Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Andai Jadi Ortu Muhammad Syarif, Apa yang Harus Dilakukan ?

Seorang Bapak mengajukan sebuah pertanyaan cukup menarik. Seandainya, kita sendiri berlaku sebagai orang tua Muhammad Syarif (MS), yaitu pelaku aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon), atau menjadi orang tua dari seseorang yang berperilaku sepeti MS, kira-kira apa yang dapat dilakukan oleh orang tua agar dapat mencegah, sehingga peristiwa aksi bom bunuh diri itu tidak terjadi ?
Menurut saya, ini adalah sebuah pertanyaan yang penting dan mendasar. Sebuah pertanyaan yang tidak ingin menjadikan peristiwa berdarah Jum’at lalu itu lewat begitu saja tanpa ada hikmah pembelajaran bagi orang tua yang lain. Sekaligus pula, merupakan sebuah pertanyaan yang tidak dengan mudah untuk dapat dijawab secara memuaskan. Apalagi, bila kita berharap sebuah solusi yang instan, bagaimana agar anak-anak mereka tidak mencontoh seperti MS.
Bersikap keras, menurut saya masih wajar. Namun, ketika seseorang sudah anti dialog, tidak mau berdiskusi, bahkan dengan orang tuanya sendiri, dengan tetap besikeras untuk melakukan tindak kekerasan adalah sebuah masalah yang serius. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Faktor penyebabnya adalah sangat kompleks, atau tidak sederhana, yang berlangsung atau berproses secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama. Karekter yang dimiliki oleh MS, seperti temperamental, keras kepala, kasar, anti dialog, menganggap benar sendiri atau mau menang sendiri adalah sebuah hasil dari proses pengalaman hidupnya selama ini.
Faktor Keluarga
Ada faktor keluarga, dimana amat mungkin MS merasa kurang memperoleh tempat atau sentuhan sebagaimana mestinya sebagai seorang anak. Hubungan yang berjarak dan kurang hangat, amat mungkin juga turut berpengaruh  atas proses pembenatukan karekter anak keempat dari delapan bersaudara tersebut. Dalam proses berikutnya, ketika MS menginjak dewasa, mungkin keluarga dianggap kurang berperan dan berarti dalam membantu dan memfasilitasi dirinya untuk beraktualisasi atau mengejar cita-citanya semula. Keluarga, termasuk orang tuanya sendiri, kemudian menjadi kurang terasakan kehadirannya sebagai institusi paling inti dalam perkembangan MS selanjutnya.
Dalam jangka waktu yang relatif lama, jika masalah keluarga ini tidak memperoleh sebuah penyelesaian atau jalan keluar, maka akan terjadi disfungsi keluarga, dan seorang anak menganggap keluarga sebagai sesuatu yang tidak dibutuhkan lagi, hingga dianggap tidak perlu lagi ada ketaatan, termasuk kepada orang tuanya sendiri. Ini, sudah menjadi masalah awal yang sangat serius bagi seorang anak dan keluarganya. Dalam kasus MS, ayahnya sendiri sudah angkat tangan, setelah berbagai cara telah dicobanya untuk menyadarkan atau membujuk sang anak. Dalam hal tertentu, bahkan ayah MS cenderung membiarkan masalahnya mengalir begitu saja, hingga terjadinya peristiwa yang memalukan dirinya dan seluruh anggota keluarganya.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan di luar keluarga-lah, yang kemudian lebih banyak mempengaruhi perkembangan karakter seorang MS. Ada lingkungan pertemanan, lingkungan kegiatan keagamaan dan lingkungan sosial lainnya. Kesehariannya yang menganggur setelah lulus pendidikan setingkat SMA, membuat MS makin memiliki waktu luang untuk berkiprah di berbagai kegiatan di luar lingkungan keluarga. Maka, dikenal lah ia sebagai aktivis ormas keagamaan, yang salah satu kegiatannya adalah banyak melakukan aksi demonstrasi atas isu-isu yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran Islam. Sebuah ormas yang diduga beraliran keras, kemudian memasukannya sebagai anggota jama’ah, yang makin meneguhkan sikap keras dan gaya kekerasan dalam bersikap dan bertindak. Termasuk bersikap keras kepada ayahnya sendiri, yang dicapnya sebagai kafir.
Statusnya sebagai aktivis ormas Islam yang suka demo inilah yang amat mungkin sangat dinikmati oleh MS, sebagai bagian dari aktualisasi dirinya, termasuk merasakan eksistensi peran di antara sejumlah rekan-rekannya. Tidak menutup kemungkinan pula, bahwa ternyata dari kegiatan tersebut, diduga, ia pun memperoleh keuntungan ekonomis, antara lain dengan dapat bekerja di counter HP si salah satu pusat perbelanjaan di Kota Cirebon. Ditambah lagi, aksinya dalam melakukan razia minuman keras di sejumlah minimarket, yang tak jarang dilakukan cuma sendirian, namun tanpa ada hambatan atau tindak lanjut dari aparat kepolisian, makin membuat dirinya merasa hebat atau jumawa. Inilah, keadaan yang kian memungkinkan MS makin lepas kontrol dari orang tuanya sendiri.
Perlu Dialog, Preventif dan Kuratif
