Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Indonesia di Mata Rakyatnya ?

-->
Oleh Srie

Banyak cara untuk memandang Indonesia. Ada yang dengan cara bangga, sebuah negeri yang indah dan penuh ragam budaya. Ada pula, dengan cara yang kritis, seolah negeri ini cukup banyak cacat dan perlu banyak pembenahan, dengan sekian jurus solusi yang ditawarkan. Tentu, tak ketinggalan pula, ada yang dengan cara begitu pesimistik, sepertinya tidak ada lagi kebaikan yang dapat dibanggakan, hingga menganggap negeri ini akan menjadi hancur dan gagal.
Pengalaman langsung yang dirasakan, atau sekedar mendengar informasi berita dari berbagai macam media tentang Indonesia akan turut membentuk persepsi dan sikap kita mengenai bagaimana memandang negerinya sendiri. Sebaliknya, amat mudah dan wajar tatkala kita lantas membandingkan dengan keadaan negeri tetangga, atau bahkan negeri yang telah maju sekalipun. Sebuah perilaku yang biasa, manakala di internal menghadapi masalah, maka pandangan ke luar adalah alternatif yang tak terhindarkan.
Beragam Masalah
Ada yang merasa geram, karena ternyata negeri ini dianggap sedang dipimpin oleh pemimpin yang serba lamban. Mereka, ada pula yang sudah tidak sabar untuk segera menggantinya, bahkan bila perlu melalui jalan revolusi, atau ekstra konstitusional sekalipun. Namun, percayalah kebanyakan mereka adalah yang tergolong apatis, masa bodoh, tak mau tahu, mayoritas diam yang menganggap persoalan itu tidak ada kaitan sama sekali secara langsung dengan kehidupannya sehari-hari.
Ada masalah Ujian Nasional (UN) yang setiap tahun menuai kontroversi, masihkah Ujian yang menelan dana hampir Rp 600 Milyar itu layak untuk dipertahankan ? Ada gonjan-ganjing politik mengenai perilaku politisi yang terkesan ngotot hendak membangun “istana baru” –nya sendiri dengan dana sekitar Rp 1,3 Tirlyun , ditengah hiruk piku akrobat pencitraan para politisi lainnya yang seolah-seolah bersikap menolak. Tak terkecuali dengan presiden SBY yang terkesan selalu menjaga image (jaim) sebagai sosok yang bersih dan tetap berpihak pada rakyat.
Ada pembajakan kapal Sinar Kudus dengan 20 ABK-nya, yang seakan menelanjangi kemampuan negara ini dalam menjamin keselamatan warga negaranya dimana pun berada. Hingga, kasus teror bom yang kian marak di sana-sini, dari bom buku, bom cirebon hingga bom yang ditujukan ke gereja-geraja menjelang Paskah hari ini. Kasus bom ini, seolah mencuatkan kembali keteguhan kita sebagai bangsa yang plural, akankah kebhinnekaan sedang terancam oleh sikap sebagian warganya yang antidialog dan intoleran ?
Tergantung, Bagaimana Bersikap dan Memandang
Hiruk pikuk negeri ini, dan carut marut wajah bangsa ini adalah sebuah realitas yang hampir sebagian besarnya adalah nyaris tak terbantahkan. Kuncinya, adalah akan sangat tergantung dengan bagaimana cara kita bersikap dan memandang seluruh hiruk pikuk dan carut marut wajah Indonesia itu dengan kacamata yang wajar dan proporsional. Sejarah bangsa-bangsa yang besar menunjukkan bahwa kemampuan untuk menjadi bangsa yang maju dan disegani di panggung dunia, amat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi, di tengah beragam perbedaan sikap, pandangan dan kepentingan.
Pentingnya Demokrasi
Inilah, pentingnya kita berdemokrasi. Bahwa segala perbedaan yang sangat beragam itu dapat mempunyai peluang untuk terungkap dan memperoleh solusi yang tepat. Masalahnya, kini kita sedang menyaksikan praktek demokrasi yang menurut banyak pihak, sebagai sebuah panggung politik yang memuakkan. Sebuah praktek demokrasi yang mempertunjukkan prilaku politik kekanakan dan sarat kepentingan kelompok belaka, dengan berbasa-basi atas nama kepentingan rakyat.
Sebuah praktek demokrasi yang belum mampu menunjukkan efektifitasnya dalam memberantas korupsi, dan belum mampu menegakkan hukum yang dapat memenuhi rasa keadilan rakyat. Hingga, hingga praktek demokrasi yang ternyata belum terkait sama sekali dengan efek peningkatan kesejahteraan rakyat, yang secara langsung dapat dinikmati oleh mereka, rakyat kecil miskin dalam kehidupannya sehari-hari. Demokrasi, masih mempertontonkan praktek perebutan akses kekuasaan dan ekonomi oleh segelintir elit partai, atau bahkan segelintir keluarga politisi yang memperkokoh politik dinasti.
Rakyat Masa Bodoh, Pemimpin Perlu Merespon
