Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Bertanya Itu Penting, Jangan Dimatikan Oleh UN !


Ini soal Ujian Nasional (UN). Tapi, dari sisi yang lain. UN yang diberitakan telah banyak menimbulkan banyak kecemasan di kalangan siswa, hari ini berakhir untuk tungkat SMP. Bukan hanya siswa, rekan guru pun (termasuk guru, teman Kompasioners) mengalami getahnya, hingga ikut-ikutan pusing, stres, sulit tidur,  hingga terjadi drop secara fisik maupun psikis.
Jadi, lengkap sudah UN bikin masalah, yang manfaatnya sendiri masih banyak yang meragukan. Kecuali, yang sudah pasti, mungkin manfaat bagi mereka yang menjadi pemenang tender proyek percetakan soal UN, serta proyek lainnya yang nilai totalnya hampir 600 Milyar rupiah per tahunnya. 
Justru, UN makin menegaskan sebuah sistem pembelajaran sekolah yang kurang ramah terhadap siswa. UN, secara psikologis telah berhasil membuat siswa seolah tak berdaya, dan bertekuk lutut untuk menyatakan kalah, jauh-jauh hari  sebelum pertandingan dimulai. UN makin menguatkan kesan bahwa sekolah hanyalah tempat untuk menjawab soal-soal belaka bagi siswa. Bukankah dengan UN, siswa lebih terfokuskan pada upaya menjawab soal-soal saja, yang terdiri dari pilihan ganda berupa A,B,C,D dan E.
Jauh dari misi pendidikan sekolah, sebagai lembaga yang hendak mengembangkan watak dan kepribadian yang unggul. UN secara sadar atau tidak sadar telah berhasil makin mematikan daya kreatifitas siswa dalam belajar. Mengapa ? Karena, siswa makin tidak terbiasa untuk mengembangkan kemampuannya melalui kebiasaan bertanya. Bertanya adalah susuatu yang kian langka ditemui di kelas saat pelajaran berlangsung. Kalaupun ada, hanyalah bentuk pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum, normatif dan terkesan formalitas saja. Pertanyaan pun diajukan oleh siswa yang itu-itu saja.
Mengapa siswa harus mengembangkan kebiasaan bertanya ?  Karena dengan membiasakan bertanya, maka siswa akan lebih terangsang untuk berfikir. Siswa akan lebih aktif dalam proses belajar di kelas. Siswa akan lebih mampu merekonstruksi materi pelajaran yang dibaca atau diajarkan oleh gurunya di kelas. Siswa akan lebih menguasai materi pelajaran dengan kerangka berfikir yang lebih utuh dan sistematis. Siswa, akan lebih mampu mengungkapkan kembali apa yang ia pahami dengan menggunakan kata-katanya sendiri, bukan dengan cara copy paste yang membuat pikirannya menjadi jumud, sulit untuk diajak berfikir lagi.
Masih ingat, ada ungkapan “Malu bertanya, sesat dijalan” kemudian ada yang memplesetkan menjadi “Sering bertanya, bikin Malu-maluin” ? .Tentu, bukan dalam konteks ini kita memahami arti bertanya dalam proses pembelajaran di sekolah. Dari pertanyaan, kita akan dapat melihat sejauhmana siswa itu memahami atau menguasai persoalan yang sedang diajarkan. Bahkan, dalam hal tertentu kita dapat mengemukakan bahwa “kecerdasan seseorang bukan terletak dari bagaimana ia mampu menjawab sejumlah soal atau pertanyaan. Sebaliknya, kecerdasan itu, justru lebih dapat dilihat dari apa dan bagaimana seseorang itu bertanya dengan pertanyaan yang cerdas dan bermutu”.
Sebuah kondisi yang saat ini amat langka dapat terjadi, kecuali mungkin pada sekolah-sekolah tertentu yang dianggap telah memiliki standar mutu sekolah yang cukup bagus, dengan dukungan sistem pendidikan sekolah yang memadai. Secara umum, kondisi sekolah saat ini kian menunjukkan  siswa yang malas bertanya. Mungkin, secara agak anekdot, kalau saya jadi siswa, kenapa harus memperbanyak pertanyaan lagi, toh pertanyaan yang lain juga sudah berjubel terus dihadapi, melalui tugas-tugas LKS sehari-hari ? Tentu saja, pengandaian ini belum memasukkan faktor UN, sebagai bentuk soal yang dianggap teramat “menyeramkan” yang membuat siswa kian lengkap menjadi orang yang terbiasa untuk menjawab soal-soal saja.
Siswa tidak diajarkan menjadi orang yang pintar bertanya, yang membuat otaknya terus berfikir dan berkembang lebih cerdas. Bukankah, dalam kehidupannya nanti setelah menjadi dewasa, kebiasaan untuk bertanya, kemudian berfikir untuk berusaha memperoleh jawaban sendiri akan lebih bermanfaat dalam menghadapi berbagai permasalahan yang akan dihadapinya kelak ? Kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah berawal dari kemampuannya dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh dirinya sendiri.
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan


Srie
Baca Juga

Komentar

  1. busrie, busrie.... benar juga kau.......sebaiknya UN tuh, bukan hanya dengan pilihan ganda, OK? trus. jika nilai harian diikutsertakan kelulusan, turunkan nilai standar kelulusannya. dan... yang menjadi standar kelulusan tu sebaiknya akhlaq bukan nilai angka. apalah artinya nilai angka yang besar-besar jika akhirnya jadi koruptorrrrrrrrrrrrrrrrrr! berfikirlah wahai para petinggi negara arahkan kami rakyat Indinesia kepada kejujuran.

    BalasHapus
  2. Hatur nuhun Bu Nunung, UN memang banyak bermasalah.... Salam.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).