Dari uraian tersebut di atas, setidaknya, jika kita mempunyai seorang anak yang ditengarai telah berperilaku agak mirip seperti MS, maka segeralah lakukan upaya yang bersifat pencegahan, sekaligus upaya rehabilitasi, untuk mengembalikannya pada kondisi yang semula.  Upaya membangun kembali dialog orang tua dengan anak secara hangat dan menyentuh hati, harus menjadi hal yang sangat mutlak untuk dilakukan. Tentu, akan merupakan pekerjaan yang berat dan melelahkan. Namun, percayalah, hal itulah sebenarnya yang sangat dibutuhkan paling awal dan mendasar oleh anak seperti MS. Memang, pasti dibutuhkan kesabaran yang sangat tinggi, dan berbagai upaya yang tidak kenal lelah dari orang tua.
Putuskan Hubungan Dengan Komunitas Tertentu
Upaya memutuskan hubungan si anak dengan komunitas tertentu yang berdampak kurang positif, walau untuk sementara waktu, mungkin layak untuk dicoba dan dilakukan. Hal ini penting, agar anak memperoleh gambaran yang lain bersifat positif tentang sesuatu hal, baik itu paham, ajaran atau pola pertemanan. Ini, juga perlu dilakukan untuk mengembalikan faktor keluarga sebagai faktor yang sangat penting, ikut berperan penting  bagi si anak, khususnya saat hendak mengambil sebuah keputusan atau memenuhi sebuah keinginan tertentu yang berdampak terhadap masa depannya.  
Tidak Boleh Dibiarkan Lama Menganggur
Agaknya, keharusan bahwa anak tidak boleh dibiarkan lama untuk menganggur tanpa kegiatan yang jelas adalah sebuah kenicsayaan. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah sesuatu yang dalam hal tertentu dapat mengarahkan anak berfikir secara positif, dan meskipun tidak menjamin, namun cukup mampu menghindar dari hal-hal yang bersifat negatif dari pergaulan sesama rekan. Membantu anak untuk dapat bekerja, jika memang ingin bekerja, adalah sebuah pilihan lain, agar tidak memberi kesempatan terjadinya pengangguran yang cukup lama dan berpotensi menimbulkan ekses negatif dari lingkungan pergaulan.
Jika Orang Tua Tidak Mampu, Bagaimana ?
Permasalahannya adalah bagaimana seandainya justru orang tua tidak mempunyai kemampuan yang memadai terhadap berbagai hal yang seharusnya dilakukan atas anaknya ? Katakanlah, misalnya orang tua kurang berpengetahuan tentang agama, kurang mampu secara ekonomi, sehingga sulit menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Termasuk, sulit juga dalam membantu anaknya untuk memperoleh pekerjaan. Apa yang sehatusnya dilakukan oleh orang tua ?
Kembali, sebuah masalah klasik, bahwa kemiskinan, untuk banyak kasus, menyebabkan orang tua menjadi sangat terbatas kemampuannya dalam mengarahkan anaknya secara positif, apalagi untuk mengontrol anaknya agar tidak berbuat hal-hal negatif seperti yang dilakukan oleh MS. Pak Dip Sanyoto, teman Kompasianer saya, bahkan sempat mengajukan pertanyaan, apakah orang tua yang demikian, harus melaporkan anaknya sendiri ke pihak berwajib, tatkala menangkap gejala yang mencurigakan telah terjadi pada diri anaknya ?
Jawabannya masih bersifat tentatif. Bisa ya, atau tidak, tergantung banyak faktor yang mempengaruhinya. Seperti, antara lain sejauhmanakah tingkat “keanehan” dari perilaku anaknya yang dianggap sudah tidak dapat ditolerir, bagaimana kondisi anaknya sendiri, apakah akan berdampak kian negatif atau masih mungkin untuk menerima terjadinya perubahan, dan seterusnya. Namun, setidaknya, memang orang tua harus proaktif untuk melakukan berbagai cara apapun, termasuk minta bantuan ke sejumlah tokoh ulama, cendekiawan,  atau tokoh masyarakat, atau bila dianggap perlu, untuk meminta bantuan kepada pihak berwajib sekalipun sebagai pelayan masyarakat.
Perlu Sinergi Berbagai Lembaga / Instansi
Terlepas dari persoalan itu semua, agaknya perlu dipikirkan oleh pemerintah dan tokoh masyarakat untuk dapat mencari solusi, bagaimana seandainya orang tua dari anak yang dicurigai telah berlaku “aneh” itu tidak memiliki kemampuan lagi untuk melakukan kontrol dan pembinaan terhadap anaknya sendiri. Perlu ada solusi, entah itu merevitalisasi fungsi lembaga-lembaga sosial keagamaan, lembaga pemerintahan atau secara umum dapat bersinergi  yang mencakup berbagai lembaga atau instansi terkait dalam sebuah “wadah” khusus yang bertujuan untuk dapat mencegah  terjadinya ekses atas anak-anak yang seperti MS itu. Masalah seperti MS ini sudah sepatutnya ditangani secara lebih proaktif dan komprehensif oleh pemerintah dan tokoh masyarakat, bukan sekedar upaya yang lebih bersifat reaktif dan temporer, seperti yang kesan masyarakat yang selama ini terjadi. Benarkah ?
Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih.

(Oleh Sri Endang Susetiawati)

Baca Juga

Komentar