (15/4).  Kalaupun mau menambahkan sebuah pertanyaan, mengapa ia lakukan di saat jama’ah sedang melaksanakan ibadah sholat Jum’ah di sebuah masjid yang suci ? Mungkin, sebuah modus baru di negeri ini, meski di sejumlah negara yang dilanda konflik, seperti Pakistan atau Irak, merupakan suatu hal yang biasa terjadi.
Untuk mereka yang berfikir normal, aksi bunuh diri dengan meledakkan rangkaian bom yang melilit di tubuhnya, merupakan sebuah peristiwa yang tidak habis dimengerti. Mengapa, nyawa yang begitu sangat berharga, dengan begitu mudah untuk diserahkan pada suatu tugas yang entah, menurut kita, bagaimana ujung pangkalnya ? Sebuah fakta yang nyata, bahwa ada logika yang meskipun sulit untuk kita pahami, namun ini telah benar-benar terjadi.
Ada Konflik
Kita boleh melakukan berbagai pendekatan untuk mencoba sekedar memahami fenomena tersebut. Ada konflik yang terjadi, dari sebuah perbedaan pandangan yang mengerucut atas suatu masalah. Khusus di Indonesia, mungkin  lebih merupakan imbas dari konflik besar secara internasional. Misalnya antara kepentingan Barat dan kepentingan sebagian umat Islam yang “berpendirian keras”, dan menganggap aksi kekerasan sebagai jalan pilihan utama yang mungkin untuk ditempuh. Ada “dunia konflik” yang hingga kini belum bisa teratasi.
Mungkin, Indonesia lebih merupakan sebuah wilayah yang dianggap sebagai bagian dari panggung politik konfliktual, di antara kepentingan mereka. Mengingat, akar masalah konflik diduga berpusar di sekitar wilayah Timur Tengah, antara Israel dan Palestina, antara Al-qaida dan Amerika, atau antara pasukan sekutu dan pejuang Taliban. Ketika kebijakan yang diambil oleh pemimpin negeri ini dianggap secara terang-terangan telah memusuhinya, maka pemerintah Indonesia pun dianggap telah menjadi musuh konfliknya juga. Penyerangan terhadap aparat kepolisian, baik yang terjadi di Sumatera Utara, Jawa Tengah, atau yang terakhir di Cirebon, Jawa Barat, diduga merupakan bentuk dari perlawanan atas konflik yang terjadi tersebut. 
Ada Harapan
Adanya konflik, tentu belum menjawab pertanyaan pokok, mengapa ada orang yang mau dengan sukarela menghilangkan nyawanya sendiri demi sebuah tugas tertentu. Tak ada yang melebihi nyawa, sesuatu yang amat berharga bagi diri seorang manusia. Betul. Namun, nyawa hanyalah bagian dari gabungan yang utuh dengan fisik-ragawi seorang manusia, hingga dikatakan sebagai mahluk hidup. Ketika, realitas kehidupan yang dialami kurang bermakna, ada harapan yang jauh dari kenyataan, ada gambar ideal yang jauh dari apa yang terjadi, dan ada kepasrahan yang terkalahkan oleh kekecewaan. Maka, nyawa menjadi sesuatu yang naif bila harus terus utuh bersanding dengan jasad badani.
“Hidup mulia atau mati syahid”, mungkin merupakan salah satu dari bentuk kata-kata yang begitu bermakna untuk ditangkap dan dipahami oleh mereka. Meskipun, masih teramat panjang untuk memberikan penjelasan bahwa kata-kata itu, toh, banyak yang telah disalahpahami. Sederet kata atau kalimat seperti di atas yang memberikan harapan, dan menjanjikan sebuah kemuliaan hidup, menjadi begitu ampuh untuk menjawab kegelisahan, konflik batin dan kekecewaan yang terjadi pada diri seseorang.
Rasionalitas, kemudian menjadi tumpul tatkala menghadapi hembusan angin surga, bahwa ada kehidupan alternatif “di sana” yang begitu menjanjikan dengan penuh kebahagiaan yang tiada tara. Ada wangi surga yang “memabukkan”, hingga dapat hidup betah untuk berlama-lama di sana, tanpa sedikitpun cela dan hina, sebagaimana halnya saat terjadi di kehidupan fana ini. Ada bidadari yang menggiurkan, hingga dapat hidup bak raja yang terlayani sepanjang masa, tanpa ada keluhan dan permintaan bayaran. Mungkinkah, ini telah membius mereka, sehingga dengan segera mengambil sebuah keputusan, bahwa kehidupan disana, menjadi satu-satunya alternatif pilihan yang tak terbantahkan.
Ada Kepentingan
Sangat mungkin, mereka dapat dengan mudah terbius oleh angin surga. Namun, tak terhindarkan pula bahwa pada akhirnya, amat mungkin, faktor penetunya adalah terletak pada mereka yang memiliki motif kepentingan tertentu. Di sini, dapat diduga bahwa tak jarang pula, motif kepentingan itu, justru berada di luar kepentingan mereka yang telah menjadi martir sia-sia. Tak tertutup kemungkinan, ada motif politik kekuasaan, ada motif uang, atau ada unsur dendam yang lama terpendam. Tak terkecuali, ada motif rekayasa. 
Bagaimana mereka yang menjadi martir sia-sia itu dididik dan dilatih. Bagaimana mereka memperoleh dukungan logistik dan finansial. Semuanya, merupakan sebuah keniscayaan bahwa ada kepentingan tertentu yang melayani mereka dan sekaligus mengendalikan mereka dalam melakukan aksinya. Hampir, cukup muskil, jika mereka yang telah berkorban nyawa, harus mereka pula yang menyediakan segalanya untuk keperluan aksi tersebut. Sebuah kenyataan baru, bahwa masih ada sekolompok orang yang begitu tega dan tanpa merasa berdosa sedikitpun, untuk mengorbankan sehelai nyawa yang polos demi sebuah kepentingan pribadi atau kelompok yang keji.
Tentu, kita berharap agar peristiwa aksi bom bunuh diri tidak akan terulang lagi. Namun, ketika tiga hal diatas, yakni ada dunia konflik, ada harapan yang semu, dan ada kepentingan yang keji, sudah barang tentu, harapan itu amat mungkin hanya sekedar tinggal harapan. Kita, harus bersiap-siap lagi untuk mendengar atau menyaksikan peristiwa itu dapat kembali terjadi. Sampai kapankah, hal ini akan terus berulang ? Entahlah, betapa masih banyak dunia ini yang belum dapat kita pahami.
Semoga saja, tidak ! Agar kita masih dapat hidup dan berfikir sebagai manusia yang normal di sebuah negeri yang normal pula. Sekian, dan terima kasih. ***
______________________________
(Oleh Sri Endang Susetiawati)
Baca Juga

Komentar