Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Buku, Pengalamanku dan Peradaban Bangsa


Pengalaman adalah guru yang terbaik. Bagi saya, buku adalah sumber pengalaman  yang terbaik. Membaca buku berarti ikut mengalami apa yang ditulis oleh para penulis buku. Dengan membaca buku, saya seolah ikut berkenalan dengan sang penulis, mengikuti alur pikirannya, merasakan apa yang dirasakannya, ikut belajar, berguru dan ikut berdiskusi dengannya berdasarkan apa yang ia alami.
Bagi saya, buku adalah mesin waktu yang mampu mengantarkan kita ke arah mana yang kita mau. Ruang dan waktu menjadi seolah tak berarti. Saya bisa bertemu dengan sosok tokoh yang diinginkan, bisa menuju ke tahun kapan peristiwa itu terjadi, dan bisa ke tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung. Saya bisa berselancar hingga ke pelosok ujung bumi, ke tanggal peristiwa hingga manusia baru mengenal tulisan. Bahkan, dengan buku, saya seolah bisa diantarkan kepada Tuhan, untuk bertemu dan berdialog akrab dengan-Nya.  
Singkatnya, buku adalah bagian dari segala yang menjadi kehidupanku. Bukulah yang telah turut membangun sistem berfikir di otakku, merangkai narasi perasaan yang membungkus jiwaku, hingga bukulah yang menjadi sahabat setiaku selama ini. Buku telah menjadi sebagian dari diri saya. Ada “buku” dalam belahan susunan sistem kesadaranku, dalam bagaimana saya berfikir, bersikap dan berpendapat. Ada “buku” dalam setiap bagian gerakan yang mendorong hidup dan kehidupanku. 
Saya teringat, bagaimana pertama kali saya berkenalan dengan buku di saat usia masih balita, kemudian usia bersekolah di TK, SD, SMP hingga SMA. Tak terlupakan, saat saya mulai kuliah telah membeli buku sendiri oleh uang hasil sendiri. Terima kasih Yayasan Supersemar yang telah memberiku kesempatan menerima beasiswa, yang sebagian dipergunakan untuk membeli buku secara teratur tiap bulan. Ya, buku berjudul : Islam Keindonesiaan dan Kemodernan, karya Dr. Nurcholish Madjid alias Cak Nur, Penerbit Mizan, Bandung tahun 1988 adalah buku yang pertama-tama dibeli dari uang beasiswa itu. Semoga Allah SWT memberikan kebaikan yang utama atas almarhum yang telah menjadi guru bagi saya melalui bukunya.
Jangan pernah terfikir sekalipun, bahwa saya membeli buku dari toko buku dengan harga yang lumayan mahal bagi seorang mahasiswa. Saat itu, saya biasa memperoleh buku dengan cara bergerilya, menunggu saat kapan ada acara bazar atau bursa buku murah di gedung atau pelataran kampus terdekat, seperti IKIP (kini UPI), Unpad atau ITB. Saya harus sabar menunggu, saat kapan ada diskon terbesar atas harga jual buku, yang biasanya saya beli di saat akhir-akhir menjelang acara bazar atau bursa buku murah akan ditutup. Itulah, saat yang paling tepat bagi saya untuk mengoleksi beberapa buku yang telah masuk daftar perburuanku untuk beberapa waktu.
Saya berterima kasih pula kepada redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) dan Gala (kini Galamedia) yang telah membantu kemampuanku dalam membeli buku, setelah tulisan artikel saya sesekali dimuatnya.  Untuk sejumlah lembaga, seperti Balai Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat, lembaga dimana saya pernah mendapatkan hadiah sebagai juara lomba Karya Tulis Ilmiah, saya ucapkan terima kasih pula. Karena, dengan semuanya itu saya berkesempatan untuk memperoleh seri buku Tafsir Al-Qur-an karya HAMKA secara lengkap dari juz I – juz XXX.
Terakhir, sudah pasti saya tidak akan pernah melewatkan ucapan terima kasih itu pada murid-muridku di SMA Angkasa Lanud Husein Sastranegara Bandung dan SMA PGII 1 Bandung, serta beberapa orang tuanya yang pernah memberiku hadiah buku. Katanya, sebagai tanda terima kasih seorang murid kepada gurunya yang sangat mencintai buku. Entah, mereka berikan di saat tanggal ulang tahun yang tidak pernah saya rayakan, saat menjelang kenaikan kelas, atau di saat menjelang perpisahan usai kelulusan sekolah. Masih jelas buku-buku kenangan itu, karena di bagian halaman muka, mereka mencantumkan nama dan menuliskan sebait kata yang hingga kini masih sangat berkesan, dan sesekali sungguh mengharukan.
“Ibu, kusampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga atas jasamu membimbingku... tak kan pernah kulupakan.... Roro, anak didikmu”.
 Kini, saya sangat menyetujui. Sangat betul. Buku adalah bagian dari peradaban. “Kemajuan peradaban suatu bangsa” kata Cak Nur, “sangat terkait dengan keberadaan buku”. Sejarah peradaban bangsa-bangsa yang telah maju, lanjut Cak Nur (dalam pengantar buku Islam dan Peradaban Dunia, karya , W. Montgomery Watt, 1995, terjemahan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama), selalu disertai dengan melimpahnya buku di suatu pusat kota yang merupakan pusat peradabannya.  Tak terkecuali, dengan peradaban Yunani dan Romawi, peradaban Arab (Islam) baik yang berpusat di Damaskus, Baghdad, Andalusia, ataupun Istambul, peradaban Barat di Eropa atau di Amerika, peradaban Cina, peradaban India, serta kemajuan Jepang, Korea dan Taiwan saat ini.
Lalu, bagaimana dengan di Indonesia ? Jelas, saya turut berharap agar suatu saat Indonesia akan tampil sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Maka, saya pun berusaha untuk turut menyumbangkannya dalam bentuk buku sederhana. Betapapun, sumbangan itu hanya sebutir pasir kecil dari keseluruhan material bangunan yang dibutuhkan, untuk membangun sebuah peradaban yang bernama Indonesia Raya.....? .***
(Oleh Sri Endang Susetiawati)
Baca Juga

Komentar