Bersikap masa bodoh terhadap semua permasalahan di atas, memang pilihan yang paling mudah dilakukan. Sebuah sikap, yang pada hakikatnya adalah sebuah bentuk protes terhadap keadaan yang sama sekali tidak dikehendaki, namun mereka menganggap belum melihat secercah harapanpun, bahwa negeri ini akan membaik dalam waktu dekat. Sebuah sikap, yang sangat layak untuk diperhatikan dengan serius oleh para pemimpin di negeri ini, oleh Presiden dan para pembantunya, oleh para politisi, para pemimpin pejabat di daerah, para pegawai negeri, dan para pengambil keputusan di manapun dan di level manapun yang  terkait dengan kepntingan hidup rakyat banyak.
Perlu ada kesungguhan dari mereka, untuk mau mendengar dan menanggapinya dengan sikap yang lebih simpatik, dan dilanjutkan dengan langkah-langkah yang konkret, tidak hanya berhenti sekedar berbasa-basi. Tentu, saat ini bukan saatnya lagi bagi mereka, para pemimpin dan pejabat negeri, untuk bersuka ria dalam berbasa-basi, dan untuk sekedar pencitraan memoles diri. Kini, rakyat telah lama untuk menunggu dan memberikan toleransi secara sabar dengan tetap diam, dan menahan diri. Sampai kapankah, kira-kira rakyat akan mampu bertahan ?
Indonesia, Bangsa Besar dan Potensial
Sebuah negeri berpenduduk ke-4 terbesar di dunia, memang sebuah negeri yang teramat besar untuk didekati dengan cara-cara yang teramat sederhana. Sebuah bangsa yang menempati wilayah yang sangat luas, hingga menutupi luasnya wilayah Eropa, dari kota London di Inggris, hingga kota Moskow di Rusia. Sebuah bangsa yang kini menduduki peringkat ke-16 besar dunia, dilihat dari ekonomi Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan asumsi yang stabil seperti saat ini saja, konon, Indonesia diramalkan akan masuk pada peringkat 5 (lima) besar ekonomi dunia, pada sekitar 20 tahun yang akan datang.
Sebuah bangsa yang sangat potensial dan luar biasa, yang kaya akan sumber daya alam, berbagai jenis sumber energi (minyak, gas, batu bara, panas bumi, air, dll), serta sumber daya manusia yang besar, lebih dari 230 juta orang. Sebuah bangsa yang baru “menjadi”  tak lebih dari 66 tahun saja. Dari usia yang masih singkat itu, 25 tahun bangsa ini dihabiskan untuk konsolidasi, bahkan masih disibukkan untuk merebut tanah pertiwinya sendiri (Irian Jaya atau Papua) dari genggaman penjajah Belanda. 30 tahun kemudian, bangsa ini disibukkan untuk membangun stabilitas di tengah wajah bangsa yang terus bergolak, untuk dapat memenuhi isi perut seluruh warganya yang lapar, dan membuka kesempatan untuk mengenyam pendidikan secara masal dan merata bagi warganya yang masih banyak buta huruf dan berpendidikan rendah.
Betapapun, saat itu ada banyak hal yang harus dikorbankan, seperti hak politik, demokrasi dan hak asasi manusia yang terpasung dan terkekang. Namun, hasilnya adalah melahirkan jutaan anak muda yang  mampu mengenyam hingga pendidikan tinggi, dan secara historis telah berhasil “memakan” penguasa yang telah memfasilitasinya. Kaum terpelajar, para mahasiswa, laksana sebuah anak sejarah yang telah menerkam orang tuanya sendiri, yang merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang tak terhindarkan.
Kini, 13 Tahun di Era Reformasi
Kini, koreksi itu telah terjadi, baru berlangsung sekitar 13 tahun sejak terjadi reformasi. Sebuah bangsa yang baru bangkit kembali dari keadaannya yang tertatih-tatih saat krisis moneter, sekaligus krisis politik yang dahsyat telah menghantamnya. Kini, kita baru bangun, untuk mengais-ngais sisa-sisa warisan bangsa yang masih ada, dan dipacu untuk segera mengejar ketertinggalannya. Di tengah suasana eforia demokrasi dan gegap gempitanya perpolitikkan yang sangat atraktif sekali.  
Kini, usia Indonesia hampir 66 tahun tahun merdeka, 22 tahun mempertahankan keutuhan wilayah, 31 tahun mengurus perut dan keamanan dalam negeri, serta 13 tahun membiarkan mulut bicara sebebas-bebasnya. Memang, masih belum sebanding dengan usia negara-negara besar yang sepadan, seperti AS, misalnya yang memerlukan waktu hampir 200 tahun untuk menjadi bangsa yang benar-benar maju. Namun, dapat dipastikan bahwa rakyat tidak akan memperhitungkannya, kecuali hanya terbatas pada kapan kebutuhannya dapat dipenuhi untuk saat sekarang ini juga.
 Memang, untuk menjadi bangsa yang besar dan maju, sangat diperlukan kesabaran.  Namun, sekaligus pula, perlu segera melakukan berbagai percepatan, agar negeri ini tidak terkesan semakin tertinggal. Sampai kapan, rakyat akan bisa terus bersabar ? Kita, sebagai bagian dari Indonesia dapat untuk menjawabnya.... Bagaimana, menurut pendapat Anda? *** [Srie]

Baca Juga

Komentar